Suami Grebek Bini

Darto (nama disamarkan), usia 27 tahun, tinggal di Tanjungkarang, Bandarlampung. Enam bulan lalu, dia baru menikah dengan bininya, sebut saja Darti, usia 24 tahun. Di usia pernikahan yang baru seumur jagung, rumahtangganya berantakan lantaran perselingkuhan sang bini terbongkar.

Dua minggu lalu, ada rame-rame. Bukan rame-rame potong padi, karena di Tanjungkarang tak ada lagi yang namanya sawah. Tapi ramenya orang menggerebek perselingkuhan Darti, yang sedang dikelon sama selingkuhannya di kos-kosan di Sukarame.

Tak pandang lelaki tak pandang perempuan, jika punya bakat selingkuh menonjol, mengontrak atau kos rumah hanya untuk sekedar ajang memacu birahi, bukanlah tabu. Ketika pengambil inisiatifnya pihak wanita, sangat boleh jadi uang belanja jatah dari suami sebagian besar ngeposnya ke anggaran birahi. Ini kan sama saja buang-buang anggaran.

Darti ternyata termasuk wanita beginian. Wajah Darti juga cukup cantik, kulit putih mulus, dan betis bunting padi, didukung dengan bodi aduhai. Tak puas dengan pelayanan suami di ranjang, dia lalu mencari selingkuhan. Kebetulan yang mampir di hatinya bukan sosok lelaki yang bonafid. Artinya, si dia masih penganggur tulen.

Maklum, pemuda yang ditemuinya yang selama ini melayani aspirasi urusan bawah Darti, sesungguhnya memang tak punya modal materil, kecuali onderdil. Tapi tak masalah, karena Darti pernah bilang: “Yang penting kamu sering makan telur ayam kampong mentah diaduk sama madu.

Kapan koalisi asmara Darti dan selingkuhannya mulai dibangun, tak ada catatan yang otentik. Yang jelas, sejak istri Darto jadi pintar sekali memainkan anggaran, tak kalah dengan politisi di Senayan. SIAP (sisa anggaran pembelanjaan) yang biasanya masuk tabungan, kini lebih banyak dialirkan kepada gendakannya. Soalnya, kadung ada simbiosis mutualis di sini. Si selingkuhan dapat uang sedangkan Darti dapat kenikmatan yang bikin merem melek.

Kapan koalisi asmara Darti dan selingkuhannya mulai dibangun, tak ada catatan yang otentik. Yang jelas, sejak istri Darto jadi pintar sekali memainkan anggaran, tak kalah dengan politisi di Senayan. SIAP (sisa anggaran pembelanjaan) yang biasanya masuk tabungan, kini lebih banyak dialirkan kepada gendakannya. Soalnya, kadung ada simbiosis mutualis di sini. Si selingkuhan dapat uang sedangkan Darti dapat kenikmatan yang bikin merem melek.

Agaknya menejemen selingkuh berbasis hotel, bisa menguras anggaran. Maka kemudian Darti berinisiatif mencari kontrakan di sekitaran Sukarame, agakjauh dari rumah dong biar aman. Lagaian kalau ngontrak pan lebih murah, dipakainya Cuma buat memacu birahi.

Hari demi hari, minggu demi minggu, skandal asmara Darti berjalan mulus. Tapi lama-lama Darto selaku suami curiga juga. Kenapa amplop gaji yang selalu diberikan pada istri, sekarang tak pernah cukup sampai sebulan. Sedangkan menu di rumah juga biasa-biasa saja, sementara istrinya juga tak tampak suka beli ini itu. Tapi celakanya, ketika diminta terbuka soal penggunaan anggaran, Darti tak mau menjawab.

Akhirnya Darto pun curiga bahwa ketidakberesan pengelolaan anggaran itu karena istrinya punya selingkuhan. Maka diam-diam dia mengawasi dan mencermati gerak-gerik bininya. Dugaannya benar. Ternyata istrinya memang punya gendakan di Sukarame, yang secara priodik mengadakan pertemuan ranjang

Yang rugi biarkan saja rugi. Yang pasti Darti tak tahu bahwa suaminya mulai curiga atas permainannya. Maka saat dia kembali berasyik masyuk dengan selingkuhan beberapa hari lalu, tiba-tiba sejumlah orang bawaan Darto menggerebeknya. Meski sedang tidak berbuat, bukan pasangan suami istri tinggal sekamar, sudah cukup alasan bagi Darto untuk mengusirnya dari rumah.

786 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan