Napi Kabur Pasti Ada Yang Bermain

SEJAK Jumat (18/9/2020) petang, ada berita yang cukup menghebohkan bagi dunia penegakan hukum di negeri ini. Yaitu kaburnya seorang narapidana bernama Cai Changpan alias Cai Ji Fan.

Napi berusia 53 tahun warga negara Tiongkok ini mendekam di Lapas Kelas I Tangerang setelah divonis hukuman mati karena terbukti sebagai bandar narkoba pada 2017 silam.

Napi Cai Ji Fan berhasil kabur dari lapas dengan cara membobol tembok kamar tahanannya yang menembus ke gorong-gorong di luar kompleks lapas dan kemudian menghilang.

Ironisnya, peristiwa kaburnya napi bos narkoba yang terjadi sejak Senin (14/9/2020) lalu itu baru diketahui publik pada hari Jumat kemarin. Bahkan Kapolres Tangerang, Kombes Pol Sugeng Harianto, sampai Jumat siang kemarin pun terkaget-kaget saat disampaikan kabar adanya napi bos narkoba yang melarikan diri dari Lapas Kelas I Tangerang.

Kalapas Jumadi dalam berbagai info yang saya ikuti, memang membenarkan adanya kasus tersebut. Namun “melemparkan” persoalannya pada Ditjen Pemasyarakatan. Pimpinan tertinggi dalam urusan penjara di Tanah Air memang telah menurunkan tim untuk menyelidiki kasus ini.

Tapi ada kesan kuat: memang ada yang ditutup-tutupi. Seperti pernyataan Kalapas Kelas I Tangerang, Jumadi, yang dengan yakinnya menyatakan jika tak ada anak buahnya yang terlibat dalam kaburnya Cai Ji Fan tersebut.

Masyarakat awam tentu akan berasumsi sama dengan saya bahwa tak mungkin napi -apalagi dengan hukuman mati seperti Cai Ji Fan- bisa kabur tanpa ada oknum petugas lapas yang bermain.
Asumsi itu sangat masuk akal. Mengapa? Karena sesuai standar operasional prosedur (SOP) di lapas maupun rumah tahanan, sangatlah mustahil seorang napi bisa kabur hanya dengan usahanya sendiri. Dipastikan terjadi kerja sama.
Baik itu oleh sesama napi yang ada dalam satu sel maupun dengan oknum pegawai atau sipir.

Apalagi bila menelaah cara kabur Cai Ji Fan dengan cara membobol tembok penjara, tentu membutuhkan kerja sama. Baik dalam pengadaan peralatannya maupun pengamanan saat proses pengerjaan pembobolan tembok dilakukan.

Belum lagi telah tersedianya “denah” gorong-gorong yang tepat dibalik tembok. Termasuk penghambatan air gorong-gorong yang tampak sekali sengaja dilakukan guna memuluskan upaya melarikan diri.

Apalagi bila ditambah telah adanya sarana transportasi yang menunggu munculnya Cai Jin Fan dari gorong-gorong, untuk kemudian melarikannya ke satu tempat yang pasti telah disiapkan sebelumnya.

Sungguh tidak masuk akal bila dikatakan aksi pembobolan tembok penjara tersebut akibat kelengahan sipir. Karena secara rutin dilakukan pergantian petugas penjagaan dan dimulai dengan pengecekan di setiap ruangan sel. Bukan hanya jumlah penghuni namun juga kondisi ruangan sel.

Biasanya pelaksanaan apel napi di selnya masing-masing dilakukan beberapa kali dalam satu hari. Yaitu pukul 07.00 WIB, pukul 13.00 WIB, dan pukul 19.00 WIB. Itu yang pasti dilakukan. Belum lagi khusus malam hari dipastikan petugas penjagaan atau sipir akan beberapa kali melakukan pengecekan.

Pengamanan di lapas sesungguhnya sudah sangat ideal. Secara logika akan sangat sulit seorang napi melarikan diri.
Apalagi, napi dengan hukuman tinggi -baik itu seumur hidup ataupun hukuman mati- dipastikan mendapat perhatian ekstra dari para sipir. Karena napi dengan hukuman maksimal semacam ini acapkali sering berulah.

Itu sebabnya, membaca kaburnya bos narkoba Cai Ji Fan dari Lapas Kelas I Tangerang yang terkesan sangat “gampang” -dan seakan penuh pemakluman-, saya menilai telah terjadi “kerja sama yang baik” antar berbagai pihak; Cai Ji Fan, napi satu selnya, oknum sipir, dan pihak lain yang menyiapkan sarana transportasi selepas Cai Ji Fan muncul melalui gorong-gorong, pun tentunya pendanaan yang dibutuhkan untuk proyek melarikan diri ini.

Jika tim Ditjen PAS beserta Kanwil Kemenkumham Banten tampak lamban dalam menyelidiki kasus ini, bisa dimaklumi. Karena sesungguhnya mereka lebih tahu bahwa tidak mungkin napi berkelas bos narkoba -apalagi WNA- bisa membobol penjara jika tidak ada oknum pegawai di lapas yang bermain.
Persoalannya: Bakalkah oknum yang bermain itu ditemukan dan disanksi dengan hukuman maksimal? Atau akhirnya justru dicarikan “jalan damai” karena besarnya “uang bebas” Cai Ji Fan yang digelontorkan jaringan narkobanya?

Apapun nanti keputusan Dirjen PAS dalam soal ini, yang pasti Cai Ji Fan sudah menghilang dan saya pesimis dia akan bisa ditangkap lagi. Karena dengan kekuatan uang narkobanya, dipastikan jaringan Tiongkok yang bermain di negeri ini akan memberikan perlindungan maksimal.

Akhirnya, kita semua harus semakin menyadari bahwa jaringan narkobalah satu-satunya kekuatan yang bisa mengobok-obok penjara di negeri ini. Sangat ironis memang. Namun inilah faktanya. (*)

Dalem Tehang

Penulis: pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Bandar Lampung.

Posting Terkait