Pertamina Banyak Ngeles

Oleh Supendi

KELANGKAAN premium di Lampung terus terjadi namun belum juga ada solusi. Dimana-mana slot pengisian premium SPBU seringkali kosong. Kalaupun tersedia, yang ngantri sudah mengular sampai ke jalan raya. Plang pemberitahuan pun dipasang, isinya selalu bilang kalau premium sedang dalam pengiriman.

Kondisi inipun diakui Sales Eksekutif Pertamina Lampung, Sindhu. Ia bilang, kalau kelangkaan premium disebabkan karena masih banyak masyarakat mampu yang menggunakan BBM subsidi. Bukan seperti tudingan karena dipangkasnya pasokan atau ada permainan.

Menurut dia, Pertamina Lampung hanya menerima premium sesuai dengan yang dialokasikan pemerintah pusat. Pada 2018 ini, Lampung mendapat alokasi BBM subsidi sebanyak 410 ribu kiloliter tahun 2018. Jumlah tersebut harus dibagi secara merata di 145 SPBU yang tersebar di Lampung.

Baca Juga:  Prasangka Herman HN

“Kita tidak menyalurkan lebih atau kurang, tapi pas untuk BBM subsidi, sesuai dengan kuota yang ditugaskan. Himbauan kami kalau punya kendaraan roda empat atau kalangan menengah keatas dimohon sadar diri untuk tidak menggunakan BBM subsidi, sebab masih banyak masyarkat lain yang membutuhkan,” kata dia.

Pernyataan ini berbanding terbalik dengan hasil penelusuran tim BPH Migas beberapa waktu lalu. Anggota Komite BPH Migas Henry Achmad bilang, pihaknya sudah mengecek pasokan premium di Lampung lantaran ada laporan kelangkaan di SPBU. Hasilnya, ditemukan premium di SPBU diborong para pengecer.

“Saya lihat sendiri, pengecer ini membeli di SPBU, mereka di antrian-antriannya membeli dalam jumlah banyak. Dia bukan pemakai atau konsumen. Dia pelangsir atau pengecer,” tegas Henry.

Baca Juga:  SPBU di Lampung Jual Premium ke Pengecer

Pertamina boleh-boleh saja membela diri dengan menuding kalangan menengah atas sebagai biang kerok langkanya premium. Tapi jangan lupa masyarakat sudah pintar dan bisa menilai sendiri kondisi yang terjadi di lapangan. Sudahlah pasokan sedikit, penyalurannya salah sasaran pula.

Sebenarnya, sedari awal, langkah Pertamina meluncurkan BBM jenis pertalite sudah bisa diendus banyak pihak sebagai upaya untuk menghapus keberadaan premium. Tapi biar terkesan elegan dan tak mendapat protes, Pertamina memakai segala cara supaya premium perlahan hilang dari pasaran, tanpa disadari.

Cara paling jitu tentu saja dengan menggeber sosialisasi pemakaian pertalite sejak awal kemunculannya. Pertalite dinilai lebih unggul dan punya kualitas lebih baik dibanding premium meskipun harga jualnya sedikit lebih mahal.

Tapi lama kelamaan strategi promosi itu perlahan berubah. Dengan klaim data meningkatnya konsumsi pertalite dimana-mana, Pertamina pun menambah pasokan. Disisi lain, konsumsi premium justru semakin menurun, sehingga pasokan pun dikurangi.

Baca Juga:  Nafasnya ‘Olahraga’ Pesawaran

Vice President Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito dalam pemaparan kinerja perseroran menjelaskan, berdasarkan data periode Januari-Juli 2016, dari total penjualan gasoline, porsi BBM berkualitas rendah jenis Premium masih mencapai 79,6 persen, kemudian BBM berkualitas tinggi jenis Pertamax series sebesar 11,4 persen dan Pertalite hanya 9 persen.

Namun kondisi berubah drastis di periode berikutnya, selama Januari-Juli 2017, dari penjualan gasoline 18,8 juta kiloliter, porsi Premium merosot menjadi hanya 41,6 persen, sedangkan BBM berkualitas tinggi jenis Pertalite melonjak drastis menjadi 40,6 persen, dan Pertamax series juga meningkat menjadi 17,8 persen.(*)

Ngupi Pai premium langka

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan