Opini: Bung Karno dan Hatta Membaca Omnibus Law

Oleh: Iwan Nurdin
Pemerhati Sosial Politik Indonesia

Di gerbang gedung Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, pengunjung akan disambut lukisan Bung Karno dan Bung Hatta. Wajar pikirku ada lukisan beliau berdua. Bukankah kedua pendiri bangsa ini gemar membaca, dan menulis. Selain kedua tokoh ini, Gusdur adalah presiden yang dikenal suka membaca buku. Barangkali semua presiden gemar membaca. Barangkali.

Awalnya, saya membatin melihat lukisan ini. Mengapa pula Bung Karno mesti di atas dan Bung Hatta di bawah. Setelah kulihat dengan seksama, Bung Hatta di depan dan Bung Karno di belakang. Cukup adil, bukan? Atas bawah, depan belakang secara bergantian. Menempatkan keduanya sejajar. Jelang menjelang.

Sejarah berkisah tentang keduanya, dan memang sejarah selalu punya kisah untuk diceritakan kembali kepada kita. Bung Hatta tahun 1928 di dalam pembelaan di Pengadilan Belanda yang berjudul Indonesia Merdeka, Hatta mengatakan, “Biarlah Indonesia tenggelam ke dasar lautan kalau tetap dikuasai penjajah.” Bung Karno dalam pembelaan di muka pengadilan di Bandung pada 1930 juga menelanjangi penjajahan. Indonesia Menggugat, demikian judul pembelaannya.

Dari pidato pembelaan keduanya, kita mendapat penerangan bahwa exploitasi manusia atas manusia adalah inti penjajahan.

Karena itu, tentu tidak masuk akal jika kemerdekaan bangsa masih saja mempertahankan situasi tersebut.

Pikiran kemudian melayang-layang.
Membayangkan bagaimana jika kedua pendiri bangsa ini diminta untuk memeriksa Omnibus Law RUU Cipta Kerja. Kira-kira apa reaksi keduanya. Mustahil mereka tertawa bangga dengan kejeniusan perumusnya yang begitu dahsyat dapat merumuskan tujuan Indonesia merdeka. Saya yakin sebaliknya. Kedua tokoh ini marah besar dan mungkin memaki. Betapa cerobohnya membangun argumen menciptakan lapangan kerja dengan logika semacam itu dalam sebuah RUU. Kelak, akan menjadi perangkat hukum Indonesia merdeka.

Ahh, Bung Karno mungkin lebih marah, pikirku. Setidaknya kepada kalian yang menggebu-gebu mengatakan sebagai penerus ajarannya, dan karena itu selalu mewajibkan diri sendiri memasang foto beliau dalam setiap acara. “Sontoloyo”, kecamnya.

Bung Hatta lain lagi. Dengan lembut, seperti lazimnya beliau, kepada sekelompok yang setuju pengesahan Omnibus Law ia berkata, “Saudara-saudara sebaiknya menemui Bu Susi. Supaya tahu rasanya tenggelam ke dasar lautan.”

Posting Terkait