Memprihatinkan Mustafa

“Saya Prihatin dengan Mustafa”

Rosim Nyerupa

Oleh Rosim Nyerupa
Sekretaris BPC HIPMI Lampung Tengah

 

SAAT dilantik, saya dan teman-teman pemuda mahasiswa lainnya berkomitmen untuk menjadi mitra kritis pemerintah daerah, kita dukung programnya dan kita akan menjadi garda terdepan akan menyampaikan kritik apabila kebijakan pemerintah tidak prorakyat.

Melihat fenomena ini memaksa saya untuk bersuara di sisi kemanusiaan dan kedaerahan. Catat..!  Ini sikap di luar Pilgub Lampung Karena Sensitif, Saya bukan Timses KECE.

Saya teringat ketika sosok Mustafa dilantik jadi Ketua DPW Partai Nasdem Provinsi Lampung beberapa waktu silam.

Surya Paloh selaku Ketua Umum DPP sangat mengapresiasi prosesi pelantikan saat itu. Sosok politisi yang menggaungkan gerakan perubahan itu mengatakan bahwa pelantikan Nasdem di Lampung ini merupakan pelantikan terhebat sepanjang berdirinya Partai Nasdem.

“Ini adalah pelantikan DPW yang terhebat yang pernah saya lakukan,” ujarnya saat menyampaikan sambutan di acara pelantikan 2016 lalu.

Tidak hanya heboh dan semangat saat dilantik,  Politisi Handal itu berhasil membuat Nasdem besar di Lampung hingga mengakar. Meskipun perjalanan belum terlalu panjang, Gerakan Restorasi pun terbilang membumi dan melangit di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai.

Di bawah kepemimpinan Mustafa, terlepas apapun itu kita harus legowo mengakui bahwa Nasdem merupakan salah satu parpol yang  mengudara dengan kader yang begitu solid.

Hal ini bisa dilihat dari berbagai pandangan kalangan pemuda melek politik mengakui atas eksistensi partai besutan Surya Paloh itu berhasil di tangan Mustafa dengan kata lain Nasdem besar di tangan Mustafa.

Mungkin para kader Nasdem di Lampung Lebih memahami bagaimana langkah Bupati Kece tersebut.

Baca Juga:  Terkait OTT KPK, Mustafa Minta Masyarakat Tenang

Selain eksis dan mengakar di tengah masyarakat, pengaruh Mustafa yang piawai berorasi mampu membranding Nasdem di Lampung sebagai parpol yang kekinian dan menyentuh di tengah masyarakat.

Kita mengakui kiprah dan prestasi mustafa mengembangkan panji-panji Nasdem di Bumi Lampung.

Bisa kita lihat di sudut-sudut muka dan pedalaman Lampung, dimana-mana ada Nasdem,  Mustafa dan Surya Paloh.

Sosok Mustafa merupakan sosok yang dinamis, sejak mengenyam bangku perkuliahan memang sudah aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan. Menyandang status sebagai aktivis mahasiswa membuat karakter kepemimpinan Mustafa terbentuk sejak kuliah.

Eksistensi dan elektabilitasnya sebagai mahasiswa membuat ia dipercayakan oleh mahasiswa saat itu untuk duduk di kursi Badan Eksekutif Mahasiswa sebagai gubernurnya.

Sebagai pengamat di luar variabel partai politik, saya melihat Nasdem semestinya bangga punya kader militansi yang serius membangun partainya seperti sosok Mustafa.

Harus menjadi contoh kader di seluruh Nusantara. Apalagi ketua umum DPP mengakui kehebatannya.

Di kancah politik lokal, Mustafa adalah sosok baru yang muncul di arena setingkat provinsi. Meskipun terbilang baru, namun bicara eksistensi, sosok Mustafa mampu duduk setara dengan sosok politikus yang sudah lama berkecimpung.

Menurut saya ini adalah satu kehebatan Mustafa sebagai kader Nasdem yang diperhitungkan.

Sebagai seorang politikus tentunya suatu hal yang lumrah jika mengalami dan dihadapkan dengan satu persoalan baik menyangkut aktor politik maupun partai politik, Itulah konsekuensi yang dikenal sebagai dinamika politik.

Hari ini Mustafa sedang dihadapkan dengan masalah yang tentunya akan membawa nama baik Partai Politik yang dipimpinnya.

Membaca beragam berita yang dilansir di berbagai media, kasus suap yang ditangani oleh KPK saat ini adalah bukan maunya / inisiatifnya Mustafa atau lebih cakap bahasanya, Legislatif Memalak Eksekutif sebagaimana istilah bahasa yang digunakan Hermansyah Albantani mengutip statement KPK dalam tulisannya yang dimuat oleh radarmetro bertajuk ‘Preman’ Elit.

Baca Juga:  Wapres JK Hadiri Penutupan Pembekalan Caleg NasDem

Melainkan permintaan anggota legislatif yang telah ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka yakni Natalis dan Rusli, jika usulan peminjaman dana Rp 300 miliar itu akan disetujui oleh mereka maka eksekutif harus memberikan “Cheese” sebesar Rp 1 miliar.

Ilalahnya Mustafa selaku bupati diduga memberikan arahan dalam hal ini Kepala Dinas Bina Marga untuk memenuhi permintaan mereka.

Di luar apapun itu,  bicara sisi kepartaian, seharusnya Partai Nasdem khususnya Surya Paloh hadir di garda terdepan bagi kadernya yang berurusan dengan persoalan hukum.

Dalam hal ini (Mustafa_red) Nasdem membackup sampai kepada titik kebenaran, dengan kata lain memperjuangkan hak-hak Mustafa yang saat ini dianggap bersalah dari oknum-oknum tertentu.

Pada akhirnya, jika nanti Mustafa bersalah, jangan sampai hak-haknya ditindas oleh pihak yang merasa benar.

Setidaknya sebagai Partai Politik, Nasdem sudah melakukan langkah untuk memperjuangkan nasib kadernya terlepas nanti Mustafa menghuni atau tidaknya di rutan KPK.

Dari sisi perkaderan dalam sebuah sistem kepartaian, saya merasa keprihatinan melihat sikap Partai Nasdem saat melaksanakan konferensi pers.

Dalam konferensi pers itu, Koordinator Bidang Hukum DPP Nasdem mengatakan bahwa Partai Nasdem tidak  memberikan bantuan hukum kepada kader yang terjerat kasus korupsi, karena itu sudah menjadi pakem di Partai Nasdem.

Walaupun di aturan main internal Nasdem sudah demikian, semestinya DPP Nasdem menelaah dengan cermat model kasus yang menimpa Mustafa, perlu digarisbawahi ini persoalan berbeda yang tidak banyak dialami KPK dalam menangani kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh kepala daerah secara umum.

Baca Juga:  Terkait Pembaiatan, Bupati Lamteng Siap Tindak Plt.Kadisdik Jika Bersalah

Dalam kasus Mustafa ini, bukan justru eksekutif yang berinisiatif dan memberikan suap tersebut melainkan oknum yang duduk di lembaga legislatif.

Konstruksinya berbeda dari kasus-kasus biasa, Bupati atau Pemda ingin meminjam dana Rp 300 miliar kepada PT SMI, Namun untuk mengupayakan peminjaman itu Bupati Lampung Tengah harus mendapatkan persetujuan DPRD.

Saat itu, muncul kata sandi Cheese sebagai kode uang suap jelas Laode M Syarif, Wakil Ketua KPK yang dilansir dari portal Detik.com.

Di samping itu, di sisi politik, semestinya DPP melihat bagaimana kondisi kader di daerah. Mustafa berhasil menyatukan frame berfikir antar beberapa partai politik seperti PKS dan Hanura dalam sebuah koalisi bernama KECE yang siap mendukung Mustafa di bursa pemilihan gubernur.

Keputusan politik PKS dan Nasdem tidak lepas dari sosok Mustafa yang menurut kedua parpol tersebut adalah sosok yang memiliki nilai lebih ketimbang sosok lain.

Kemudian simpatisan di luar partai politik yang banyak. Nah melihat fenomena ini, seharusnya DPP Nasdem menjaga hati kader maupun simpatisan di daerah jangan justru sikap DPP Nasdem karena pakem yang berlaku tersebut membuat kecewa masyarakat Lampung dan para pendukung Bupati Kece ini khususnya.

Kendati demikian, muncul sebuah pertanyaan di benak saya, bagaimana tanggung jawab Partai Politik terhadap Kadernya? Apakah ini sebuah sikap kedzoliman partai politik?

Jika begini modelnya boleh saya katakan habis manis sepah dibuang. []

Mustafa NasDem

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan