Nostalgia Saat Bimtek Di BumDes Cibodas

?????????????????????????????????????????????????????????

Oleh : Gati Susanto

Semilirnya angin pegunungan menyelimuti kami serombongan saat menginjakkan kaki di wilayah perbatasan Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di desa Cibodas untuk melakukan Bimtek terkait pengelolaan Bumdes. Kami memilih melakukan studi banding atau bimtek di daerah ini, karena Cibodas merupakan daerah percontohan dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dengan asset milyaran rupiah.

Kantor yang berdiri megah itu selain diwarnai kesibukan para pengelola Bumdes, juga selalu nampak ratusan peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) atau pelatihan pengelolaan Bumdes bagi aparatur desa dari berbagai wilayah di indonesia.

Sesampainya di Cibodas kamipun terkesima menyaksikan berbagai usaha yang telah dimiliki Bumdes tersebut. Dan usaha ini terbukti mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah itu sendiri. Seperti, peningkatan ekonomi warga, pendapatan desa untuk PAD-nya.

Karena Bumdes ini telah memiliki tiga jenis usaha yakni, unit pengolahan air bersih, gedung serba guna dan pengolahan 10 unit kios desa dengan memberlakukan sistem sewa kepada warga. Maka tak heran jika Bumdes tersebut memiliki asset puluhan miliar rupiah.

Dengan pengembangan tersebut Bumdes telah mampu menyumbang PAD bernilai puluhan juta rupiah per bulan ke desa, dan masyarakatnya juga makmur. Maka wajar, jika berkat perkembangannya Bumdes ini menjadi contoh di tingkat Jawa Barat maupun nasional dan mendapat dukungan dari kementerian PDTT.

Meski Desa Cibodas merupak wilayah pedesaan yang sudah menjadi perkotaan, namun tetap menjaga nilai-nilai tradisi, seperti sikap gotong royong yang tidak pudar. Maka para pengunjung merasa nyaman menikmati destinasi wisata yang ada di sana karena nilai nilai tradisinya tidak tergerus oleh modernisasi zaman. Sikap gotong-royong masyarakat dan ke kompakannya terbukti mampu mengatasi persoalan-persoalan, seperti listrik, infrastruktur jalan dan ketersediaan air bersih.

Pantauan kami di lapangan hampir seluruh mata pencarian masyarakat Cibodas berprofesi sebagai petani, mereka menanam sayur mayur. Karena sayur mayur yang aada di desa itu memiliki 93 jenis. Sehingga mampu memenuhi kebutuhan di sejumlah supermarket dan dikirim ke negeri Cina, Taiwan, selain dikirim khusus lokal, misalnya Jakarta.

Selain bertani mereka juga ada yang berprofesi sebagai peternak yakni peternakan sapi perah dengan sistem manual.

Disela-sela kegiatan kami pun sesekali memasuki kawasan destinasi wisata yang ada di Cibodas, sambil menikmati manisnya Peyeum, dan bayam goring serta sale sembari menghirup wanginga bunga kaktus dan sukulen. Serta lucunya kelinci yang menggemaskan.

Pertanyaannya mampukah kita mengelola Bumdes seperti yang telah dilakukan oleh pengurus Bumdes  di Cibodas? Penulis optimis, sepanjang ada kemauan yang dilandasi kejujuran semua permasalahan akan bisa diatasi.

Namun yang perlu diperhatikan adalah: Pertama,  Kita harus melihat potensi yang kita miliki dan memiliki peluang besar dalam usaha di desa kita. Fasilitas, sarana dan Prasarana pendukung , Sumber Daya Alam dan juga sumber daya manusia (SDM).

Kedua, pengawasan, karena sudah menjadi rahasia umum berbagai bantuan yang selama ini digelontorkan ke kelompok-kelompok baik itu kelompok tani, peternak maupun koperasi tidak semuanya tepat sasaran dan berhasil. Masih banyak kita temui bantuan tersebut disalahgunakan, karena masih ada kelompok fiktif, bantuan fiktif, bantuan yang tidak tepat sasaran.

Ketiga, dukungan semua pihak, baik itu masyarakat maupun instansi terkait harus bersama-sama mengawasi jalannya roda kegiatan Bumdes. Namun jangan pula ada intervensi, karena mundurnya usaha ini mayoritas para pengelola Bumdes tidak sepenuhnya diberikan kewenangan untuk mengelola usaha tersebut.

Jika semua pihak memiliki komitmen dan saling memahami tupoksinya maka penulis pastikan Bumdes akan mengalami kemajuan pesat, seperti yang dimiliki desa Cibodas. Semoga….(*).

Posting Terkait