Saat Hakim Mengeluarkan Kata Setan Dengan Nada Tinggi Kepada Agung Ilmu Mangkunegara, Memangnya Sedang Membahas Apa?

Saat Hakim Mengeluarkan Kata Setan Dengan Nada Tinggi Kepada Agung Ilmu Mangkunegara, Memangnya Sedang Membahas Apa?

Skrinsut video hasil rekaman Fajar Sumatera saat terjadi perdebatan antara Syahbudin dan Agung Ilmu Mangkunegara. Terlihat seluruh pihak terlibat, termasuk jaksa KPK dalam menyaksikan catatan aliran uang yang diduga mengalirkan ke oknum APH milik Syahbudin di Pengadilan Negeri Tipikor Tanjungkarang Kelas 1A, Senin malam, 16 Maret 2020. Foto: Ricardo Hutabarat/Fajar Sumatera.

Bandar Lampung – Pengacara untuk terdakwa Syahbudin –Kadis PU-PR Lampung Utara non aktif– mengungkapkan jika kliennya turut memiliki catatan berisi segala informasi yang berkaitan dengan dugaan aliran uang yang telah diberikan kepada sejumlah pihak, termasuk untuk oknum Aparat Penegak Hukum (APH).

Catatan ini lah yang sekaligus dijadikan sebagai bukti dan akan disampaikan kepada majelis hakim sebagai bahan pertimbangan atas pembuktian beberapa hal. Salah satunya menyoal pembuktian tentang bahwa dugaan uang hasil pungutan fee paket proyek yang disangkakan telah dikelola oleh Syahbudin, tidak lah benar sepenuhnya.

Baca Juga:  Menengok Keterangan Rina Febrina Selama Persidangan, Saksi KPK yang Diduga Mendapat Ancaman 'SMS Mayat'

“Jadi klien saya juga punya catatan,” ungkap Pahrozi, pengacara Syahbudin untuk perkara korupsi suap fee paket proyek pada Dinas Perdagangan dan Dinas PU-PR yang ditangani KPK dan kini dalam tahap persidangan di Pengadilan Negeri Tipikor Tanjungkarang Kelas 1A.

Catatan ini cukup unik. Hal yang membuat unik adalah, catatan tersebut ditulis oleh Syahbudin dengan tulisan tangan di dalam sebuah buku agenda. Dari tulisan tangan ini, Pahrozi menyatakan kesiapannya jika suatu waktu diperdebatkan oleh pihak lain.

“Kita siap jika itu diuji forensik sekalipun. Dan perlu diketahui, bahwa catatan itu bukan ada setelah kejadian. Itu sudah ada sebelum kejadian. Jadi intinya itu bukan dibuat-buat,” kata Pahrozi saat diwawacarai, Senin, 30 Maret 2020.

Baca Juga:  Alhamdulillah, Endah Kartika Prajawati Sudah Sehat dan Hadir Jadi Saksi Dalam Sidang

Catatan tersebut lah yang kemudian menjadi perdebatan antara dirinya bersama Syahbudin dengan terdakwa Bupati Lampung Utara non aktif Agung Ilmu Mangkunegara pada persidangan lalu, Senin malam, 16 Maret 2020.

Gambaran perdebatan itu terlihat jelas, saat Pahrozi membawa salinan catatan tersebut ke hadapan majelis hakim yang diketuai Efiyanto. Saat itu hakim sempat melontarkan kata “setan” saat menanggapi pertanyaan Agung Ilmu Mangkunegara; “Kenapa di sini nama saya yang ditulis”.

Begitu kalimat yang dilontarkan oleh bupati non aktif itu sembari telunjuknya mengarah kepada salinan catatan yang ada di hadapan Efiyanto. “Terserah dia mau buat apa, mau nama setan kah, mau nama apa, terserah. Ini kan bukti dari terdakwa. Nanti akan kita ungkap itu di-TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang_read),” jawab Efiyanto dengan nada tinggi.

Baca Juga:  Sidang Korupsi Agung Ilmu Mangkunegara: Berlangsung Tanpa Kehadiran Para Terdakwa Dan Siapkan Tujuh Orang Saksi

Terhadap gambaran kejadian tersebut, Pahrozi tidak menampiknya. Ia mengatakan bahwa pada saat itu Agung Ilmu Mangkunegara naik pitam pasca bukti itu dibawanya ke hadapan majelis hakim.

“Melihat pada fakta itu, salah satu terdakwa bernama Agung Ilmu Mangkunegara naik darah. Kenapa namanya? Nah karena itu lah hakim menengahi. Kata hakim, sampaikan saja, itu kan bukti yang diajukan oleh terdakwa Syahbudin. Mau nama setan kah mau nama siapa. Soal kemudian apakah itu terbukti dan membuktikan apa? Hakim lah yang menilainya,” jelas Pahrozi.

“Jadi untuk diketahui oleh masyarakat ya, saya punya kewajiban melaksanakan tugas saya selaku penegak hukum juga, sesuai dengan UU advokat. Artinya apa? Saya tidak bicara semata-mata membela klien, tapi juga punya kewajiban moral untuk membuat terang perkara ini. Siapa berperan apa?” sambungnya. (Ricardo Hutabarat)

Agung Ilmu Mangkunegara Sidang Agung

Posting Terkait