Tradisi Lupa Aturan

Ngupi Pai

Ngupi Pai

Oleh Supendi

Kalau ditanya apa yang paling identik dengan bulan Ramadan, jawabannya bisa beragam. Mulai dari amalan khas seperti puasa dan tarawih sampai hadirnya menu khas puasa semacam kolak atau takjil berbuka lainnya. Tapi yang tak kalah identik adalah meningkatnya aktivitas suara TOA atau pengeras suara masjid.

Buat kita yang muslim, pengeras suara di masjid adalah kebutuhan. Untuk shalat lima waktu misalnya, suara azan menjadi penanda masuknya waktu shalat. Dibulan Ramadan, suara lantunan ayat suci Alquran dan selawat lebih sering terdengar dibanding hari biasa. Dan itu tak sekadar kebutuhan melainkan sudah menjadi tradisi.

Bahkan sekalipun suaranya terdengar hingga larut malam ini juga sudah tradisi. Kalaupun kesal karena merasa terganggu, ya hanya bisa memendamnya dalam hati. Kalau mau protes, kejadiannya bisa seperti Frank Jean Pierre Schulthess.

Warga Negara Perancis yang tinggal di Kampung Ciampea Hilir, Desa Tegal Waru, Bogor baru-baru ini ngamuk dan protes karena merasa terganggu dengan pengeras suara masjid. Dia pertama kali datang marah-marah saat jemaah tengah selawatan dini hari. Lalu datang lagi di pagi harinya sekitar pukul 10.30 karena suara selawat yang dikirannya karaokean. Kasus ini pun berlanjut ke kepolisian hingga akhirnya berujung damai, Frank minta maaf karena tak tahu tradisi.

Benarkah semuanya karena tradisi atau memang ada aturan mainnya? Sebagai referensi, di negara yang mayoritas muslim seperti Arab Saudi (sumber: tirto.id), penggunaan pengeras suara juga dibatasi terutama di masjid. Pengeras suara luar atau eksternal bahkan dimatikan dan hanya diizinkan menggunakan speaker yang berada di dalam masjid kecuali untuk azan, salat Jumat, salat Ied dan salat minta hujan.

Sebelum terbit peraturan tahun 2015, sempat muncul sejumlah suara protes di Arab Saudi menentang volume suara pengeras suara dari masjid-masjid yang dianggap terlalu kencang terutama di kawasan permukiman penduduk. Penentangan tersebut tidak berlaku bagi azan, tetapi menyangkut kegiatan keagamaan lain seperti pengajian dan lomba khotbah.

Lalu gimana dengan aturan pengeras suara di Indonesia? Intruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor KEP/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Mushalla (Instruksi Dirjen Bimas 101/1978) sebenarnya sudah mengatur secara rinci tentang aturan penggunaan pengeras suara di masjid dan mushola.

Secara garis besar, pengeras suara luar digunakan untuk adzan sebagai penanda waktu shalat lima waktu. Sedangkan untuk doa, bacaan salat, khutbah jumat dan doa hanya memakai suara ke dalam. Khusus bulan Ramadan, tarhim do’a, bacaan Alquran memakai suara ke dalam.

Lain aturan lain kenyataan. Di mayoritas daerah, pengurus masjid masih mengedepankan kebiasaan dibandingkan aturan. Tak peduli suara yang keluar dari TOA masjid bakal mengganggu atau tidak. Karena jangankan non muslim, orang beragama Islam sendiri juga banyak yang risih kalau pengeras suara masjid dipakai semau-mau. Ibu-ibu pengajian di siang bolong misalnya, kalau sekadar memanggil jamaah untuk datang ke pengajian sih masih wajar-wajar saja, tapi lain halnya kalau sudah nyanyi-nyanyi lagu bertema Islam. Bukankah lebih baik kalau memakai suara ke dalam saja, toh sasaran audience nya kan emang emak-emak pengajian.

Tapi pengurus masjid juga tak bisa sepenuhnya disalahkan. Ada Kemenag yang menelurkan aturan tapi tak pernah tuntas pada sosialisasi di lapangan, apalagi bicara sanksi. Akibatnya kalau sesama masyarakat terlebih yang beragama lain datang mengingatkan bakal rawan terjadi gesekan. Akan muncul tudingan, “Dasar tak tahu tradisi Islam”.(*)

614 kali dilihat, 25 kali dilihat hari ini

pengeras suara masjid TOA masjid

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan