RI-Jepang Kerja Sama Kembangkan Industri Kecil dan Menengah

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Ist)

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Japan International Cooperation Agency (JICA) terus mengembangkan usaha kecil menengah (UKM) atau industri kecil dan menengah (IKM) di beberapa daerah potensial di Indonesia. Tahun ini, ada lima provinsi yang terlibat dalam pengembangan produk lokalnya.

Direktur Jenderal IKM Kemenperin, Gati Wibawaningsih mengungkapkan, ada lima provinsi yang siap berkomitmen pada program Project of Small and Medium Industry Development Based on Improved Service Delivery yang diselenggarakan Kemenperin dan JICA.

Kelima provinsi itu antara lain, Bangka Belitung untuk pengembangan produk kerajinan dari timah atau pewter di Kabupaten Bangka Barat; di Sulawesi Tenggara dengan produk tahu dan tempe di Kabupaten Konawe Selatan.

Ada pula Sulawesi Selatan dengan kerajinan perak dan emas di kota Makassar; Papua yang mengandalkan pengolahan kopi di Kabupaten Dogiyai, serta di Jawa Timur dengan pengembangan industri komponen kapal dan pengecoran logam di kota Pasuruan.

“Pemilihan daerah untuk pengembangan IKM atau UKM didasarkan beberapa hal, di antaranya sumber dukungan, pengembangan tema strategis, dan pengembangan tema afirmatif,” tutur Gati dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (24/12/2017).

Sumber dukungan ini meliputi ketersediaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau sinkronisasi anggaran dekonsentrasi dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Dalam pengembangan tema strategis, sambung Gati, dibutuhkan penguatan hubungan antara industri pendukung dan skala besar, serta diikuti pemberdayaan wirausaha industri, dan pengembangan pasar internasional. Sedangkan pengembangan tema afirmatif mempertimbangkan pada daerah tertinggal atau perbatasan.

“Dari beberapa pertimbangan itu, dipilih tiga provinsi yang menjadi target awal program lanjutan ini, yaitu Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Papua,” Gati berujar.

JICA dan Kemenperin sebelumnya telah bekerja sama di lima provinsi sepanjang 2013-2016, yakni Sumatera Utama untuk program pengembangan produk tenun ulos, Jawa Tengah proudk komponen logam, produk cokelat dan rotan di Sulawesi Tengah, Jawa Timur dengan produk alas kaki, dan Kalimantan Barat dengan produk olahan lidah buaya.

Gati berharap, program pengembangan UKM atau IKM ini mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing IKM di daerah, agar lebih kompetitif di pasar domestik maupun internasional.

“Pemerintah pusat melibatkan pemerintah daerah melalui diseminasi konsep pengembangan klaster dan penempatan fasilitator praktis dengan memanfaatkan sumber daya lokal,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto mengatakan, Kemenperin dan JICA tengah melakukan kerja sama pengembangan industri potensial dalam jangka menengah dan panjang, seperti sektor alat transportasi, elektronika, serta makanan dan minuman.

Langkah sinergi ini diwujudkan melalui kegiatan penelitian terhadap sejumlah manufaktur Indonesia. Dilakukan oleh Nomura Research Institute dengan judul “Promotion for Globally Competitive Study” untuk periode April 2017-Maret 2018.

“Kami ingin dapat masukan kolaborasi teknis di tiga sektor industri itu supaya bisa naik level. Ingin mensurvei beberapa sentra IKM atau UKM komponen otomotif, seperti di Tegal dan Ceper, Jawa Tengah untuk melihat jalannya supply chain di sana karena JICA telah mendorong IKM Jepang untuk investasi di Indonesia,” tandas Airlangga, seperti dilansir dari liputan6.com.

(net/hp)

Mengembangkan Industri Kecil dan Menengah

Posting Terkait