MUI Lampung: Haram Hukumnya Kampanye di Masjid

Perang Lawan Narkoba Jangan Bergantung Pada Pemerintah dan Aparat Hukum

Khairudin Tahmid, Ketua MUI Provinsi Lampung (tengah).

BANDARLAMPUNG – PADA pemilihan calon gubernur/wakil gubernur Lampung pada 27 Juni 2018, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung menilai kampanye di tempat ibadah merupakan tindakan yang tak beretika dan haram.

Khairudin Tahmid, Ketua MUI Provinsi Lampung menjelaskan pihak yang mengunakan agama sebagai alat untuk kepentingan pribadi atau kelompak atau mempolitisasi agama itu tidak beretika.

Baca Juga:  MUI Lampung Bagikan 5000 Paket Sembako

“Kampanye berkedok agama itu soal etika. Apalagi sampai menggunakan agama sebagai alat politisasi itu tidak boleh,” kata Khairudin, Selasa (6/3/2018).

Tempat ibadah seperti masjid semestinya tidak dijadikan tempat untuk menyampaikan hal yang mengandung muatan politik praktis (kampanye).

“Masjid itu untuk beribadah, bukan untuk kampanye. Haram hukumnya kampanye di masjid,” kata dia.

Baca Juga:  Ketua MUI Lampung Imbau Jaga Persatuan dan Kesatuan

Ia berharap, agar tidak ada lagi para kandidat atau tim pemenangan paslon gubernur–wakil gubernur yang menggunakan sarana ibadah sebagai tempat untuk berkampanye.

“Kita minta hal ini jangan sampai dilakukan lagi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Majelis Taklim (MT) Rahmat Hidayat besutan Eva Dwiana sekaligus istri calon gubernur Herman HN, beberapa kali diduga melakukan pelanggaran aturan kampanye dalam pengajian akbar di Masjid Al Furkon Kota Bandar Lampung, dan masjid di Kota Metro. (ZN/IH)

Baca Juga:  Unila dan MUI Lampung Jalin Kerjasama

Kampanye di Masjid MUI Lampung

Posting Terkait