Petani Kopi Belum Nikmati Keuntungan

Ketua Dewan Kopi Indonesia (Dekopi), Zulkifli Hasan saat panen raya kopi bersama Bupati Lambar Parosil Mabsus di Kecamatan Airhitam, Lampung Barat.ist

LIWA—Nasib petani kopi di Lampung Barat dan berbagai wilayah lain di Indonesia terbilang miris lantaran belum menikmati keuntungan dari penjualan kopi. Mayoritas petani hanya kebagian capeknya saja sementara yang menikmati keuntungan adalah para penjual besar dengan merek produk ternama.

Ketua Dewan Kopi Indonesia (Dekopi), Zulkifli Hasan menyayangkan soal kesejahteraan petani kopi yang masih rendah. Ini disebabkan karena buruknya sistem niaga kopi di Indonesia yang tidak berpihak kepada petani dan hanya menguntungkan kalangan penjual besar.

Ia mencontohkan, di café harga segelas kopi dijual sangat tinggi. Padahal disaat bersamaan harga kopi di tingkat petani terbilang sangah murah. Sehingga para pengusaha menikmati keuntungan yang besar.

Baca Juga:  Tekan Angka Kemiskinan, Pemerintah Tambah Alokasi Dana Desa 2018

“Saya minum kopi satu gelas 60 ribu di cafe sedangkan petani jual Rp20 ribu sekilo, bagaimana tidak untung banyak, para penjual kopi di cafe,” ujarnya saat meresmikan Kampung Kopi dalam gelaran Festival Kopi Robusta 2018 di Rigis Jaya, Kecamatan Airhitam, Lampung Barat, Minggu (23/7).

Untuk itu menurut Ketua MPR tersebut, perlu dilakukan perombakan tata niaga kopi nasional, agar petani bisa ikut sejahtera. Meski begitu ia tak menjelaskan dengan rinci soal perombakan tersebut.

“Kalau soal harga kopi di pasar, selalu naik sebenarnya. Hanya petani sering tak bisa menikmatinya. Kita perlu rombak tata niaga kopi nasional, agar petani bisa ikut sejahtera. Kita dorong juga pemerintah agar memberikan kebijakan pertanian agar petani lebih sejahtera,” katanya.

Baca Juga:  Survei BPS Lampung Tak Sesuai Fakta di Lapangan

Dewan Pakar Dekopi, Stephen Lo menambahkan, permasalahan rendahnya harga jual kopi ditingkat petani salah satunya disebabkan karena petani masih menjual kopi dalam bentuk biji atau belum diolah. Padahal bila sudah diolah dalam bentuk bubuk dan dikemas menarik akan meningkatkan nilai jual.

Meski begitu ia tak menyalahkan petani karena keterbatasan SDM dan modal. Sehingga pemerintah daerah diminta kreatif dan proaktif dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produk kopi agar berdaya saing tinggi.

“Jangan lagi, kopi kita dijual dalam bentuk biji kopi, melainkan sudah dapat dimaksimalkan pengolahannya,” kata dia.

Ia melanjutkan, Dekopi akan terus memberikan dukungan terhadap perkembangan perkebunan kopi di Indonesia khususnya di Lampung Barat melalui pembekalan, pelatihan serta pendampingan bagi para petani kopi.

Baca Juga:  Aplikasi Fintech Ilegal Bakal Diblokir

“Kedepan tidak ada lagi cafe-cafe di Jakarta yang membanggakan kopi luar negeri, melainkan bangga dengan kopi olahan dalam negeri,” ujarnya.

Dirinya juga menuturkan, masih banyak potensi yang dapat dikembangkan dari usaha perkebunan kopi sehingga dapat menunjang peningkatkan kesejahteraan petani di wilayah tersebut.

“Kalau produksi di daerah ini sampai 10 persen, maka akan menjadi pusat penghasil kopi robusta secara nasional,” kata dia.

Kebutuhan kopi robusta dunia, lanjut dia, per tahun rata-rata meningkat 58 ribu ton. Sedangkan kebutuhan kopi robusta dalam negeri sebanyak 11 ribu ton. Dalam 10 tahun terakhir terjadi kenaikan konsumsi kopi robusta apalagi di negara-negara Asia.(*)

258 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Festival Kopi Robusta Lambar 2018 Kampung Kopi Lambar Ketua Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) Zulkifli Hasan

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan