‘Semilau’ Ramdhoni yang Berkilau

Buku puisi Semilau karya Muhammad Harya Ramdhoni. (FOTO: UDO Z KARZI)

KEJUTAN! Untuk pertama kalinya, Muhammad Harya Ramdhoni menerbitkan buku puisi, pertama kali pula dia berkarya dalam dalam bahasa Lampung, dan ujungnya pertama kali juga ia meraih penghargaan bergengsi tahun ini.

Demikianlah, kumpulan sajak Lampungnya, Semilau diterbitkan Pustaka LaBRAK (2017) memenangkan Hadiah Sastra Rancage 2018 untuk sastra Lampung. Dengan kemenangannya ini sastrawan Lampung Muhammad Harya Ramdhoni berhak mengantongi hadiah uang sebesar Rp5 juta dan piagam penghargaan Rancage.

“Ini surprice buat saya,” ujarnya saat diberi tahu ia dia meraih Hadiah Rancage 2018.

Yang jelas, ia menjadi semangat baru bagi perkembangan dan pengembangan sastra Lampung.

Muhammad Harya Ramdhoni. (IST

Sebelum menulis buku puisi, Ramdhoni telah memperkenalkan diri dalam tiga buku prosa: roman Perempuan Penunggang Harimau (2011), kumpulan cerpen Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air (2012), dan kumpulan cerpen Mirah Delima Bang Amat (2017).

“Muhammad Harya Ramdhoni memperlihatkan dirinya mampu menulis prosa, baik berupa roman maupun cerpén. Dan sekarang membuktikan bahwa menulis puisi pun dia bisa,” ujar Ketua Déwan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi mengapresiasi sajak-sajak Ramdhoni dalam antologi Semilau.

Buku antologi Semilau memuat 69 sajak dan hampir semuanya bertutur mengenai legénda atau sejarah Sekala Brak (Skala Baka) dan tersisip di sela-selanya pengalamannya baik pengalaman sosial maupun pengalaman personal. Bahasa yang dipergunakannya adalah dialék Lampung Barat.

Bahasa Lampung Barat adalah salah satu dari dua dialék bahasa Lampung.

Setelah ini, terbit pula buku kelimanya berupa kumpulan sajak — kali ini dalam bahasa Indonesia — berjudul Sihir Lelaki Gunung.

Ramdhoni menuturkan butuh waktu hingga 17 tahun untuk membuat seluruh sajak yang termuat dalam buku Semilau. Ke-69 sajak tersebut ia buat dari tahun 2000 hingga 2017. Hampir semua sajak bertutur mengenai legenda atau sejarah Sekala Brak di Lampung Barat. Bahasa yang digunakan merupakan dialek Lampung Barat.

“Idenya muncul dari cerita-cerita masyarakat, pengalaman pribadi, keluarga, asal-usul orang Lampung Saibatin. Karya ini saya dedikasikan untuk Sekala Brak karena puisi saya ini menceritakan Sekala Brak. Semua menggali kearifan lokal,” ujarnya.

Hadiah Sastra Rancage sendiri adalah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap memberi kontribusi bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah. Penghargaan ini diberikan Yayasan Kebudayaan Rancage, yang diprakarsai budayawan Ajip Rosidi, sejak 1989.

Tahun ini pula Ramdhoni telah menyelesaikan sekuel novel Perempuan Penunggang Harimau yang berjudul Risalah Pengibar Bendera. Novel kedua ini telah dibuatnya selama delapan tahun. “Saya bukan penulis profesional. Saya cuma tukang dongeng yang menulis dan mendapatkan ide dari keluarga, hal-hal sederhana dalam kehidupan,” ujarnya.

 

Banyak Potensi

Sebelum Ramdhoni, Hadiah Sastra Rancage Lampung juga pernah diraih Udo Z Karzi. Udo telah dua kali meraih Hadiah Rancage, yaitu 2008 untuk buku kumpulan 50 sajak berjudul Mak Dawah Mak Dibingi (terbit 2007) dan 2017 untuk novel Negarabatin (terbit 2016).

Dua penulis lain yang meraih Hadiah Rancage Lampung adalah Fitri Yani (2014) untuk kumpulan sajaknya, Suluh (terbit 2013) dan Asarpin Aslami (2010) untuk kumpulan cerbunnya, Cerita-cerita jak Bandar Negeri Semuong (terbit 2009).

Dalam amatan Sekretaris Dewan Kesenian Lampung (DKL) Bagus Pribadi mengatakan, regenerasi kesusastraan di Lampung tidak pernah putus, terus mengalir dari masa ke masa, mulai era 1980-an hingga kini. “Secara umum  perkembangan sastra di Lampung cukup baik dan mengalami regenerasi,” kata dia.

Hadiah Sastra Rancage yang jatuh pada Ramdhoni tahun ini menambah penegasan bahwa Lampung memiliki banyak potensi di bidang kesusastraan. (UZK)

583 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Hadiah Sastra Rancage Muhammad Harya Ramdhoni Sastra Lampung

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan