Pemkot Bandarlampung Tak Perduli Warganya Menderita Gizi Buruk

BANDARLAMPUNG,-Pemerintah Kota Bandarlapung (Pemkot) hanya terfokus dengan pembangunan saja, diduga tidak peduli akan kesehatan masyarakat, Pasalnya, masih ada saja balita yang terkena gizi buruk.

Terbukti, sejak tahun 2016 Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandarlampung setempat, belum berhasil menyembuhkan dua bayi di bawah lima tahun (Balita) dari penyakit gizi buruk.

Menurut Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Bandarlampung,Abu Bakar, mengatakan, dua penderita gizi buruk itu berdomisili di Kelurahan Beringinraya Kecamatan Kemiling dan Kelurahan Segalamider, Tanjungkarang Barat.

Dia mengatakan, kasus gizi buruk di Kelurahan Beringinraya diderita pasien sejak lahir sedangkan untuk kasus di Segalamider sejak anak tersebut menginjak usia satu tahun lebih. Namun Abu bakar enggan mengungkapkan identitas kedua pasien gizi buruk itu ke media.

“Dugaan sementara kasus gizi buruk ini dipicu kurangnya asupan gizi yang diberikan orang tuanya kepada si bayi, karena kehidupannya tergolong tidak mampu,” kata Abu Bakar, Selasa (5/12).

Menurut dia, selama ini Dinkes melalui puskesmas setempat telah berupaya menyembuhkan dua penderita gizi buruk tersebut, tapi hasilnya belum maksimal.

Balita gizi buruk di Kemiling sudah pernah dirawat di Puskesmas Rawat Inap (PRI) Kemiling, sedangkan penderita di Segalamider Tanjungkarang Barat pernah dirujuk ke Rumah Sakit Abdul Moeloek (RSUDAM).

“Khusus penderita gizi buruk di Segalamider mendapat perawatan lebih intensif dan pernah dirujuk ke RSUDAM karena disertai penyakit lain,” jelasnya.

Dua pasien itu, sambung Abu Bakar hingga kini belum berhasil disembuhkan karena orang tua pasien dinilai kurang memperhatikan asupan gizi kepada anaknya.

Namun, untuk menangani dua pasien itu Dinkes memberikan makanan tambahan berupa susu formula 75 dan snack mineral mix.

Menurut dia, khusus penanganan kasus gizi buruk, Dinkes telah menempatkan satu personil untuk setiap puskesmas yang tersebar di Kota Bandarlampung.

Anggota Komisi IV DPRD Bandarlampung Imam Santoso mengaku kaget jika masih ada warga di kota ini yang masih menderita gizi buruk.

Terlebih, kejadiannya sudah lebih dari satu tahun dan belum berhasil disembuhkan. “Artinya, Dinkes Kota Bandarlampung kurang maksimal dalam menangani pasien gizi buruk itu,” katanya.

Ketua Fraksi Gerindra itu mengatakan, adanya kasus ini menjadi preseden buruk bagi pemkot Bandarlampung. Sebab, ditengah gemerlapnya pembangunan infrastruktur, ternyata masih ada warganya yang menderita gizi buruk.

“Seharusnya penanganan bagi pasien gizi buruk lebih maksimal, apalagi di Dinkes memang ada pos anggaran khusus untuk itu,” tegasnya.

Dalam kondisi itu, Imam mengaku kecewa dengan kinerja Dinkes setempat yang dinilai gagal dalam memberantas kasus gizi buruk.

Terlebih, ditahun 2017 Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung telah menggelontorkan anggaran khusus untuk penanganan kasus gizi buruk.

“Tahun ini kan ada anggaran penanganan kasus gizi buruk di Dinkes tapi saya lupa berapa nilainya,” kata dia.

Atas dasar itu, dia berharap Dinkes segera melakukan aksi jemput bola guna menyembuhkan dua pasien gizi buruk itu.

“Itu kasus dari tahun 2016 mengapa sampai tahun 2017 belum terselesaikan. Kami mendesak Dinkes untuk segera menuntaskan kasus ini,” pungkasnya. (RD)

2,303 kali dilihat, 20 kali dilihat hari ini

Berita Terkait

Leave a Comment