Zainudin Sikapi Kelangkaan Garam

Ilustrasi. (Ist)

KALIANDA–Soal kenaikan harga garam yang terjadi sebulan terakhir, tak terkecuali di Lampung Selatan, membuat orang nomor satu di Kabupaten ini angkat bicara.

Hal ini diungkapka orang nomor satu di Lampung Selatan, usai Gebyar Paud dalam rangka Hari Anak Nasional, di Lapangan Cipta Karya Way Urang, Kalianda, Bupati Lampung Selatan, H. Zainudin Hasan, mengatakan bahwa dirinya sebagai pemimpin daerah harus peduli dengan kesusahan yang dialami rakyatnya.

“Memang persoalan kenaikan harga garam dialami oleh sebagian besar wilayah di Indonesia ini. Khusus untuk persoalan kenaikan harga garam ini, khususnya di wilayah Lampung Selatan, akan menjadi bahan masukan yang akan saya bawa dan bahas pada saat Rapat Koordinasi (Rakor) para Bupati dengan Bapak Presiden yang akan datang”, ujar Zainudin Hasan.

Baca Juga:  Tiga Tahun Pelayanan Publik di Lampung Selatan Stagnan

Kemudian, untuk jangka pendek, dirinya mengaku akan segera membahasnya dengan Satuan Kerja (Satker) yang membidangi perindustrian dan perdagangan atau yang terkait.

“Segera akan kita bahas bersama satker terkait perindustrian dan perdagangan Lampung Selatan. Karena potensi laut di Lamsel cukup luas, makanya diperlukan pembahasan. Dan perlu diketahui, tidak semua potensi laut bisa dibuat garam. Ada unsur-unsur dalam laut yang bisa menjadi garam dan ada yang tidak”, kata Bupati, adik kandung Zulkifli Hasan, Ketua MPR RI tersebut.

Baca Juga:  KPK Kembali Geledah Kantor Bupati Dan DPRD Lampung Selatan

Seperti kita ketahui, fluktuasi harga garam, khususnya yang terjadi di Kalianda, menyebabkan beberapa pengguma bahan baku makanan tersebut bersiap-siap gulung tikar usahanya.

Salah satunya pedagang es tung tung yang biasa berdagang di sekitaran Kota Kalianda, Iswandi (48). Dirinya menilai harga garam yang naik sebulan terakhir dianggap sangat memberatkan.

“Waduh mas, harga garam bukan lagi naik, tapi pindah harga. Biasanya bulan lalu cuma 8 ribu sampai 10 ribu persak isi 10 bungkus, sekarang jadi 35 – 40 ribu persaknya. Berat mas, modal saya bertambah jadi 70 ribu perharinya untuk bahan baku pengeras es tung-tung. Kalau begini jadinya, saya berniat stop dulu jualan es. Mungkin daya akan beralih jual ayam saja atau berfikir jualan yang lain”, keluh Iis, panggilan akrabnya.(AS)

612 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan