Ribut Omongan Pak Kiai

Ngupi Pai

Ngupi Pai

Oleh Supendi

Ketua Umum MUI sekaligus Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin sedang menjadi sorotan baru-baru ini. Penyebabnya karena omongannya di media soal sosok Presiden Joko Widodo. Apa katanya?

Mengutip, Kompas.com (Sabtu 14/4), Pak Kiai Sepuh memuji kepribadian Presiden Jokowi sebagai seorang pemimpin. Dia salut dengan etos kerja Jokowi yang tanpa henti terus bekerja untuk membangun Indonesia. Hal itu terlihat dari upaya keras Jokowi membangun infrastruktur hingga ke pelosok Indonesia.

“Saya terus terang, saya tertarik dengan kepribadian Pak Jokowi sebagai Presiden. Beliau itu orangnya tidak merasa pintar,” kata Ma’ruf yang hadir bersama Jokowi dalam peringatan Harlah PPP ke-45 di UTC, Universitas Negeri Semarang, Semarang, Sabtu (14/4).

Nah pernyataan Pak Kiai inilah yang kemudian menyebar kemana-mana lewat pemberitaan media. Lalu digoreng dengan sadisnya di media sosial. Ma’ruf Amin dituding sedang mengkampanyekan sosok Jokowi agar kembali dipilih pada Pilpres mendatang.

Sekilas memang tak ada yang perlu diperdebatkan dari kata-katanya, karena memang hanya merupakan pendapat tentang sosok seorang pemimpin. Namun banyak orang kemudian menyetir omongannya kedalam ranah politis. Pas karena memang momentnya menjelang Pilpres.

Pendapat Pak Kiai lalu dianggap sebagai pesanan untuk mendongkrak popularitas Jokowi. Apalagi sosoknya sebagai ulama besar, sekaligus Rais Aam PBNU dinilai punya pengaruh besar untuk mengerek suara pemilih dari kalangan NU yang memang mayoritas.

Tapi coba kita telaah lagi, apa benar seorang ulama sepuh yang begitu dikagumi dan dihormati ini mendapat pesanan untuk melanggengkan langkah Jokowi? Atau malah ia tak sadar kalau kata-katanya yang husnudzon (berbaik sangka) itu malah salah diartikan utamanya oleh kalangan yang tak pro pada Jokowi?

Pada September 2017 lalu, Kiai Ma’ruf menghadiri acara Mengaji untuk Indonesia di UIN Sunan Ampel Surabaya. Ia lalu mengomentari soal adanya lembaga survei yang menjadikan kiai sebagai objek penelitian terkait Pilkada Jatim.

Menurut dia, warga Nahdlatul Ulama (NU) dan kalangan pesantren sangat menghindari su’ul adab (tak punya adab alias berperilaku buruk atau tidak tahu sopan santun) terhadap kiai. Apalagi sampai menjadikan kiai sebagai objek survei untuk kepentingan sesaat di Pilkada.

Karena itu, kalangan NU tak terkecuali Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ma’ruf Amin menilai lembaga survei yang menjadikan kiai sebagai objek atau unit penelitian survei merupakan tindakan su’ul adab.

“Sebaiknya memang kiai itu jangan dipojok-pojokkan, dimacem-macemkan,” katanya.

Dua pernyataan pada dua kesempatan diatas bisa dijadikan referensi untuk menilai apakah Pak Kiai benar-benar sedang berpolitis atau memang hanya sekadar menunjukkan adabnya sebagai seorang ulama. Bukankah tak ada dalam kamus para ulama, untuk saling menjelekkan satu sama lain?

Yang harus direnungkan kemudian, apa betul pernyataan Pak Kiai merupakan wujud perwakilan dari lembaga sebesar MUI dan PBNU?  Tentu saja bukan, karena pernyataan yang keluar adalah bentuk spontanitas pribadi dan bukan merupakan hasil dari pembahasan dalam internal lembaga.

Kalau sekadar pernyataan personal apalagi sosoknya sebagai seorang ulama, apa salah kalau dia berpendapat yang baik-baik tentang sosok seorang pemimpin yang dikenal dan dilihatnya? Lalu apa jadinya kalau Pak Kiai malah bicara yang buruk-buruk tentang seorang pemimpin? Jawabannya ya tetap saja menjadi bahan olok-olok buat mereka yang berburuk sangka.(*)

 

351 kali dilihat, 14 kali dilihat hari ini

Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma'ruf Amin

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan