Produksi Bawang Putih Sulit Terealisasi

Ilustrasi Distributor Bawang Putih. (Ist)

JAKARTA—Forum Masyarakat Petani Indonesia (Fortani) menilai kewajiban importir menanam bawang putih sebesar 5% dari volume impor hanya merupakan formalitas. Pasalnya banyak kendala yang diihadapi di lapangan seperti masalah lahan maupun bibit.

“Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) itu sekedar formalitas saja dan jadinya mubazir. Kita tidak akan sampai pada titik bisa memproduksi sendiri,” kata Ketua Bidang Pemberdayaan Petani Fortani Pieter Tangka.

Menurut dia, sudah ada beberapa importir yang bekerja sama dengan petani untuk budidaya bawang putih, namun hingga saat ini belum ada yang terlihat sukses.

“Sampai saat ini saya tidak melihat ada yang berhasil, padahal itu sudah dari tahun lalu, seharusnya ada yang sudah panen dan masuk ke pasar,” ujarnya.

Menurut dia, penanaman bawang putih yang harus berada di lahan di atas ketinggian 1.000 meter permukaan lahan sulit dilakukan karena lokasi yang terbatas dan berpotensi menyebabkan erosi di dataran tinggi.

“Proses pembukaan lahan ini kemungkinan bisa mengakibatkan erosi di kemudian hari,” katanya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Bawang Putih Indonesia Piko Nyoto juga menyatakan keberadaan lahan maupun bibit menjadi kendala untuk memenuhi wajib tanam lima persen dari volume impor.(*)

Forum Masyarakat Petani Indonesia (Fortani) Produksi Bawang Putih

Posting Terkait