Ridho Difitnah dan Dihina

M Ridho Ficardo

Bandarlampung-Kampanye hitam yang disebarkan Isnan dkk. ternyata berisi unsure fitnah dan penghinaan terhadap calon gubernur nomor urut satu, M Ridho Ficardo.

Hal itu terungkap dalam persidangan perdana kasus black campaign di Pengdalian Negeri Sukadana, Lampung Timur. “Berdasarkan keterangan dari ahli bahasa bahwa selebaran itu memiliki unsur penghinaan  dan fitnah,” kata Edy Rifai,  Kamis (7/6).

Dia melanjutkan, setiap orang yang menghina bisa dikenakan tindak pidana atau tindak pidana pemilu saat dilakukan masa kampanye. Karena berdasarkan pasal 69 tentang kampanye, pelaku bisa dikategorikan paslon, parpol gabungan, tim sukses, perseorangan atau sukarelawan .

“Intnya setiap orang atau siapa saja dalam hal ni menghina dan sebagainya bisa terkena tindak pidana pemilu. Karena perorangan atau sukarelawan bisa tergabung dalam kegiatan pembagian bahan kampanye,”ungkapnya.

Saat disinggung salah satu penasehat hukum Isnan Cs, apakah selebaran tersebut masuk dalam bahan kampanye, ia berpendapat bahwa selebaran masuk dalam bagian kampanye. Karena sebagai bentuk sosialisasi para calon gubernur – wakil gubernur melalui alat peraga kampanye (APK) bisa melalui banner, brosur atau prayer yang berisi  visi misi dan mengajak masyarakat untuk memilihnya.

“Tapi kalau isi selebaran malah sebaliknya, maka ini sebagai black campaign yang sudah menjadi bahasa keseharian masyarakat,”tegasnya.

Kemarin, terungkap juga pelaku penyebar selembaran kampanye hitam (black campaign) paslon nomor urut satu, di Lampung Timur, Senin (7/5), ternyata  pakai mobol rental.

“Niat hati usaha sewa menyewa mobil untuk mendapat untung, tapi ini malah buntung. Jadi saya meminta ganti rugi Rp 200 ribu per hari karena  sudah satu bulan mobil itu ditahan sehingga tidak bisa digunakan untuk usaha,” kata Ilham, Kamis (7/6).

Ia mengaku tidak mengetahui bahwa kendaraan yang disewa oleh Isnan Subkhi untuk menyebarkan selembaran yang diindikasi sebagai Black Campaign.

“Biasanya para penyewa yang menyewa kendaraan ini menggunakan jasa saya sebagai supir. Tetapi karena  adik Isnan ini teman saya, jadi saya percayakan mobil itu untuk dipakainya sendiri,”ujarnya.

Dilain sisi, ia berharap Pengadilan Negeri (PN) Sukadana, Lampung Timur dapat mengabulkan surat ajuan meminjam pakai kendaraan tersebut yang rencananya akan dipakai untuk usaha. “Kita pinjam mobil ini untuk usaha saat lebaran,”pungkasnya.

Dua hari lalu, Pengadilan Negeri (PN) Sukadana, Lampung Timur menggelar sidang kedua terduga pelaku kampanye hitam (Black Campaign), Isnan Subkhi, Riandes Priantara dan Framdika Firmandadiruang sidang Candra sekitar pukul 11.00 WIB pada Kamis (7/6).

 

Sidang yang digelar sekitar pukul 11.00 WIB – 13.45 WIB Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan dua saksi fakta dan satu saksi ahli. Kedua saksi fakta, Ilham Malik selaku pemilik kendaraan yang dipakai ketiga pelaku, dan Zoni Fadli Sebagai Ketua Jaringan Kerakyatan Lampung. Sementara untuk saksi ahli, Edy Rifai. (IH)

Tiga orang yang ditangkap Polsek Mataram Baru, Lampung Timur yakni Isnan Subkhi, Riandes Priantara dan Framdika Firmanda diduga sebagai suruhan orang dari satu partai.

Hal itu diungkapkan oleh Kanit Intel Polsek Mataram Baru Doni, usai memberikan keterangan pada sidang perdana kasus black campaign di Pengadilan Negeri, Sukadana, Lampung Timur.

“Ya saya tahu,” katanya, kemarin

Dia menjelaskan dugaan tersebut diketahui saat dirinya melakukan pemeriksaan disalah satu ponsel milik terdakwa.

“Dari ponsel itu ada yang nyuruh, dan yang nyuruh itu dari orang partai,” ujarnya.

Diketahui, Penangkapan tiga terdakwa dilakukan pada Senin (7/5) lalu. setalah berkas dari pemeriksaan tersebut lengkap dilakukan sidang perdana di Pengadilan Negeri, Sukadana, Lampung Timur, Rabu (6/6).

Tiga terdakwa diduga melakukan penyebaran selebaran kampanye hitam (black campaign) dan ujaran kebencian terhadap pasangan calon (paslon) nomor urut satu Ridho berbakti.

Pada sidang perdana Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan tujuh saksi fakta dan satu saksi ahli. Ketujuh saksi itu diantaranya, Ali Nur Hamid anggota Panwascam Mataram Baru, Doni dan Didik anggota kepolisian Polsek Mataram Baru Lampung Timur, Prasodo Pengawas Pemilihan Lapangan (PPL) Desa Sri Menanti,  Sribhawono, Afrizal Ketua Panwascam Sekampung, Mustofa, Anggota Panwaskab Lamtim, Uslih. Sedangkan saksi ahli, Sunarto

Dari 7 saksi fakta yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dua diantaranya sebagai anggota Polisi yang melakukan penangkapan pertama terhadap ketiga tersangka penyebaran kebencian terhadap pasangan calon (paslon) nomor urut satu Ridho berbakti.

keduanya yakni Doni Irawan Kanit Intel Polsek Mataram Baru dan Didik dalam kesaksiannya mengatakan dirinya mendapatkan laporan dari salah satu anggota Panwascam.

 

“Setelah mendapatkan laporan tersebut saya datang kelokasi, sampai dilokasi saya tanyakan kepada warga dan anggota panwascam yang menerima selebaran tersebut,” kata Doni Irawan di Sidang Perdana Dugaan pelanggaran pemilu, Rabu (6/6).

lanjutnya, dari informasi yang didapat penyebaran selemabran tersebut di bagikan oleh orang yang tidak di kenal menggunakan kaos hitam.

“Saya langsung keliling pasar menggunakan motor untuk mencari orang tersebut namun di pasar tidak di temukan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dirinya terus melakaukan pencarian, dan melihat tiga orang yang baru datang di parkiran sekolaah dasar tidak jauh dari lokasi pasar Sumber Sari, Mataram Baru, Lampung Timur.

“Ketiganya mau masuk kedalam mobil yang terparkir di halaman sd, lalu saya tahan , setelah saya lakukan penggeledahan didalam mobil tersebut terdapat kardus yang berisikan kerta yang sama dengan yang diterima oleh warga di pasr,” kata dia.

 

Selain itu, Doni mendapati di dalam mobil tersebut ada sebuah plat nomor polisi yang sesuai dengan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

“Plat mobil yang digunakan palsu, karena yang susuai dengan STNK berada di dalam mobil,” kata dia.

Dari penangkapan tersebut dirinya langsung melaporkan kepada Kaplosek Mataram Baru. “Saya amankan dulu dilokasi setelah datang Kapolsek baru ketiganya di bawa ke Panwas Kabupaten Lampung Timur,” kata dia.

Dari keterangan saksi fakta tersebut, Hakim Ketua memberikan waktu kepada tiga terdakwa untuk menanggapi penyataan dari saksi.

Salah satu terdakwa Isnan Subkti mengaku tidak mengetahui plat tersebut palsu. “Saya tidak tau kalau itu palsu, karena saya sewa jadi tidak tahu kalau itu palsi,” ungkapnya. (TM/RM)

 

 

4,112 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan