Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Misbahul Munir (IST)

Oleh Misbahul Munir

Sekjen Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan

 

SETIAP tanggal 1 Juni bangsa ini memperingati hari lahir Pancasila. Peringatan hari lahir Pancasila ini penting dilakukan guna menguatkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila harus senantiasa menjadi cara hidup masyarakat Indonesia, terutama bagi para generasi muda yang akan menjadi tonggak perjuangan bangsa. Generasi muda kita harus paham betul isi dan kandungan nilai-nilai luhur Pancasila. Nilai-nilai tersebut sebagaimana yang telah tertulis pada lima butir Pancasila.

Pertama, nilai ketuhanan. Nilai ketuhanan merupakan induk dari semua nilai yang terkandung di dalam Pancasila. Siapa saja yang hidup di Indonesia, maka harus menjadi manusia yang berketuhanan. Karena manusia yang berketuhanan adalah manusia yang mengedepankan sifat-sifat tuhan, salah satunya adalah sifat welas asih dan cinta terhadap perdamaian dan menghargai perbedaan sehingga kehidupan yang toleran bisa tercipta di tengah kondisi bangsa yang majemuk. Dan ini yang harus ditanamkan pada generai muda kita sebagai calon pemimpin di masa yang akan datang.

Yudi Latif dalam “Revolusi Pancasila (2015)” mengungkapkan konsepsi ketuhanan dalam hubungan agama dan negara berpola toleransi kembar (twin toleration). Konsepsi ini jauh melampaui sekularisasi (pemisahan agama dan negara) ataupun Islamisasi (penyatuan agama dan negara). Melalui pola toleransi kembar ini agama menjaga jarak dengan negara dengan tidak menjadikan negara agama, namun tetap menyokong negara dengan moralitas keagamaan. Begitu juga sebaliknya, negara menjaga jarak dengan agama namun tetap melindungi dan memfasilitasi kehidupan umat beragama.

Baca Juga:  Understanding Inclusive of Pancasila

Nilai ketuhanan Pancasila bersifat humanistis, nasionalis, demokratis dan berkeadilan sosial yang menunjukkan sifat non-teokratis dari sisi sebagai dasar negara, serta inspirasi nilai-nilai kebaikan publik pada sisi agama. Maka dari itu, prinsip ideologi keagamaan Pancasila adalah prinsip-prinsip agama publik (public religion), yang mana nilai-nilai keagamaan dijadikan penguat publik dalam mencapai kehidupan yang beradab.

 

Kedua, nilai kemanusiaan. Nilai kemanusiaan ini perlu untuk di hadirkan pada kehidupan kebangsaan. Di mana permasalahan bangsa kita saat ini adalah banyak manusia yang tidak bisa memanusiakan manusia. Sehingga sering kali timbul ketidakadilah sesama manusia. Jika sesama manusia bisa memanusikan manusia, maka yang tercipta adalah kehidupan yang adil dan beradab. Jadi pendidikan untuk memanusiakan manusia inilah yang harus kita kuatkan agar bisa menciptakan kehidupan kebangsaan yang adil dan beradab.

Baca Juga:  Jokowi’s Challange Protecting Pancasila from The Intervention of Leftish and Rightish in Indonesia

Ketiga, nilai persatuan. Nilai inilah yang senentiasa harus kita jaga. Bahwa bangsa ini dibangun di atas keragaman, kebhinekaan dan kemajemukan. Namun, kita harus tetap menjunjung tinggi nilai kesatuan. Semboyan “Bhineka Tunggal Ika” harus senantiasa kita dengungkan. Jika belakangan ini bermunculan golongan yang mencoba untuk memecah persatuan kita, maka melalui tulisan ini saya tegaskan, bahwa saya sebagai generasi muda tidak akan pernah gentar dalam menjaga kesatuan dan persatuan bangsa.

Keempat, nilai demokrasi (musyawarah-mufakat). Bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini terdapat banyak perbedaan yang mencolok. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Maka dalam perbedaan tersebut terdapat pelajaran untuk saling menghargai antar sesama. Perbedaan yang kemudian bisa menciptakan permusyawarahan untuk mencapai mufakat. Sehingga akan tercipta kehidupan berdemokrasi yang harmonis dan yang bisa menghargai sesama.

Dan yang kelima adalah nilai keadilan. Nilai keadilan ini merupakan muara dari semua nilai Pancasila. Yaitu agar terciptanya keadilan bagi semua, bukan hanya bagi segelintir golongan. Jika setiap kita mampu berbuat adil, setidaknya adil pada diri sendiri, maka keadilan sosial pada sesama kemungkinan besar akan bisa tercapai.

Baca Juga:  Pemerintah Provinsi Lampung melaksanakan Upacara Peringatan Hari Pancasila

Yudi Latif dalam “Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila (2015)” menegaskan sila kelima Pancasila, merupakan konsepsi Indonesia sebagai bentuk negara kesejahteraan (welfare state). Idealnya dari konsepsi ini menjadi praksis kelembagaan politik dari praktik keadilan sosial dalam kehidupan ekonomi. Maka, prinsip utama dari sila terakhir Pancasila ini pada akhirnya bermuara pada prinsip keadilan hingga terciptanya suatu tatanan kehidupan masyarakat makmur dan sejahtera.

Pada akhirnya, nilai-nilai Pancasila harus senantiasa kita jaga, kita rawat dan kita lestarikan. Basis-basis pembinaan dan pendidikan Pancasila harus kita kuatkan, utamanya untuk para generasi muda penerus bangsa. Agar kiranya nilai-nilai luhur Pancasila tetap terjaga.

Penguatan dalam pembinaan dan pendidikan Pancasila bertujuan agar seluruh rakyat Indonesia mampu menerjemahkan visi, misi dan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Namun bila nyatanya kita sebagai rakyat Indonesia malah ragu, atau bahkan tidak mampu dalam menerjemahkan visi, misi dan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, saya khawatir jika bangsa ini akan mengalami pembusukan secara internal. Wallahu a’lam bish-shawab! []

Pancasila

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan