Warga Katibung Tuntut PT Woongsol Hentikan Aktivitas

Edi | Fajar Sumatera

KALIANDA – Ratusan warga Dusun Katibung, Desa Sukabanjar, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, menggelar aksi unjuk rasa akibat dampak limbah berupa debu yang di kelola industri dari perusahaan yang bergerak dibidang pengelolaan sabut kelapa milik PT Woongsol, Senin (11/11).

Dalam aksi ini, warga meminta agar PT Woongsol, menghentikan kegiatan operasi perusahaan sementara, sebelum memenuhi tuntutan warga.

Pasalnya, limbah debu yang diakibatkan dari industri perusahaan milik warga Korea Selatan, yang bergerak pengelolaan sabut kelapa itu sangat mengganggu kesehatan dan pernapasan warga sekitar hingga ke permukiman.

Baca Juga:  Limbah Getah Karet Sebabkan Kanker

Bahkan, agar tidak terserang limbah industri sabut kelapa, masyarakat harus menggunakan masker, penutup kepala dan kaca mata.

“Kalau rumah harus ditutup semua lubang angin, itu pun debu tetap bisa masuk melalui celah-celah,” kata Buyung (49) salah seorang tokoh masyarakat setempat.

Sementara itu, Kepala Dusun (Kadus) setempat, Mumu, mengatakan, bahwa Dusun Katibung tidak hanya terdiri atas permukiman warga, akan tetapi terdapat juga pondok pesantren dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Baca Juga:  Limbah 5 Perusahaan Cemari Sungai Buaya

“Kami khawatir akan berdampak buruk terhadap anak anak sekolah disini,” kata Mumu.

Sementara itu Kepala Desa Sukabanjar, Kecamatan Sidomulyo, Asikin, mengaku sudah menyampaikan keluhan warga ke perusahaan tersebut.

“Namun, pihak perusahaan tidak pernah menanggapi serius apa yang di keluhkan warga sekitar selama ini. Tidak pernah ada solusinya juga. Perusahaan pun tidak pernah berikan CSR,” kata Asikin.

Baca Juga:  Limbah 5 Perusahaan Cemari Sungai Buaya

Saat dikonfirmasi, petugas Satuan Pengaman (Satpam) mengatakan seluruh pimpinan PT Woongsol tidak ada ditempat.

“Saat ini seluruh pimpinan sedang tidak ada tempat,” ujar salah seorang Satpam yang enggan disebutkan namanya itu.(EDI)

Debu Katibung Limbah PT Woongsol

Posting Terkait