Taufik Hidayat, Saudara Angkat Agung Ilmu Mangkunegara yang Bongkar Praktik Korupsi Pemkab Lampung Utara

Taufik Hidayat, Saudara Angkat Agung Ilmu Mangkunegara yang Bongkar Praktik Korupsi Pemkab Lampung Utara

Taufik Hidayat membeberkan praktik korupsi di Pemkab Lampung Utara saat bersaksi di Pengadilan Negeri Tanjungkarang. Foto: Tommy Saputra/Fajar Sumatera

Bandar Lampung – Orang kepercayaan Bupati Lampung Utara non aktif Agung Ilmu Mangkunegara. Begitu informasi yang saya dengar dari orang-orang tentang sosok Taufik Hidayat saat kasus korupsi suap fee proyek pada Dinas PU-PR dan Dinas Perdagangan diungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Tiba waktunya untuk mendengar dan membuktikan informasi itu. Kala itu Taufik Hidayat menjadi saksi di persidangan kasus korupsi ini dengan terdakwa Chandra Safari –orang yang diduga melakukan suap kepada Agung– di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Senin (20/1/2020). Taufik tidak sendiri, jaksa KPK Taufiq Ibnugroho juga menghadirkan Agung, mantan Wakil Bupati Lampung Utara Sri Widodo, Raden Syahril, Sairul Hanibal dan Abdurrahman.

Saat sidang dimulai, Taufik ditanyai tentang hubungannya dengan Agung. Sejauh penjelasan yang diungkapnya, Taufik mengaku dia dan Agung adalah saudara angkat.

“Saya sudah lama kenal dengan Agung ketika dia masih kuliah. Sebelumnya saya satu angkatan dengan sepupu Agung. Suatu ketika, kami kenalan. Akhirnya kami kenal baik. Pertemanan kami di awali ketika sepupu Agung menikah dan saat itu saya diundang. Hingga akhirnya kami berdua sepakat untuk melaksanakan acara adat, angkenan. Upacara untuk menyatakan kami berdua adalah saudara angkat,” kata Taufik.

Kedekatan mereka berdua diakuinya hanya sebatas itu saja. “Hubungan lain tidak ada. Saya kenal dia waktu dia masih di STPDN,” tegasnya kepada jaksa KPK. Saat itu jaksa tidak meminta klarifikasi dari Agung tentang keterangan Taufik.

Kedekatan hubungan ini lantas tidak membuat Taufik membela Agung. Dalam sesi tanya jawab dengan jaksa, Taufik justru membeberkan aib Pemerintah Kabupaten Lampung Utara di masa kepemimpinan Agung. Ia menyatakan praktik koruptif tak hanya terjadi pada Dinas Perdagangan dan Dinas PU-PR, seperti yang diungkap KPK melalui Operasi Tangkap Tangan, 6 Oktober 2019 lalu.

“Secara tegas, tidak ada penyampaian dari Agung untuk bermain proyek di Lampung Utara. Saya hanya diminta Agung untuk berkoordinasi dengan Dani dan Syahbudin untuk menyiapkan sesuatu untuk tim sukses,” ungkap Taufik. Dani adalah adik kandung dari Agung, bernama lengkap Akbar Tandaniria Mangkunegara. Syahbudin adalah Kadis PU-PR Lampung Utara periode 2014-2019.

Sesuatu yang harus disiapkan ini diperjelas Taufik. Maksud dan tujuan ucapan Agung itu akhirnya disimpulkan Taufik dengan melakukan pembagian proyek-proyek pekerjaan. Arahan dari Agung ini diakuinya sudah berlangsung sejak tahun 2014. Pembagian proyek itu dilakukan karena tim sukses Agung Ilmu Mangkunegara sudah bertanya tentang nasib mereka. “Saya diminta untuk menyiapkan proyek untuk tim sukses,” jawabnya kepada jaksa KPK, Taufiq Ibnugroho kala itu.

Dari sini, Taufik membuka peran-peran orang lain yang turut membagikan proyek. Salah satu nama yang disebutnya adalah Tohir Hasyim, paman kandung dari Agung Ilmu Mangkunegara. Tohir disebutnya turut melakukan tugas sesuai arahan Agung. Tohir tidak sendiri, ada Dani yang membantu. Mereka berdua menurut Taufik berperan untuk menyiapkan proyek kepada kontraktor atau pengusaha yang mendukung Agung saat maju pada Pilkada 2013 silam.

Tak hanya itu, Taufik juga menyebut nama Hadi Kesuma, Sofyan, Gunaido Utama dan Desyadi. Sosok Hadi Kesuma dan Sofyan tidak dipertegas Taufik. Sekali lagi, Taufik mengungkap nama orang yang masih saudara dari Agung. Yaitu, Gunaido Utama, Sekretaris Inspektorat Lampung Utara yang juga masih sepupu kandung Agung.

Gunaido Utama disebutnya sebagai orang yang mengelola pembagian proyek di Dinas Pendidikan. Sedangkan Desyadi mengambil peran di Dinas Kesehatan. “Kalau Gunaido di Dinas Pendidikan. Dari tahun 2015 sampai sekarang,” terang Taufik soal peran Gunaido. “Kalau Desyadi di Dinas Kesehatan sejak 2016,” ketusnya.

Taufik juga mengatakan ada praktik yang sama terjadi Dinas Perizinan Lampung Utara. Tapi Taufik lupa siapa nama orang yang berperan di sana. “Ada juga yang mengutip proyek di Dinas Perizinan,” ucapnya. Tapi Taufik mengaku lupa siapa nama orang yang mengambil peran di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu itu.

Membaca Gerak-gerik Jaksa dan Majelis Hakim

Dari kesaksian Taufik, sikap jaksa KPK Taufiq Ibnugroho tidak seperti biasanya. Pada sidang-sidang sebelumnya, justru Taufiq lah yang menggali sejumlah aliran dana ke aparatur penegak hukum lainnya saat Syahbudin bersaksi. Seketika itu, pemberitaan di media massa heboh saat fakta tersebut diungkap.

Perlakuan majelis hakim juga tidak jauh beda. Saat giliran majelis hakim yang diketuai Novian Saputra tiba, tidak satupun hakim melayangkan pertanyaan yang bersifat menggali kepada Taufik maupun Agung mengenai praktik korupsi pada dinas-dinas lain.

Perlakuan majelis hakim ini berbeda dibanding sidang terdahulu. Saat Syahbudin memberikan kesaksian tentang aliran dana ke sejumlah pihak, majelis hakim justru tertarik untuk menggali keterangan Syahbudin.

Keterangan Syahbudin yang digali majelis hakim salah satunya tentang aliran dana ke Badan Pengawas Keuangan (BPK) Lampung.

Kala itu Syahbudin mengatakan ada aliran dana yang dikucurkannya ke BPK. Dengan sigap hakim anggota Ahmad Baharudin Naim menggali informasi itu. “BPK itu apa? Ke siapa? Berapa kali diberikan?” begitu pertanyaanya ke Syahbudin.

Saat ditanya mengenai sikapnya, Taufiq Ibnugroho berkata bahwa keterangan Taufik Hidayat tersebut nantinya akan digali kembali saat Agung Ilmu Mangkunegara menjalani sidang sebagai terdakwa.

“Kalau sidang untuk pemberi, kita fokus kepada pemberi dulu. Mungkin keterangan Taufik itu lebih tepat kita gali kalau sidang Agung dimulai. Di sana lebih tepat kita gali,” katanya.

Anggota majelis hakim Ahmad Baharuddin Naim angkat bicara soal sikapnya itu. Ia berkata, kedudukan majelis hakim dalam memimpin sidang adalah untuk fokus pada surat dakwaan dari jaksa.

Ia menyatakan jika keterangan Taufik itu digali, maka proses sidang tidak lagi berjalan dengan baik. Sebab, keterangan Taufik itu dianggap tidak memiliki keterkaitan dengan terdakwa Chandra Safari.

“Secara teoritis, basis hakim untuk memeriksa perkara adalah surat dakwaan. Kalau ngalar ngidul begitu bagaimana bisa? Dan lagi, relevansi (dari keterangan Taufik) dengan perbuatan terdakwa itu apa?” katanya.

Mendengar keterangan Taufik itu, majelis hakim akan menindaklanjuti keterangan Taufik saat sidang dengan terdakwa Agung Ilmu Mangkunegara dimulai. Jawaban Ahmad Baharuddin Naim dengan Taufiq Ibnugroho, serupa. “Kalau mau relevan, kita tunggu saat sidang dengan terdakwa Agung dimulai. Ini bicara momen ya, supaya ada relevansi,” tambahnya.

Pengamat Hukum dari Universitas Negeri Lampung, Yusdianto Alam menilai penjelasan majelis hakim dan jaksa dinilai tidak tepat. Menurut Yusdianto, majelis hakim dan jaksa terlalu melebih-lebihkan persidangan Agung Ilmu Mangkunegara.

“Padahal tidak ada bedanya antara sidang pemberi dan penerima. Kita berharap persidangan selanjutnya bersifat progresif, konsisten dan adil. Artinya begini, mari kita memperjelas setiap keterangan dari semua pihak. Jangan sampai muncul kesan tidak ada upaya yang konkret untuk memperjelas semuanya di hadapan publik. Supaya publik tidak bertanya-tanya,” harap Yusdianto saat dimintai tanggapannya, Sabtu (25/1/2020).

“Setiap keterangan harus ditindaklanjuti oleh jaksa, supaya semua pihak yang terlibat dalam praktik korupsi dapat bertanggung jawab,” tegas Yusdianto. (Ricardo)

Posting Terkait