Razia Waria Pekerja Salon di Aceh Langgar HAM?

Setelah dirazia, para waria pekerja salon dipotong paksa rambut mereka oleh petugas. Foto: Ist

BANDAR LAMPUNG – PENGGEREBEKAN salon dan pekerja waria salon di Aceh Utara dikhawatirkan berdampak ke kawasan Aceh lainnya. Sejumlah salon di Aceh Besar tutup dan yang masih buka mengatakan khawatir akan dirazia. Sementara pegiat hak-hak LGBT mengkritik cara penangkapan yang dilakukan polisi dan penyebaran foto-foto saat razia.

Jalanan di depan sebuah salon kecantikan di Banda Aceh tampak ramai dengan kendaraan, namun di dalam ruangan yang biasa digunakan untuk melayani pelanggan memotong rambut ataupun perawatan kecantikan lainnya sepi.

Baca Juga:  MUI Minta Pemerintah dan DPR Tak Buat Produk Hukum yang Mendukung LGBT

Pemilik salon, Muklis, mengaku khawatir dengan kejadian penangkapan terhadap 12 orang waria di Aceh Utara berdampak pada salon kecantikan miliknya.

“Yang aku takutkan dari salon itu dampaknya ke salon lain, kayak kami laki-laki tak boleh lagi menerima pelanggan perempuan,” jelas Muklis kepada wartawan di Aceh, Hidayatullah.

Muklis mengatakan selama menjalankan usaha salon kecantikan selama 12 tahun, dirinya tak pernah mendapatkan keluhan dari warga setempat, karena dia juga menjaga ‘cara berpakaian para karyawannya’.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mengecam tindakan polisi di wilayah Aceh Utara yang melakukan penangkapan dan penahanan sejumlah waria, memangkas paksa rambut mereka, dan menutup salon tempat mereka bekerja.

Baca Juga:  Komnas HAM Bentuk Tim Cegah Ujaran Kebencian

Komisioner Pendidikan & Penyuluhan Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, menyebut tindakan itu merendahkan martabat manusia dan bertentangan dengan peraturan.

“Semua warga negara harus mendapat perlindungan hak asasinya. Dan semua warga negara harus mendapat perlakuan yang sama,” kata Beka seperti dikutip dari BBC, Senin (29/1/2018).

Beka mengatakan Komnas HAM akan meminta klarifikasi kepada Kapolda Aceh terkait peristiwa tersebut.

Namun, Misbahul menyebutkan polisi bertindak sesuai ketentuan.

“Polri melakukan tindakan terukur, tidak berlebihan, yang jelas tindakan yang dilakukan pada saat itu sudah sesuai dengan ketentuan, dan sebelumnya sudah dikoordinasikan dengan ulama dan polisi syariah,” jelas Misbahul.

Baca Juga:  MUI: Zina dan LGBT Harusnya Dipidana

Dia mengatakan alasan polisi melakukan tindakan karena merujuk pada Perda No 11 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh.

Meski begitu, Misbahul mengakui Polda juga tengah mendalami penyebaran foto-foto terkait penangkapan dan apakah itu sesuai prosedur atau tidak.

“Memang berkembang sesuatu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, itu yang sedang kita dalami, itu kapan di mana, karena kan dikaitkan dengan yang terjadi di Aceh Utara,” kata dia. (*)

260 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Komnas HAM LGBT Waria Pekerja Salon

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan