Penggiat Literasi Satukan Gerakan Lampung Cerdas

Udo Z Karzi

BANDARLAMPUNG-Perwakilan dari simpul Taman Bacaan Masyarakat, Pejuang Perpustakaan, dan hampir semua stakeholder yang menggerakan literasi di Provinsi Lampung hadir di kantor Aura Publishing, Selasa (18/07). Mereka mengancah serta membuat berbagai terobosan agar visi masyarakat cerdas segera terwujud.

Pertemuan yang difasilitasi Ikhsan, owner Percetakan dan Penerbitan Aura Publishing itu, berusaha merumuskan berbagai strategi agar gerakan literasi tidak terhenti pada penyediaan taman bacaan, namun lebih meningkat dengan mulai menerbitkan buku dan mempublis tulisan-tulisan dari para penggerak literasi di Lampung.

Udo Z Karzi, salah satu budayawan dan sastrawan Lampung menjelaskan, gerakan literasi mesti dimulai dari membaca, menulis, dan menerbitkan buku-buku sastra. “Literary lebih sering diarahkan untuk karya sastar. Saya lebih suka menyebut ‘Lampung Membaca’ atau ‘Gerakan Menulis’ dibanding gerakan literasi,” kata penulis novel berbahasa Lampung yang baru meraih reward Sastra Rancage beberapa waktu lalu itu.

Diskusi yang dimoderatori novelis muda berbakat dari Lampung, Yoga Pratama, mulai serius mengancah penyatuan visi agar simpul-simpul gerakan literasi yang selama ini terkesan sendiri-sendiri, lebih bersinergis dan saling membantu. “Ke depan, saling bertukar buku juga bukan perkara sulit lagi, seiring sudah ada kargo buku gratis yang dicanangkan Presiden RI,” ujar dia.

Baca Juga:  Banalisasi Korupsi

Sementara pendiri Armada Pustaka, Sugeng Haryono berkisah, sebelum dirinya dipanggil Presiden Joko Widodo, keluhan seputar mahalnya harga pengiriman buku sering menjadi kendala distribusi bahan bacaan. “Alhamdulillah pasca pertemuan itu, Presiden menggratiskan pengiriman buku setiap tanggal 17 pada setiap bulan,” kata dia.

Menariknya, sebelum disampaikan Sugeng pada Presiden Joko Widodo yang sempat menaiki sepeda motor pustaka miliknya, persoalan itu pernah diutarakan Sugeng Haryono di forum diskusi literasi bersamaan dengan lounching kantor Aura Publishing yang baru, yang terletak di kawasan UIN Radin Intan II 2016 lalu.

Sementara Amalia dari bagian perpustakaan UIN Radin Intan menjelaskan, proses memasyarakatkan buku dan menggerakan agar tumbuh anak-anak yang gemar membaca, memang bukan perkara mudah. Salah satu kendala utamanya adalah keterbatasan buku, termasuk di dalamnya, kesiapan perpustakaan untuk melayani semua masyarakat. “Terutama yang ada di pedalaman, selain butuh biaya besar, sedikit sekali yang punya jiwa pejuang seperti teman-teman di TMB dan Armada Pustaka, namun kita harus terus bergerak untuk berbuat semampunya,” kata dia.

Baca Juga:  Banalisasi Korupsi

Senada dikatakan Eko Prasetyo dari TBM Waykanan. Hadir berdua dengan mengendarai sepeda motor, Eko dan kawannya banyak bercerita seputar suka duka selama aktif menggeluti dunia TBM. Bahkan, ketika membagikan buku pada masyarakat di pedalaman, Eko berkisah masih menemukan beberapa sekolah yang kondisinya sangat memprihatinkan. “Jangankan bisa membaca buku, serius belajar bagi anak-anak di pedalaman masih jadi kendala,” ujar dia.

Sementara dari Jendela Lampung, Arief berkisah. Jangankan di Waykanan, di Bandarlampung sendiri, masih ada anak-anak yang dilarang belajar oleh orang tuanya. “Kami pernah dimarah orang tua anak-anak karena menyita waktu bekerja mereka,” kata Arief yang aktif memberikan pelayanan lewat Jendela Lampung, khususnya pada masyarakat yang tinggal di pinggiran Kota Bandarlampung itu.

Baca Juga:  Banalisasi Korupsi

Hadir juga Forum Lingkar Pena, Tubabar Mengajar dan Tri Sujarwo Songha yang berbagi pengalaman selama menjadi guru di Papua. Selama di Papua, Tri juga sering membuat taman bacaan dimana anak-anak sebenarnya bukan tidak gemar membaca, melainkan kurangnya fasilitas dan ketersediaan buku bagi mereka.

“Di Tulangbawang Barat, sebelum saya masuk perpustakaan sekolah itu terkunci dan posisinya lebih nyaman dijadikan tempat bermain petak umpet dibanding jadi tempat membaca, namun setelah kita ubah ruangannya, ternyata anak-anak sangat antusias membaca sampai mengeluh, semua bukunya sudah dibaca,” kata Riyan membenarkan pendapat Tri Sujarwo.

Diskusi tentang literasi yang dimulai dari jam 15.00 sampai adzan maghrib itu, menghasilkan beberapa kesepakatan. Antara lain, kesiapan para penggiat literasi untuk mulai berbagi pengalaman yang kemudian dibukukan dan diterbitkan Aura Publishing. (*)

Udo Z Karzi

Posting Terkait