Udara Pembebasan Aulia

Oleh Jajang R Kawentar

 

PiHKaL, oil on canvas, 90 cm x 118 cm, 2018. IST

DALAM penjara tak ada media yang memadai untuk berekspresi, semua serbaterbatas. Namun gagasan itu tak pernah terpenjara, ia semakin liar dan brutal. Begitu Aulia Muhammad setelah satu tahun setengah tak berbicara dan terus merenung, hingga teman-teman Narapidana lain menganggap dirinya sudahgila. Selama 9 tahun di dalamSel, Cebongan, Wirogunan dan berakhir di Pakem.

Bagaimana remuk redamnya, antara pisik dan perasaannya, antara tubuh dan ruhnya. Yang tertanam dalam pikirannya adalah intimidasi dan kekerasan. Kekerasan pisik dan psikisnya, baik dari dalam dan dari luar dirinya. Sekian lama dia mengidap rasa ketakutan, kengerian, trauma dan tidak mendapatkan obat atau solusinya. Dia masih dapat bertahan, menyelamatkan hidupnya dari deraan dan penderitaan tersebut. Dia masih punya Ibu, semangat, dan harapan.

Cintanya pada Ibu membuatnya tidak menyerah pada hidup, meski dalam jeruji besi dan tak tau arah. Namun perjuangan telah sampai pada jalan yang baik, lurus dan benar, seperti yang telah diyakininya. Dia telah menemukan sebuah kesimpulan, yaitu berkarya seni rupa. Itulah obat sekaligus jalan menyelamatkan hidupnya. Dengan mengungkapkannya pada selembar kertas atau kanvas atau menjadikannya bentuk tiga dimensi.

Dia tidak begitu faham dengan berbagai polemik atau teori seni rupa namun dia memiliki semangat berkarya. Menuangkan keluh kesah persoalan dan kebahagiaannya, juga pengetahuannya serta gagasannya. Setiap karya menyimpan data yang tersimpan dalam memori, yang penuh dan jenuh dengan pesoalan kemanusiaan serta ide kreatifnya. Di dalamnya terdapat simbol, kode, rumus-rumus fisika dan kimia yang sengaja disembunyikannya dalam lukisannya.

Baca Juga:  Menko PMK Buka Pameran Seni Koleksi Istana Kepresidenan

Dia termasuk ahli kimia yang dapat menciptakan imajinasi serta halusinasi bagi yang mencobanya. Pengalaman itulah yang ia uji cobakan dalam karya seni rupa khususnya lukis. Mungkin menawarkan imajinasi dan halusinasi bagi yang menikmatinya hasil racikan. Dia menyadari dan menikmati kerja itu, persetan dengan yang dipikirkan orang tentang karyanya. Karena karya itu sebagai obat, semangat hidup menuju jalan kebaikan.

“Aku merasa melakukan hal yang belum pernah aku lakukan , aku memasuki dunia ilusi dan inajinasi, pandanganku kabur, telingaku berdengung, tanganku gemetar,dan detak jantungku melemah. Tubuhku terasa dingin,mulutku sulit untuk berbicara dan aku kehilangan kontrol atas diriku. Aku masih bisa mengingat apa yang orang ucapkan, Aku masih bisa merespon apa yang orang berikan, aku masih bisa berjalan normal dan aku masih mampu mencerna makanan. Namun saat itu semuanya bukanlah aku yang sebenarnya.” Begitulah Aulia Muhammad bercerita mengenai salah satu karyanya yang berjudul : PiHKaL, oil on canvas, 90 cm x 118 cm, 2018.

Dia sempat berkata disuatu malam yang hening dengan lemah lembut, penuh emosi kepasrahan, “Kepada binatang saja tidak boleh memukul, apalagi kepada sesama manusia hingga babak belur,” suaranya mengarahkan pada pengalaman pahit dalam penjara dan pengalaman mengapa dia memilih menghibur diri dengan barang yang membuatnya terlena, meskipun terlarang. Dalam hal ini yang paling mendalam diingat adalah wajahnya, yang bonyok akibat kekerasan.

Aulia Muhammad terjerat kasus narkoba jenis ganja, waktu itu masih mahasiswa semester 8 Universitas swasta Yogyakarta jurusan Teknik Industri. Kejadiannya pada tahun 2007, terkena hukuman 2,5 tahun.  Pertama dia dimasukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan 4bulan, Lapas wirogunan 4bln, lalu dipindah ke Lapas narkotika Pakem sebagai penghuni pertama semenjak Lapas dibuka. Setelah 10 bulan menginap di sana dia keluar, bebas bersyarat pada Mei 2009.

Baca Juga:  Nyawiji di Tahun Politik

Setelah 6 bulan menghirup udara bebas, tertangkap lagi karena ganja 1kg, sabu sisa pakai,  ekstasi 300 butir. Menurut pengakuannya dia tidak pakai ekstasi, barang itu milik orang yang dia sendiri tidak kenal.

2011 mulai melukis, drawing, skets. Dia tidak melupakan jasa baik kepada beberapa seniman yang masuk lapas belajar cara pewarnaan dari mengamati dan bertanya kepada mereka.

“Melukis sesuka hatimu saja.” Itu kalimat yang terus melekat diingatan terucap dari seniman yang pernah bersamanya dalam sel. Sehingga menumbuhkan keberanian mengungkapkan segala hal yang terpendam dalam ingatan dan yang dirasakannya.  Dia menggambar mulai tengah malam setelah para narapidana lain tidur semua.

Namun perjuangan dalam melalui proses itu masih kena gojlog dari warga Lapas.

“Opo itu gambar ra ceto!”

“Kamu Nyampah.”

“Gambar yang ‘berner’!”

2015 mulai intens melukis dan mulai berani terang-terangan. Mulai bangun pagi, ngopi, cari rokok dan sampai malam  melukis. Aktifitasnya itu menjadi tontonan para narapidana lain. Karena minimnya media, setiap melukis yang baru dia harus ngeblok karya yang sebelumnya. Karyanya betul-betul menjadi hiburan Narapidana lain. Mereka bisa bercanda, setiap bentuk atau pigur yang digambarnya menjadi tokoh atau bahan tertawaan, bahan cerita konyol. Aulia mulai bisa menikmati guyonan, dan ejekan kawan-kawannya yang sengaja ingin menonton dirinya melukis. Sampai pada tahun 2016 pameran di Lapas.

Pada tahun 2015 belum diikutkan pameran di Wirogunan, lukisannya dianggap tidak layak oleh para petugas Lapas karena tidak menggambar realis.

Baca Juga:  Putri Chairil Anwar Buka Pameran Seni Rupa Preeet

“Lukisan apa ini, gak jelas!” kata oknum pegawai Lapas dengan bercanda seperti dikatakan Aulia.

Walau begitu dia mendapatkan penghargaan festival seni lukis internasional. Finalis Tokyo International Mini Print Triennial 2018 di Tokyo, Jepang. 3rd Winner Drawing di Accdemia Riaci Italy 2019. Karyanya lolos di Florence Biennial 2019 katagori Painting.

Karya yang dipamerkan kali ini merupakan proses menemukan jati diri dan menggantikan cara sakau menginginkan barang haram atau ingin mencoba bereksperimen membuat ramuan kimia menjadi narkoba, kini diaplikasikan menjadi sebuah karya seni. Mestinya karya seninya itu menjadi seperti candu.

Di mana proses ini menjadi sangat penting, untuk dipresentasikan. Bagaimana Aulia Muhammad belajar dan mengajari dirinya sendiri berkarya seni, seperti bagaimana dia melakukan, meracik bahan kimia menjadi obat yang membuatnya merasakan adanya halusinasi, imaginasi liar dan ilusi.  Karya yang ditampilkan hanya 25 buah dari ratusan karya yang dihasilkan dari kerja kreatifnya selama dalam penjara Pakem, antara 2016 sampe 2018 menjelang menghirup udara bebas.

Ada 23 karya lukis dan drawing di atas kertas berukuran A3 dan A4, serta dua karya lukis di atas kanvas yang bisa membuat kita mabuk.

“UdaraPembebasan” merupakan tema pameran seni rupa karya Aulia Muhammad, yang digelar di Asmara Art and Coffe Shop, Jl. Tirtodipuran no. 22 Yogyakarta, 15 April – 4 Mei 2019. Pameran dibuka oleh M. Ali Syeh Banna, Bc.IP ,S.Sos, M.Si, Kepala Balai Pemasyarakatan Kelas l Yogyakarta 15 April 2019 pukul 20.00 WIB dengan hiburan Band Black Finit dan Sanjonas. []

 

Jajang R Kawentar, Kurapreeet dan Penulis di Art Crtique Community

 

 

Aulia Muhammad pameran Seni Rupa

Posting Terkait