Tekanan Inflasi Lampung Dibawah Nasional

BANDARLAMPUNG—Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung selama November 2017 tercatat sebesar 0,19% (mtm) dan secara tahunan sebesar 3,21% (yoy). Tekanan inflasi bulanan tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi rata-rata di Sumatera (0,35% (mtm) dan nasional 0,20% (mtm).

“Angka inflasi juga lebih rendah dibandingkan pola historisnya dalam 3 tahun terakhir dengan rata-rata 0,52% (mtm),” ujar Kepala Bank Indonesia Perwakilan Wilayah Lampung, Arief Hartawan.

Menurut dia, tekanan inflasi November 2017 terutama bersumber dari kenaikan harga kelompok pangan (volatile food) karena kenaikan harga komoditas pangan utama seperti bawang merah, cabai merah dan beras serta kelompok harga yang ditetapkan pemerintah (administered prices) karena kenaikan harga rokok.

Dari pantauan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), dibandingkan provinsi se-Sumatera, inflasi di Lampung  menempati posisi yang cukup baik dengan berada di urutan ke-7 dari total 10 provinsi.

Secara spasial, dibandingkan kota-kota yang menjadi sampel inflasi di Sumatera dan secara nasional, inflasi Kota Bandarlampung dan Kota Metro masing – masing menempati urutan ke-44 dan 62, lebih baik dibandingkan posisi bulan sebelumnya.

Secara kumulatif sejak awal tahun 2017, inflasi IHK Lampung tercatat masih terjaga di level yang cukup rendah yakni sebesar 2,57% (ytd), atau masih di bawah tingkat inflasi nasional sebesar 2,87% (ytd) sehingga diperkirakan dapat mendukung pencapaian sasaran inflasi tahun 2017 sebesar 4±1%.

Tekanan inflasi pada kelompok pangan (volatile food) tercatat sebesar 0,71% (mtm) atau meningkat jika dibandingkan bulan sebelumnya yaitu sebesar 0,46% (mtm).

Tingginya tekanan inflasi dipicu oleh kenaikan harga pada beberapa komoditas pangan yakni bawang merah, cabai merah, dan beras, yang utamanya dipengaruhi oleh faktor cuaca yang kurang kondusif. Selain itu, tekanan harga pangan bulan ini juga dipengaruhi oleh pergeseran harga beras medium ke premium sebagai konsekuensi dari penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Harga beras medium di penggilingan mengalami kenaikan sebesar 2,08% (mtm) untuk menyesuaikan harga beras premium. Sementara itu, kenaikan harga rokok dan bahan bakar rumah tangga mendorong inflasi administered prices yang mencapai 0,19% (mtm).

Peningkatan harga pada rokok terjadi seiring dengan rencana kenaikan tarif cukai rokok di Januari 2018 sebesar rata – rata tertimbang 10,54%. Peningkatan juga terjadi pada Bahan Bakar Rumah Tangga seiring dengan keterbatasan pasokan serta adanya pengaruh kenaikan harga elpiji di pasar dunia.

Tekanan inflasi yang lebih tinggi di kelompok administered prices dapat diredam oleh penurunan tarif angkutan udara di bulan November 2017 seiring dengan pelemahan permintaan yang terjadi pasca beberapa event besar di Lampung pada bulan Oktober 2017.

Pada kelompok inti, justru mengalami deflasi sebesar -0,03% (mtm), sedangkan pada bulan sebelumnya tercatat inflasi 0,02% (mtm). Melemahnya tekanan inflasi kelompok inti tersebut didorong oleh koreksi harga yang terjadi pada gula pasir yang menyumbang sebesar -0,01%.

Mencermati perkembangan inflasi sampai dengan saat ini, KPw Bank Indonesia Provinsi Lampung memandang tingkat inflasi Provinsi Lampung telah mengarah pada kisaran sasaran inflasinya.

Untuk tetap menjaga momentum tingkat inflasi yang rendah sebagaimana tahun sebelumnya, KPw Bank Indonesia Provinsi Lampung memandang tetap perlu mewaspadai meningkatnya risiko tekanan inflasi yang bersumber dari gejolak harga kelompok komoditas pangan (volatile food) dan administered prices.

Pertama, masuknya musim penghujan dan cuaca yang kurang kondusif (siklon tropis dahlia) berpotensi mempengaruhi pasokan komoditas akibat kerentanan produksi dan OPT dan gangguan distribusi.

Kedua, mulai meningkatnya harga minyak dunia akan memperbesar peluang kenaikan BBM yang berdampak lanjutan pada tarif angkutan umum maupun angkutan barang.

Ketiga, risiko meningkatnya harga beras akibat belum lancarnya penerapan HET beras khususnya kualitas medium dan premium. Keempat, potensi peningkatan permintaan pada akhir tahun, terutama angkutan.

Mengingat masih terdapat beberapa risiko yang dapat menyebabkan gejolak harga dan mendorong kenaikan harga lebih tinggi, TPID bersama dengan SATGAS Pangan perlu melanjutkan upaya stabilisasi harga di Provinsi Lampung.(IH)

 

1,202 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Tak Berkategori

Berita Terkait

Leave a Comment