Chusnunia Chalim Takut Ditersangkakan KPK Bila Kembalikan Sisa Uang Biaya Perahu Politik

Chusnunia Chalim Takut Ditersangkakan KPK Bila Kembalikan Sisa Uang Biaya Perahu Politik

Ketika diperiksa, Chusnunia Chalim disebut KPK patut diduga mempengaruhi seorang saksi agar mengakui telah menerima uang Rp 150 juta dan menggunakannya untuk membangung kantor DPC PKB Lampung Tengah. KPK telah mengantongi kesaksian orang yang tahu tentang niat Chusnunia Chalim tersebut. Namun Chusnunia Chalim mampu menjamin bahwa hal tersebut tidak pernah dilakoninya. Foto: Ricardo Hutabarat

Fajar Sumatera – Mustafa seorang terdakwa atas perkara suap dan gratifikasi yang didakwakan KPK mendapat giliran untuk berbicara dalam persidangan atas kasusnya di PN Tipikor Tanjungkarang, Kamis, 4 Maret 2021.

Ia memilih bertanya kepada Chusnunia Chalim -seorang saksi yang diperiksa di ruang sidang atas kapasitasnya sebagai mantan Bupati Lampung Timur. Seyogyanya Chusnunia Chalim alias Nunik adalah Wakil Gubernur Lampung.

Poin pertanyaan dari Mustafa masih menyoal uang Rp 18 M yang diberikannya agar DPW PKB Lampung memberikan dukungan kepada Mustafa saat ingin mengikuti kontestasi Pilkada 2018 silam.

Dalam perjalanannya, PKB yang sudah diberikan uang yang sebagian dari hasil ijon proyek, tidak mendukung Mustafa. Karenanya kemudian, Mustafa meminta uangnya kembali.

Namun uang tersebut tidak sepenuhnya pulang ke tangan Mustafa. Ada sisa Rp 4 M lagi yang belum dikembalikan. Uang Rp 18 M itu disebut oleh Mustafa atas kesepakatan dan komitmen yang dibangunnya bersama Nunik usai bertemu.

Mustafa menguak cerita di balik peristiwa kala dirinya diperiksa di KPK bersama-sama dengan Nunik. Kisah ini tak banyak orang tahu, namun Mustafa sedari awal sidang menegaskan akan membantu KPK membuat perkaranya terang benderang.

“Waktu di penyidikan, waktu kita diperiksa. Pada waktu sholat, saya juga pernah mengingatkan saudara, waktu di pemeriksaan kan kita bareng?” tanya Mustafa.

”Iya,” jawab Nunik.

“Tapi posisi anda sebagai wakil (Wakil Gubernur Lampung), saya sebagai tersangka,” timpal Mustafa.

“Saya sudah ingatkan kepada saudara. Bu Chusnunia, saya minta bantuannya. Tolong sisa uangnya dikembalikan ke KPK.

“Iya,” ucap Nunik.

”Saya jawab apa adanya. Karena ini kan persoalan hukum. Jadi bukan soal mau membantu atau tidak mau membantu. Soal bantu membantu, itu hal lain. Saya sampaikan kepada Pak Mustafa, Pak Mustafa ini ada konsekuensinya kalau membantu, begitu,” lanjut Nunik.

“Baik. Baik. Saudara waktu itu mengatakan kepada saya. kalau uang itu dikembalikan ke KPK, saudara takut jadi tersangka. Saudara waktu di KPK mengatakan kepada saya, saudara bilang, kalau saya kembalikan uang itu, saudara takut jadi tersangka,” timpal Mustafa

Mustafa setelahnya mencoba menyampaikan kepada Nunik agar tidak perlu membuat alasan demikian. Mustafa ingin agar uang itu kembali. Dan soal apa yang dikhawatirkan Chusnunia tadi, biarkan ditanggung Mustafa.

“Bagaimana seandainya saudara kembalikan, nanti saya yang tanggungjawab di persidangan ini,” tegas Mustafa.

Nunik kembali merespons kalimat Mustafa dengan jawaban yang selalu ia lontarkan sebelum-sebelumnya. ”Saya mau membantu. Tapi saya tidak mau nantinya ada persoalan hukum karena soal membantu ini,” kata Nunik.

Mendapat jawaban itu, Mustafa memilih pasrah dan tak mau mendesak Nunik. Karena bagaimana pun, lanjut Mustafa, pelaksanaan pemberian uang Rp 18 M itu berasal dari hasil perundingan antara dia dan Nunik.

“Baik. Saya juga tidak mau terlalu mendesak saudara. Tapi kan yang merunding itu kan, antara saya dan saudara. Kan saya tanyakan ke saudara, apakah Midi dan Khaidir ini adalah utusan saudara? Saudara jawab iya. Betul atau tidak?” tanya Mustafa.

“Nggak mungkin saya serahkan uang itu tanpa kepastian. Tak mungkin saya serahkan uang itu tanpa jaminan,” tandas Mustafa.

Nunik malah kembali bertanya kepada Mustafa apa maksud kalimat Mustafa tersebut. ”Pada saat itu? Pada saat kapan pak?” tanya Nunik.

Mustafa menjawab: ”Waktu kita berdua di kafe Wisma saat itu”.

Melihat kondisi saling tanya jawab antara Mustafa dan Nunik, majelis hakim meminta keduanya berhenti. ”Dia sudah menjawab. Jangan dipaksa,” ketus hakim kepada Mustafa.

Majelis hakim yang sudah sejak tadi mengingatkan Chusnunia Chalim agar berkata jujur membuat penegasan kepada para pihak di dalam ruang persidangan. Sebenarnya bukan seluruh pihak baik jaksa, pengacara hingga majelis hakim sudah berulang-ulang mengingatkan Nunik.

”Hanya kita yang bisa menilai di persidangan ini, berbohong atau tidaknya dia. Penasihat hukum punya pembelaan, penuntut umum punya tuntutan, kami punya putusan. Di sana nanti akan tertuang,” pesan majelis hakim.

Sepanjang persidangan, kegigihan Chusnunia Chalim tidak pernah runtuh dan selalu ingkar terhadap kontekstual pemberian uang senilai Rp 18 M dari Mustafa.

Padahal tiga orang saksi dalam persidangan sedianya telah mengungkapkan bahwa konteks pemberian uang Rp 18 M yang kemudian dilakoni dua orang saksi telah mengatakan Chusnunia Chalim adalah inisiatornya, utamanya pasca Chusnunia bertemu dengan Mustafa di suatu kafe dari pukul 22.00 WIB sampai pukul 01.00 WIB.

Reporter: Ricardo Hutabarat

Chusnunia Chalim KPK Muhaimin Iskandar Mustafa PKB PN Tipikor Tanjungkarang

Posting Terkait