PT Advantage SCM Abaikan Hak Karyawan

PT Advantage SCM Abaikan Hak Karyawan

Massa Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) menuntut pemenuhan hak karyawan atas rekan mereka di PT Advantage SCM, Taman Indah, Kota Mataram, kemarin. Foto: Ist

BANDAR LAMPUNG – PT Advantage SCM Adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan untuk pengisian dan perawatan mesin ATM. Pada Tahun 2012 PT Advantage SCM membuka Kantor Cabang di Kota Mataram dengan menyewa sebuah rumah di Kelurahan Taman Indah, Kota Mataram.

Dalam rilis yang diterima oleh fajarsumatera.co.id dari Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) PT Advantage Suplly Chain Manajemen, Senin (29/1/2018) disebutkan M Ali Akbar, Lutfi Ali, Fathurahman, dan Lalu Hasrul Harahap mulai bekerja di PT Advantage SCM pada 3 Maret 2015 lalu.

Kemudian Wawan Irawan mulai bekerja pada 13 Agustus 2014, Hadi Susanto mulai bekerja pada Agustus 2014, dan Taufikurrahman mulai bekerja tahun 2014 dengan ketentuan delapan jam kerja sehari untuk lima hari kerja dalam satu minggu.

Mereka bekerja sebagai FLM, CPC, CDC/CR, MONITORING, CCTV dan CDC/IT adalah jenis pekerjaan yang bersifat tetap dan terus menerus yang tidak terpengaruh oleh cuaca dan batasan waktu

Setelah diterima oleh PT Advantage SCM, pekerja/buruh sebelum penandatanganan PKWT bekerja dengan status masa training (percobaan) selama tiga (3) bulan.

Selama masa training, mereka diupah berdasarkan jumlah hari kerja, yaitu Rp 55.000 per hari yang diterima secara tunai tiap sekali dua minggu dengan ketentuan UMP NTB tahun 2015 Rp 1.300.000.

Setelah masa training selama tiga bulan, pihak perusahaan mengajukan PKWTuntuk ditandatangani dengan ketentuan PKWT diadakan selama satu (1) tahun.

Selanjutnya, penandatanganan PKWT dilakukan sekali dalam setahun.

Pada Februari 2017, pekerja/buruh melakukan aksi mogok selama lebih kurang satu jam terkait kondisi pekerjaan yang berat mengingat jam kerja long time (lembur wajib empat jam) setiap hari, status kerja kontrak, upah, dan lain-lain.

Pada Mei 2017, para bekerja mendirikan serikat buruh yang berafiliasi dengan Federasi Perjuangan Buruh Indonesia dengan terbentuknya kepengurusan tingkat perusahaan.

Wawan Irawan sebagai ketua, Lalu Hasrul Harahap sebagai wakil ketua, Lutfi Ali sebagai sekretaris, M Ali Akbar sebagai bendahara, dan departemen-departemen, untuk mempermudah pekerja/buruh dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial terkait beberapa tuntutan pada aksi mogok sebelumnya.

Kemudian, pada Juni 2017 branch manager PT Advantage Cabang Mataram mengajukan form Clean Sheet dan surat pengunduran diri untuk ditandatangani setelah berakhirnya PKWT kedua.

Selanjutnya, atas nama M Ali Akbar, Lutfi Ali, Lalu Hasrul Harahap dan Fathurrahman dinonaktifkan (dirumahkan) sejak 15 Juni sampai 15 Juli 2017 dan tidak dibayarkan upah.

Kemudian melalui serikat, mereka mengajukan perundingan Bipartit untuk merundingkan persoalan upah selama dirumahkan dan status kerja.

Dalam proses perundingan bipartit tentang upah selama dirumahkan, pihak perusahaan mensyaratkan penanda-tanganan surat clean sheet dan pengunduran diri agar upah dibayarkan.

Terkait status PKWT, bahwa pengangkatan karyawan sudah diatur oleh peraturan perusahaan tentang syarat-syarat karyawan yang akan diangkat menjadi pegawai tetap.

Pada 16 Juli 2017 kami atas nama M Ali Akbar, Lutfi Ali, Lalu Hasrul Harahap, dan Fathurrahman dipanggil oleh pihak manajemen untuk menandatangani Pembaharuan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dengan jangka waktu berbeda-beda antara enam (6) bulan dan tiga (3) bulan.

Pada Rabu, 10 Januari 2018, serikat pekerja/serikat buruh PTP FPBI PT ASCM mengajukan perundingan bipartit terkait SK pengangkatan menjadi pegawai tetap untuk seluruh anggota FPBI dan penetapan skala dan struktur upah yang kemudian ditolak oleh pihak perusahaan melalui surat tanggapan perihal jawaban atas surat permohonan bipartit tertanda Sunggul Samosir, tertanggal 11 Januari 2018.

FPBI atas nama M Ali Akbar, Lutfi Ali, Lalu Hasrul Harahap, Wawan Irawan, Taufikurrahman, dan Fathurrahman antara Rabu dan Kamis, 10 – 11 Januari 2018 ,dipanggil oleh Branch Manager (Sunggul Samosir) dalam rangka memberitahukan perihal berakhirnya PKWT.

Mulai hari itu juga, mereka dinonaktifkan dan harus mengembalikan seragam dan ID Card. Sedangkan atas nama Hadi Susanto telah dinonaktifkan sejak Desember 2017.

Seluruh pekerja/buruh yang di PHK adalah buruh/pekerja yang telah menandatangani kontrak dua kali (C-2) dan pembaharuan kontrak satu kali dan dua kali dengan rata-rata masa kerja 3 tahun dan empat tahun.

Pihak PT Advantage SCM melakukan pemutusan kontrak karena para pekerja tersebut mengalami penurunan produktifitas sehingga bagi manajemen perlu peremajaan tenagakerja dengan cara menggantikannya dengan pekerja yang didatangkan dari Bali, Bandung, Jambi, dan lain-lain.

Pada tanggal 15 Januari 2018 kami mengirim surat penolakan pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh PT Advantage SCM terhadap tujuh (7) buruh/pekerja namun tidak ada tanggapan dari pihak perusahaan.

Pada Selasa, 16 Januari 2018, kami mengirim surat permohonan bipartit terkait PHK yang menimpa kami namun lagi-lagi tidak ada tanggapan dari pihak pengusaha.

Sejauh ini, FPBI selalu berusaha menciptakan keharmonisan dalam hubungan industrial ketika ada perselisihan, namun keinginan FPBI untuk duduk bersama dan bermusyawarah tidak direspon baik oleh pihak perusahaan.

Jika mengacu pada UU Ketenagakerjaan No 13/2003 Pasal 59 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Permen No. 100/2004 tentang Tata Cara Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu tentang Lima (5) Jenis Pekerjaan yang diperbolehkan untuk dikontrak, maka perjanjian kerja waktu tertentu yang diadakan oleh PT Advantage SCM bertentangan dengan ketentuan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Bahwa di dalam UU Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003 Pasal 59 ayat (5) menjelaskan, bahwa dalam hal Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) bertentangan dengan Pasal 1, 2, 4, 5 dan 6, demi hukum menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT). (*)

PT Advantage SCM

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan