Petani Cetar

Ngupi Pai

Oleh: Riko Firmansyah

Sepertinya kurang patut bila panen raya selalu dilakukan pejabat (bupati, wali kota, gubernur, menteri, atau presiden). Sejak kapan mereka mengolah lahannya, pembibitan, pengadaan pupuk, dan perawatan?

Proses awal penanaman oleh petani yang jauh dari gempita seremoni panen raya tadi sama sekali tak dirasakan oleh para pejabat itu.

Bagaimana rasa cemas petani ketika pupuk langka, waswasnya mereka saat irigasi kering. Serta, frustasi tak terbilang ketika hamparan sawah digrogoti tikus dan wereng.

Tiba-tiba para pejabat itu datang dengan senyum sumbringah sambil menunjukan satu tandan padi yang gemuk-gemuk di tengah sawah. Lengkap dengan topi caping, sepatu bot, dan dipayungi para ajudan.

Baca Juga:  Herman HN Bikin Gusar PDIP

Bila tak mencapai target—-pemerintah fokus pada tujuh komoditas (padi, jagung, kedelai, cabai, bawang, daging sapi, dan tebu)—mencapai 76,23 juta ton (padi), 21,35 juta ton (jagung), 1,82 juta ton (kedelai), 590 ribu ton (kedelai), dan 3,27 juta ton (gula), anggarannya distop pada 2016.

Penghentian anggaran itu terjadi di lima wilayah (Jambi, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi), hanya gegara serapannya anggarannya cuma 20-30 persen.

Baca Juga:  KPR Serukan Perkuat Persatuan Rakyat

Rendahnya realisasi anggaran mereka karena para petaninya mengembangkan tanaman tahunan seperti tebu dan kakao. Dan, baru panen di akhir tahun sehingga serapannya baru bisa di akhir tahun.

Padahal, seremoni para pejabat itu sudah bagus saat melaksanakan program pembangunan. Pembuatan gedung, misalnya. Mereka mengawalinya dengan peletakan batu pertama.

Kenapa pada pertanian tidak? Bahkan sampai menghentikan alokasi anggarannya.

“Minak, kok tega begitu sih pemerintah ini?” Tanya Saleh.

“Gak tahu juga ya, Leh,” jawab Minak Tab, sambil menggunting kumis.

Baca Juga:  Sinarjati Ikuti Ajang Provinsi

“Kalau sekedar panen begitu saja kenapa tidak undang Justin Bieber atau Syahrini. Suruh mereka nyanyi dan nari di tengah sawah. Biar cetar sekalian,” tandas Saleh.

“Hmm. Iya juga ya,” respon Minak Tab, yang berusaha membuat kumisnya simetris dengan gunting dan kaca.

“Huh,” keluh Saleh, sambil beranjak.

“Dasar gegu (tua bangka yang mulai pikun),” guman Saleh, dalam hati.

404 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan