OPINI: Menghadapi Krisis Ekonomi di Desa

Iwan Nurdin, Ketua Dewan Nasional Konsorsium Pembaruan Agraria

 

Krisis virus ini menjadi krisis ekonomi, akankah jadi krisis politik? Kita berharap tidak. Semoga kegaduhan politik dalam debat-debat saja.

Jika kita lihat, kebijakan telah masuk ke wilayah menghadapi krisis ekonomi. Paket obat lesu ekonomi mulai disiapkan. Disuntikkan. Listrik ada yang gratis ada yang didiskon, supaya uang lebihnya bisa untuk konsumsi yang menggerakkan ekonomi. Paket lainnya kita bisa baca.

Ya, ekonomi akan berat, meski dollar naik, ia tidak serupa dengan 1998. Saat itu, nelayan, petani perkebunan, dan komoditas ekspor berbahagia. Seember udang galah seharga sepeda motor akibat dollar naik. Juga cerita-cerita unik petani lada, cengkeh dan kopi yang pergi ke sungai untuk mandi sambil membawa mobil baru. Tidak akan begitu. Dunia semuanya sedang krisis, barang ekspor komoditas perkebunan akan jatuh sebab permintaan melemah.

Baca Juga:  Pondok Cina Depok

Petani kebun dan wilayah-wilayah monokultur di luar Jawa yang mendapatkan pasokan beras dan sembako lainnya dari luar wilayahnya berpitensi mengalami kesulitan besar. Selain pasokan tentu harga bisa melambung.

Nelayan dan petambak rakyat juga perlu disiapkan langkah besar. Ikan ditangkap, namun sebagian besar konsumen beralih ke sumber protein lain yang lebih terjangkau. Namanya juga krisis. Rumus lama, rakyat menurunkan konsumsi ikan beralih ke tempe, telur atau lainnya yang lebih murah. Menjaga kran ekspor tetap stabil nampaknya akan sulit. Semua negara sedang krisis. Padahal harga sembako bisa jadi telah melambung ke kampung-kampung nelayan sementara kantong menipis. Paket ekonomi khusus nelayan wajib disiapkan.

Baca Juga:  Dunia Baru Di Hari Buruh

Petani padi kita baru akan memasuki masa panen, sebaiknya pemerintah segera menaikkan harga pembelian gabah petani dan segera menyerap dengan harga baik. Supaya ada uang untuk mengerakkan ekonomi warga petani dalam menghadapi krisis yang telah datang.

Buruh tani dan petani gurem, segerakan masuk data dalam penerima BLT, Rastra dll. Mensos harus perlihatkan kesigapannya.

Setelah panen seharusnya pemerintah sudah tahu dengan cepat stok pangan cukup atau tidak. Sebab produsen beras dunia mungkin menahan beras mereka.

Selain itu, para pekerja kota yang masih punya kampung akan pulang. Tak bisa ditahan jika krisis ekonomi datang. Begitulah budaya kita. Sebagian akan pulang kampung kalau di rantau tak ada masa depan.

Baca Juga:  Gandhi, Samin dan Semen

Sebagai catatan, paket ekonomi untuk rakyat semacam ini menjadi dua kali lipat lebih susah karena bersamaan dengan penanganan wabah Corona. Bisa jadi dalam situasi tersebut eskalasi ketidakpuasan kurvanya akan naik terus.

Karena itu, politik di level nasional mesti jeli. Tertib. Api dalam sekam yang dikipasi oleh internal sendiri mesti dipahami agar berhenti.

Misalnya, memaksakan Omnibus Law, mengeluarkan Napi koruptor, naik gaji aparat atau rangkaian statemen tak terkordinir para menteri yang sok kuasa dalam menangani Corona adalah benalu benalu yang mesti dibersihkan segera.

Sebab Ketidak Percayaan adalah sumber akumulasi krisis berlipat. Sumber ketidakpercayaan biasanya karena anggapan inkompetensi sebab apa yang dilakukan berbeda dengan yang dikomunikasikan kepada publik.

Iwan Nurdin Konsorsium Pembaruan Agraria KPA

Posting Terkait