Perempuan Tanggamus Menderita di Papua

TANGAMUS – Hebohkan jagat maya  khususnya para pemilik akun instagram sejak awal Maret mulai  dikejutkan postingan dari elfinnatryas dan akun gebby.vesta_ yang memposting foto dan keterangan tentang kondisi kesehatan Zainani.

Dari beberapa foto memperlihatkan kondisi Zainani tengah terbaring di tempat tidur dengan untaian selang infus dan oksigen. Dari semua postingan foto disertakan satu foto KTP milik Zainani berikut alamatnya di Tanggamus.

Lantas inti keterangan beberapa kali postingan meminta semua pihak peduli pada kondisi Zainani. Dia adalah karyawan baru pada tempat hiburan di Papua Barat, namun belum sempat bekerja sudah alami sakit berat dan harus dirawat.

Lantaran dirinya belum sempat kerja, pihak tempat kerja tidak sepenuhnya bisa menanggung perawatan. Hingga beberapa teman baru Zainani mengambil langkah manusiawi dengan memasukannya di rumah sakit, dan biaya ditanggung secara patungan.

Disebutkan juga upaya pemulangan ke Solo atau Tanggamus namun ditolak pihak bandara karena kondisi kesehatannya menghawatirkan dalam penerbangan.

Akhirnya rekan-rekan Zainani memutuskan untuk tetap merawatnya sampai sehat agar bisa diterbangkan ke tempat asal. Untuk itu mereka butuh uluran tangan dari pihak manapun. Bagi donatur disediakan nomor rekening BCA

8480140797 atas nama Elfinna Tryasti Nurul.

Saat dihubungi Elfinna mengaku sudah berat untuk menanggung biaya perawatan. “Saya jujur udah berat tanggung biaya rumah sakitnya. Ini karena saya share aja ada bantuan sedikit-sedikit,” ujarnya.

Ia pun mengaku, Zainani sudah dirawat di tiga rumah sakit berbeda, yakni Rumah Sakit Mutiara, Sorong, lalu kedua di RSAL Oetojo, Sorong, dan kini yang ketiga yakni di RSUD Selebi Solu, Sorong.

Untuk kedua rumah sakit pertama sudah habiskan Rp 20 juta, dan yang ketiga belum diketahui berapa biayanya. “Saya juga sudah membuat surat pernyataan di polres di sini kalau ada hal terburuk terhadap Zainani maka kami  yang akan mengurusnya di sini,” ujar Elfinna.

Ia mengaku, pihak rumah sakit belum mau menjelaskan sakit yang diderita Zainani. Pihak rumah sakit hanya mau buka ke keluarga. Sementara ini yang dijelaskan hanya infeksi di dalam organ dalam dan sudah menjalar ke tenggorokan serta otak.

Efrinna juga mengaku, tempat kerjanya yang akan jadi tempat kerja Zainani ada di Jalan Yan Mamoribo Rufei Kota Sorong, Papua. Di tempat itu dirinya hanya sebagai pengelola bukan pemilik tempat tersebut.

Baca Juga:  BPKD Tanggamus Minta Pemprov Bantu Zainani

Viral di media sosial instagram tentang kondisi Zainani asal Pekon Balak, Kecamatan Wonosobo di Sorong, Papua ternyata dibenarkan pihak keluarga.

Rumah keluarga Zainani bertembok sederhana berwarna hijau tua, berhalaman pas-pasan dan berpagar tembok berhias ornamen setengah jadi. Rumah itu ditinggali Salha ibu dari Zainani, dan tiga remaja laki-laki anak Zainani.

Salha hanya bisa pasrah saat menceritakan anak tunggalnya Zainani yang kini dalam kondisi sakit parah di Sorong, Papua Barat. “Kira-kira temannya telpon bulan Januari, dia bilang, Zainani sudah tidak bisa bicara katanya sudah koma, jadi saya tidak tahu bagaimana sekarang dia,” ujar Salha.

Sambil mengusap air matanya, perempuan berusia 56 itu mengaku, sebelum itu Zainani pernah telpon jika dirinya dirawat di rumah sakit. Dia mengeluh sakit kepala terus-menerus, dan rambutnya rontok.

“Terus saya suruh pulang ke sini, tapi saat mau naik pesawat katanya dia kumat, kejang-kejang, akhirnya tidak boleh naik pesawat,” terang Salha.

Zainani adalah tulang punggung keluarga, setelah suami Salha almarhum Zainal Abidin meninggal dunia dua tahun lalu. Status Zainani adalah janda dengan tiga putra yakni Jepri (17), Joni Wijaya (14), dan Zahroni (12). Ketiganya masih sekolah di tingkat SMA, SMP dan SD.

“Setelah dia sakit saya tidak bisa apa-apa, tidak punya uang, ini saja sudah tidak makan. Sebab uang hanya ditransfer dari dia. Jadi sekarang sudah tidak punya apa-apa tidak mungkin mau berangkat ke Papua,” kata Salha, sambil menghirup napas dalam.

Sebelum sakit Zainani rutin menstranfer Rp 1 juta untuk hidup empat jiwa. Tapi kalau anak-anaknya butuh biaya sekolah dia bisa mengirim Rp 2-3 juta. Dan sejak Januari sampai sekarang tidak lagi kiriman uang darinya. “Makanya kami bisa tidak makan, anak-anaknya juga tidak ada lagi ongkos ke sekolah,” tambah Salha.

Kini dia dan tiga cucunya bisa bertahan hidup atas bantuan dari saudara-saudara lainnya. Namun itu juga tidak bisa diandalkan sebab mereka miliki keluarga masing-masing.

“Saya juga tidak kerja, dulunya pernah memecah batu di sungai bawah, tapi sudah lama tidak. Apalagi saya sekarang juga sakit-sakitan dari pinggang sampai kaki kiri,” kata Salha.

Baca Juga:  Zainani Akhirnya Meninggal Dunia di Papua

Tentang keberadaan Zainani di Papua, Salha mengaku terkejut, sebab akhir 2017, dia pamit kembali kerja di Solo, Jawa Tengah, tempat kerjanya yang sudah dijalani beberapa tahun.

Di sana Zainani kerja di jasa distribusi barang yang memilah tujuan barang untuk dikirimkan. “Tahu-tahu ditelpon sudah di Papua dan sakit, saya juga bingung kenapa tidak di Solo lagi. Padahal di sana dia betah katanya seperti kampung sendiri,” kata Salha.

Viral di media sosial instagram tentang kondisi Zainani asal Pekon Balak, Kecamatan Wonosobo di Sorong, Papua ternyata dibenarkan pihak keluarga.

Rumah keluarga Zainani bertembok sederhana berwarna hijau tua, berhalaman pas-pasan dan berpagar tembok berhias ornamen setengah jadi. Rumah itu ditinggali Salha ibu dari Zainani, dan tiga remaja laki-laki anak Zainani.

Salha hanya bisa pasrah saat menceritakan anak tunggalnya Zainani yang kini dalam kondisi sakit parah di Sorong, Papua Barat. “Kira-kira temannya telpon bulan Januari, dia bilang, Zainani sudah tidak bisa bicara katanya sudah koma, jadi saya tidak tahu bagaimana sekarang dia,” ujar Salha.

Sambil mengusap air matanya, perempuan berusia 56 itu mengaku, sebelum itu Zainani pernah telpon jika dirinya dirawat di rumah sakit. Dia mengeluh sakit kepala terus-menerus, dan rambutnya rontok.

“Terus saya suruh pulang ke sini, tapi saat mau naik pesawat katanya dia kumat, kejang-kejang, akhirnya tidak boleh naik pesawat,” terang Salha.

Zainani adalah tulang punggung keluarga, setelah suami Salha almarhum Zainal Abidin meninggal dunia dua tahun lalu. Status Zainani adalah janda dengan tiga putra yakni Jepri (17), Joni Wijaya (14), dan Zahroni (12). Ketiganya masih sekolah di tingkat SMA, SMP dan SD.

“Setelah dia sakit saya tidak bisa apa-apa, tidak punya uang, ini saja sudah tidak makan. Sebab uang hanya ditransfer dari dia. Jadi sekarang sudah tidak punya apa-apa tidak mungkin mau berangkat ke Papua,” kata Salha, sambil menghirup napas dalam.

Sebelum sakit Zainani rutin menstranfer Rp1 juta untuk hidup empat jiwa. Tapi kalau anak-anaknya butuh biaya sekolah dia bisa mengirim Rp 2-3 juta. Dan sejak Januari sampai sekarang tidak lagi kiriman uang darinya. “Makanya kami bisa tidak makan, anak-anaknya juga tidak ada lagi ongkos ke sekolah,” tambah Salha.

Baca Juga:  Zainani Butuh Bantuan Pemkab Tanggamus

Kini dia dan tiga cucunya bisa bertahan hidup atas bantuan dari saudara-saudara lainnya. Namun itu juga tidak bisa diandalkan sebab mereka miliki keluarga masing-masing.

“Saya juga tidak kerja, dulunya pernah memecah batu di sungai bawah, tapi sudah lama tidak. Apalagi saya sekarang juga sakit-sakitan dari pinggang sampai kaki kiri,” kata Salha.

Tentang keberadaan Zainani di Papua, Salha mengaku terkejut, sebab akhir 2017, dia pamit kembali kerja di Solo, Jawa Tengah, tempat kerjanya yang sudah dijalani beberapa tahun.

Di sana Zainani kerja di jasa distribusi barang yang memilah tujuan barang untuk dikirimkan. “Tahu-tahu ditelpon sudah di Papua dan sakit, saya juga bingung kenapa tidak di Solo lagi. Padahal di sana dia betah katanya seperti kampung sendiri,” kata Salha.

Menurut Kepala Pekon Balak, Syakhroni, pihaknya sudah mengetahui informasi Zainani dari masyarakat. Namun ia mengaku belum mengajukan proposal ke Dinas Sosial Tanggamus. “Belum kita ajukan, tapi jika harus disuruh mengajukan proposal maka akan kita buat dan kita ajukan, agar keluarga Zainani bisa mendapat bantuan dari pemerintah,” katanya.

Menurut Sekretaris Kabupaten Tanggamus Andi Wijaya, pemkab akan mempelajari dahulu masalah ini. Sebab dikhawatirkan ini sebuah penipuan. Maka untuk sementara belum ada putusan, menunggu sampai semuanya benar.

“Sebenarnya kalau keputusan untuk membantu, kami siap kapan pun, asalkan itu benar. Maka kami pelajari dulu sambil menunggu laporan dari pihak pekon dan camat. Jika mereka menyatakan itu benar maka bisa diupayakan,”jelasnya, Jumat (16/3/2018).

Sementara menurut Kadiskes Tanggamus Sukisno cukup berat apabila membuatkan keanggotaan Zainani agar dapatkan bantuan BPJS dalam kondisi jarak jauh. Terlebih saat ini sudah kritis dan santunan BPJS tidak bisa langsung diaktifkan untuk klaim, butuh waktu satu bulan sejak pembuatan.

“Kalau menurut kami, lebih baik minta pada pihak yang mempekerjakannya, sebab sebagai pekerja wajib mendapatkan jaminan kesehatan tenaga kerja,” pungkasnya. (SB/CD)

Perempuan Tanggamus Menderita di Papua Zainani

Posting Terkait