Personal Effect: ‘Kau Memang Berbeda, Aku Juga’

Riki Antoni, “Lady Lala Keliling Jogjakarta”, Fiber, 20cm x 20cm x 5cm, 2018. (IST)

PERSONAL Effect pameran Project Preeet #2 dikurapreeetori Jajang R Kawentar diselenggarakan di Gallery Tembi Rumah Budaya Jalan Parangtritis Km 8.4 Sewon, Bantul, Yogyakarta, 14 Maret-2 April 2018. Pembukaan Rabu, 14 Maret 2018, pukul 19.30 Wib.

Jajang mengatakan, pemeran ini menghadirkan karya-karya Topreeet Ahmad Arif Affandi, Ambar Pranasmara, Andi Ramdani Bamboo, Dadang Imawan, Dadah Subagja, Deden FG, Jatmiko Wahono, Mami Kato, Paul Agustian, Ratih Alsaira, Riki Antoni, dan Sukri Budi Dharma.

“Komposisi Topreeet setiap event Pameran Project Preeet akan tetap dinamis, tidak selalu sama. Hal ini terkait dengan kesanggupan melewati setiap tahap project yang menemui tatangan. Setiap tantangan adalah berbagai hal persoalan pribadi. Namun demikian proses ini bagian dari pengalaman dan proses belajar tiada henti,” kata Jajang dalam rilis yang diterima Fajar Sumatera, Minggu, 11/3/2018.

Menurut Jajang, apa yang penting dalam Seni Preeet adalah Preeet mengatakan begini: “Kita tidak pikir apa yang orang pikirkan tapi kita berpikir apa yang kita masalahkan.” Oleh karena itu muncul pameran Preeet #2 dengan tema Personal Effect yaitu mengenali barang-barang pribadi dan kenangan-kenangan yang memiliki hubungan emosional lebih intens.

“Pameran ini kelanjutan So Go On Person sebagai tema pada Preeet #1 di Galley SMSR Yogyakarta 25 Nopember 2017 dimaksudkan supaya Topreeet mengenali dan memahami lebih diri masing-masing dalam berkarya. Diharapkan dengan mudah dalam melangkah ke proses Preeet selanjutnya,” ujarnya.

Baca Juga:  Putri Chairil Anwar Buka Pameran Seni Rupa Preeet

Topreeetnya Andi Ramdani Bamboo, Alfairuz Boi, Dadah Subagja, Dadang Imawan, Deden FG, Nurify, Paul Agustian, Riki Antoni, Suhanda Zainal, dan Sukri Budi Dharma. Pada Project Preeet #2 Personal Effect terjadi penyegaran dan perubahan karena absennya beberapa nama Topreeet pada Project Preeet #1 seperti Boi, Nurify dan Suhanda, lalu muncul nama-nama baru seperti Ahmad Arif Affandi, Jatmiko Wahono, Mami Kato, dan Ratih Alsaira.

Untuk kali ini Topreeet diajak bagaimana barang-barang pribadi itu mendapatkan tempat pada kenangan dan menjadi penanda dalam hidup serta menyiratkan estetikanya sehingga dapat menularkan rasa yang mendalam bagi yang melihatnya, memunculkan keingintahuan, mengingatkan sesuatu yang menyakitkan, menyenangkan, religusitas, empati juga simpati. Lebih jauh menginspirasi bagi para produsen produk atau siapa saja yang melihat dan merasakannya.

Sesungguhnya pada Preeet #2 ini kecenderungannya para Topreeet mencipta produk barang baru yang serupa dengan sentuhan berbeda untuk memberikan nilai kenangan pada pruduknya tersebut. Namun demikian itu tidak menjadi patokan karena setiap topreeet memiliki hak utama dalam mencipta sebuah produk karyanya. Hal inilah yang diharapkan, ada interpretasi lain dari apa yang sudah dikonsepkan pada pameran Personal Effect. Tentunya ini akan menunjukkan kepada bagaimana karakter dan kebiasaan cara berpikir dari Topreeetnya.

Diyakini bahwa hasil rekayasa, hasil kloningan bisa menjadi sesuatu yang berbeda, begitupun Preeet #2 dengan tajuk Personal Effect. Satu cetakan satu pabrik dalam waktu bersamaan dicetak, hasilnya bisa saja tidak persis sama. Seorang sutradara, seorang pelukis, seorang juru masak terkadang hasil karyanya ke luar dari harapannya, hanya dirinya yang lebih mengetahuiya, kemungkinan disukai atau tidaknya akan bertemu pada ruang dimana banyak orang menikmati hasilnya.

Baca Juga:  Putri Chairil Anwar Buka Pameran Seni Rupa Preeet

 

Personal Effect Itu?

Barang pribadi terletak pada keseharian dan boleh jadi melekat pada setiap aktifitas atau memiliki kenangan tersendiri, disukai sangat, memiliki nilai lebih dari barang pribadi lainnya yang sejenis. Bisa jadi barang atau benda favorit yang kerap digunakan atau barang yang penting yang digunakan sesekali namun sangat dibutuhkan, pelangkap penampilan yang personal.

Bisa jadi barang tersebut produk pribadi atau produk massal, pabrikan yang kemudian disempurnakan dengan ekspresi personal, bisa jadi bukan berdasarkan kebutuhan berekspresi seniman namun melengkapi kekurangan dari bentuk atau tampilan visual atau perform dari benda tersebut. Hal ini yang akan menunjukkan kepada siapa pemilik barang tersebut atau menampilkan suatu yang menyesuaikan dengan kebutuhan seniman sehingga seniman merasa nyaman menggunakan barang tersebut atau mampu membangkitkan rasa percaya diri karena tampilannya.

Bisa jadi barang-barang itu merupakan kreasi dari barang pabrikan atau berasal dari gagasan pribadi yang bermula dari produk pabrikan atau barang yang diciptakan untuk kebutuhan pribadi. Barang-barang tersebut macam rupa, pakaian, celana dalam, kendaraan bermotor, asbak, sandal, topi, piring, kursi, senjata, tas, atau mungkin justru ada sesuatu barang yang cukup rahasia.

Baca Juga:  Putri Chairil Anwar Buka Pameran Seni Rupa Preeet

 

Mengapa Pesonal Effect ?

Barang-barang pribadi tersebut turut menyumbangkan inspirasi bagi siapapun yang melihat atau mereka yang memiliki kebutuhan barang serupa. Sesederhana apapun atau serumit apapun barang akan menunjukkan nilai keindahan personal dan nilai kepribadian senimannya. Barang-barang yang dimiliki atau diciptakan seniman, merangsang yang melihat untuk melakukan seperti yang dilakukan seniman.

Keinginan pribadi memiliki barang-barang yang punya citarasa pribadi. Seperti yang dilakukan oleh berbagai pabrik yang memproduksi berbagai macam kebutuhan pribadi. Kini lebih spesifik lagi segmentasinya, dibuat limited edition, namun tetap saja massal, meskipun sebagian dengan menambahkan sedikit sentuhan tangan ‘handmade’.

Terkadang konsumen membeli barang pribadi sebetulnya membeli label produk yang membuat harganya menjadi tinggi. Nilai label tersebut dipertaruhkan terhadap kualitas produk. Menyerupai tanda kelas atau ekslusifitasnya, meskipun diproduksi massal. Satu sama lain hanya akan mengenal label produknya, ketimbang mengenal karakter pribadinya. Jadi label produk yang membentuk citra pribadi.

Bukan pribadi yang mencitrakan pada produk barangnya. Pada akhirnya kepentingan konsumen bukan pada kualitas barang namun pada kebutuhan label produk yang membentuk imagenya, kemudian hal inilah yang membuat biasa dan umum.

Pemahaman bahwa barang-barang pribadi akan menjadi lebih bernilai ketika barang tersebut tidak ada duanya dan menunjukkan kepada karakter pribadi tersebut atau lebih dari sekedar itu. Rasa bangga, rasa percaya diri terhadap pilihan seni atau pilihan artistiknya. Kepuasan terhadap tampilan yang berbeda. (*)

896 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Jajang R Kawentar Seni Rupa

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan