Petahana Bakal Turun Panggung

PERKEMBANGAN politik di Lampung menyambut pilkada serentak 2020, sudah mulai memanas. Seiring proses pemberian rekomendasi oleh partai politik bagi para tokoh yang akan mentas di panggung demokrasi 9 Desember nanti.

Dari delapan kabupaten/kota di Lampung yang akan menggelar pilkada, ada enam petahana yang kembali mencalonkan diri. Sedang di dua wilayah lainnya, tidak ada petahana.
Enam daerah yang petahananya kembali maju adalah Bupati Lampung Selatan, Nanang Ermanto, Bupati Pesawaran, Dendi Ramadhana Kaligis, Bupati Pesisir Barat, Agus Istiqlal, Bupati Lampung Tengah, Lukman Djoyosoemarto, Bupati Lampung Timur, Zaiful Bokhari, dan Bupati Way Kanan, Raden Adipati Surya.
Bagaimana posisi para petahana itu menghadapi pilkada nanti? Besarkah peluangnya untuk memperpanjang jabatan, ataukah akan turun dari panggung kekuasaan? Menurut prediksi saya, akan banyak petahana yang mengalami kekalahan alias turun panggung pada pilkada nanti. Mengapa begitu? Kita lihat satu persatu.
Nanang Ermanto menjabat bupati setelah Zainuddin Hasan terjerembab dalam kasus korupsi berjamaah. Tokoh PDI-P ini sesungguhnya memiliki “jiwa kerakyatan” yang sudah amat mengental dan teruji. Dimulai dari kepala desa, anggota DPRD sampai wakil bupati hingga sekarang menjabat bupati. Gaya kepemimpinannya yang “nguwongke”, sebenarnya, sangat tepat dalam penumbuhkembangan suasana demokratis di Lampung Selatan. Namun sayangnya, Nanang baru “dua hari” menjabat bupati, sehingga belum banyak yang bisa ia torehkan untuk dinikmati rakyat kabupaten itu.

Maka wajar, bila mayoritas rakyat Lampung Selatan menilai Nanang belum berbuat apa-apa. Seakan sadar akan telah sempitnya waktu untuk menunjukkan keberpihakannya pada kepentingan rakyat, baru beberapa bulan terakhir ini Nanang tampak menggenjot realisasi berbagai program pembangunan yang langsung bersentuhan dengan rakyat setempat.

Di sisi lain, masih “dibawa-bawanya” nama dia dalam pengembangan kasus korupsi yang menumbangkan Zainuddin Hasan, menjadi nilai minus untuk diri Nanang. Dan dipastikan persoalan ini akan dijadikan “bahan kampanye” bagi lawan-lawan politiknya di pilkada nanti.
Menurut pandangan saya, dijadikannya Pandu Kesuma Dewangsa sebagai pasangan, tidak membawa nilai tambah bagi Nanang di mata rakyat Lampung Selatan. Mengapa? Karena Pandu selama ini tidak banyak diketahui rakyat kiprahnya di kabupaten tersebut. Ia memang politisi, namun dikenalnya di Bandar Lampung.

Nilai lebihnya Pandu mungkin karena ia punya finansial yang cukup banyak. Hal ini yang tidak dimiliki Nanang.
Melihat calon lawan yang “gerot-gerot”, peluang Nanang-Pandu untuk memenangi pilkada 9 Desember nanti, sangat tipis. Pasangan Toni Eka Candra-Antoni Imam adalah pesaing beratnya. Toni sudah beberapa periode menjadi wakil rakyat Lamsel di DPRD Lampung. Pun Antoni Imam yang jiwa kerakyatannya tidak kalah menggurita dengan Nanang.

Memprediksi pertarungan politik di Lamsel memang perlu kecermatan tersendiri. Sebab sangat dinamis. Ditambah partai politik yang ada juga memiliki jaringan relatif merata di semua wilayah.

Dan semakin mendekati hari pencoblosan, dipastikan eskalasi politik akan kian menarik. Mampukah Nanang mempertahankan panggung kekuasaannya? Sepertinya agak sulit. Kecuali memanfaatkan waktu kampanye dengan maksimal dan seluruh tim suksesnya benar-benar tulus ikhlas dalam berjuang.

Bagaimana dengan Pesawaran? Peluang Dendi melanjutkan gengsinya sebagai bupati menghadapi tembok karang yang kokoh.

Mengapa begitu? Pecah “cawan cintanya” dengan Eriawan yang saat ini menjadi wakil bupati, merontokkan kekuatan politik yang ia miliki.
Eriawan dipastikan full power mendukung sang kakak: M. Nasir yang maju bersama Naldi Riana. Langkah Dendi menggusur Eriawan dan menaruhkan Kol purn Marzuki sebagai pendamping, tak mampu mengangkat namanya di mata masyarakat Pesawaran.

Kelemahan Dendi yang dinilai kurang bisa “menyatu” dengan para sesepuh di Pesawaran -dan menganakemaskan kelompok tertentu saja- adalah celah menganga yang akan dimanfaatkan lawan-lawan politiknya.

Peluang Dendi mempertahankan panggungnya lebih terletak pada bagaimana ia mampu “mengalahkann dirinya sendiri”, yaitu dengan lebih banyak mau turun ke bawah dengan gaya kerakyatan.

Bila hanya mengandalkan jaringan birokrasi, Dendi pasti akan tersungkur. Sebab kalangan birokrasi sendiri banyak yang hanya hormat di depan mata. Tak ada penghormatan sebagai ekspresi pengakuan kehebatan kepemimpinan yang berkepribadian.

Namun sebagai politisi murni, tentu Dendi telah memiliki siasat-siasat tersendiri untuk mempertahankan panggung kekuasaannya. Tentu ia tak ingin dikalahkan begitu saja. Apalagi kehilangan panggung jabatan di usia yang relatif masih muda.

Sedangkan petahana di Pesisir Barat, Agus Istiqlal, akan mendapat lawan sepadan. Yaitu pasangan Pieter-Fahrurazi. Atau kalau jadi: pasangan Kherlani-Erlina.

Memang, elektabilitas dan popularitas Agus Istiqlal tak perlu diragukan lagi. Rakyat setempat pun bisa merasakan berbagai kemajuan di kabupaten pecahan Lampung Barat tersebut.
Namun “kemunculan” Pieter yang lebih menonjolkan mesin politik PDIP, tak bisa dianggap remeh. Agus Istiqlal harus siap “berdarah-darah” jika tak mau turun panggung. Dan melihat karakternya yang penuh gelora semangat, Agus Istiqlal pasti telah memiliki berbagai trik untuk mempertahankan panggungnya selama ini.

Sementara posisi Lukman Djoyosoemarto sebagai petahana di Lampung Tengah, juga menghadapi lawan yang tak boleh dianggap remeh.
Pasangan Musa Ahmad-Ardito adalah lawan yang sangat kuat. Musa Ahmad selama ini diakui sebagai figur yang banyak memiliki kedekatan dengan berbagai kalangan. Beberapa kali mentas di perhelatan politik pun, tokoh berlatar belakang NU ini tetap menunjukkan bila “pasukannya” sangat setia.

Ditambah dengan hadirnya Ardito, dipastikan Musa Ahmad bertambah kekuatannya. Putra Pairin ini mempunyai kualitas dan gaya tersendiri dalam mendekati rakyat. Dipastikan Lukman dengan pasangannya: Ilyas Hayani, mesti berjuang ekstra keras. Tanpa itu, panggung akan beralih ke Musa-Ardito.

Bagaimana dengan petahana Lampung Timur, Zaiful Bokhari? Harus diakui, kans Zaiful cukup kecil untuk melanjutkan jabatan bupati yang disandangnya setelah Nunik menjadi wakil gubernur.

Zaiful belum menunjukkan kualitasnya sebagai bupati dengan realisasi program bervisi terobosan yang bisa langsung dirasakan masyarakat.

Di sisi lain, kembalinya Yusron maju pilkada setelah dua kali kalah, tentu akan menjadi lawan yang tak bisa dianggap enteng. Sudah pasti, Yusran telah belajar dari dua kekalahannya terdahulu. Dan, sekarang saatnya menang.

Menghadapi pilkada ini, tampaknya, Zaiful masih setengah hati. Sehingga belum bisa dibaca bagaimana ia memainkan situasi untuk dirinya mempertahankan panggung jabatannya.
Lain lagi di Way Kanan. Sikap politik Adipati yang tetap menggandeng Edward Antony, sangat tepat. Politisi muda ini paham benar jika pintu masuk buat lawan, sesungguhnya, berasal dari dalam. Oleh karena itu ia tak mau berspekulasi. Tetap dengan Edward Antony menyambut pilkada 2020 ini.
Selama menjalankan tugas sebagai bupati, Adipati juga dinilai sukses besar. Kedekatan dengan masyarakat pun relatif bagus.

Kepemimpinannya pun dinilai aspiratif dan merangkul semua kalangan secara maksimal. Sehingga sulit untuk mengalahkan pasangan ideal ini. Adipati-Edwar adalah pasangan yang diprediksi akan kembali bekerja untuk rakyat Way Kanan 5 tahun ke depan.
Terlepas dari itu semua, dalam dunia politik segala kemungkinan bisa terjadi. Dan sepertinya, yang terjadi pada pilkada 9 Desember nanti, akan banyak petahana yang turun panggung. Benarkah begitu? Biar waktu yang menjawabnya. (*)

Dalem Tehang

Penulis: pemerhati masalah sosial politik, tinggal di Bandarlampung.

Posting Terkait