Periksa Jaksa Kejari Kotabumi, Siapa dan Bagaimana Jejak Karir Aswas Kejati Lampung?

Periksa Jaksa Kejari Kotabumi, Siapa dan Bagaimana Jejak Karir Aswas Kejati Lampung?

Yusnani. Foto: Ilustrasi.

Bandar Lampung – Asisten Pengawasan [Aswas] pada Kejaksaan Tinggi [Kejati] Provinsi Lampung melakukan pemeriksaan kepada para jaksa yang bertugas di Kejaksaan Negeri [Kejari] Kotabumi, Kamis lalu, 25 Juni 2020. Pemeriksaan itu berangkat dari adanya aduan yang dilayangkan Lembaga Swadaya Masyarakat [LSM]. Pengadunya adalah LSM-DPD Lembaga Independen Pemantau Anggaran Negara [LIPAN] Lampung Utara.

Pada hari itu, pengadu dan teradu diperiksa di gedung Aswas pada Kejati Provinsi Lampung. Selaku pengadu adalah ketua dari LSM tersebut: Mintaria Gunadi, teradu: Kepala Seksi Intelijen Hafidz, Kasubsi Bidang Intelijen Kejari Kotabumi David Andi, dan jaksa pada bidang intelijen lainnya yakni Donny Amando dan Renaldo Ramadhan.

Menurut Mintaria Gunadi, aduan itu berangkat dari adanya dugaan penerimaan uang ke Hafidz berdasarkan peristiwa persidangan kasus korupsi Bupati Lampung Utara non aktif Agung Ilmu Mangkunegara di Pengadilan Negeri Tipikor Tanjungkarang. Nilai uang yang diduga mengalir ke Hafidz bernilai Rp150 juta. Diberikan oleh seorang terdakwa pada kasus tersebut, Kadis Perdagangan Lampung Utara Wan Hendri. [Kronologis lengkapnya baca di sini]

Mintaria Gunadi menyatakan aduan tersebut dilayangkannya ke sejumlah pihak, baik itu ke Kejaksaan Agung dan Kejati Provinsi Lampung. Diketahui, pemeriksaan itu dilakukan oleh bidang pengawasan. Saat ini bidang tersebut dipimpin oleh Yusnani.

Dari penelusuran Fajar Sumatera, sebelum ke Kejati Provinsi Lampung, Yusnani berkarir di sejumlah tempat. Salah satunya, dia pernah menjabat sebagai Kepala Kejari Belawan di Provinsi Sumatera Utara. Setelah dari sana, dia menjadi Aswas.

Dilihat dari Detik.com, Yusnani bersama jaksa lainnya menjalani proses pergeserannya di Aula Diklat Kejaksaan Jalan Kejaksaan, Medan, Senin lalu, 4 September 2019. Yang menggantikan posisinya Yusnani adalah Haryono, kala itu.

Yusnani sempat diperiksa oleh Jaksa Muda Pengawas [Jamwas] Kejaksaan Agung bersama dengan bawahannya 16 Januari 2019 silam. Pemeriksaan itu berangkat dari dugaan adanya pemerasan kepada seorang tersangka bernama Flora. Nilai uang yang diduga diperas dari Flora Simbolon, senilai Rp1 miliar.

Perkara yang menerpa Flora Simbolon karena diduga terlibat dalam kasus korupsi paket pekerjaan di PDAM Tirtanadi. Dalam keterangan Flora Simbolong, ia menyatakan dirinya juga turut dimintai keterangan oleh Jamwas Kejagung.

Dalam dugaan kasus tersebut, Jaksa Penuntut Umum [JPU] pada Kejari Belawan menetapkan dua tersangka yakni Suhairi dan Flora Simbolon. Lantaran hanyalah menjabat sebagai Staff Keuangan di KSO Promits LJU, Flora pun mengajukan permohonan praperadilan atas status penetapan tersangka dan penahanannya. Hakim tunggal PN Medan yang menangani permohonan tersebut mengabulkan prapid yang diajukan Flora melalui tim penasehat hukumnya.

Namun, JPU dari Kejari Belawan tetap membacakan surat dakwaan terhadap Flora di persidangan pemeriksaan pokok perkara. Atas kejadian tersebut, tim penasehat hukum Flora Simbolon mengadukan Kajari Belawan, Yusnani bersama anak buahnya yakni Kepala Seksi [Kasi] Pidana Khusus [Pidsus] Nurdiono ke Bareskrim Mabes Polri. Tak hanya keduanya, ada 7 jaksa lain yang juga dilaporkan serta seorang akuntan publik bernama Hernold F Makawimbang. (Ricardo Hutabarat)

Kejati Lampung KPK

Posting Terkait