Delilah, Otanjoubi Omedetou Gozaimasu

Bainah Sari Dewi (IST)

 

Oleh Bainah Sari Dewi

Kepala Puslitbang Biodiversitas Tropika Universitas Lampung

 

TEPAT, 12 Mei 2018, Badak Delilah berumur dua tahun, “Otanjoubi omedetou gozaimasu” (Selamat ulang tahun, dalam bahasa Jepang). Badak betina yang lahir di Suaka Rhino Sumatera TNWK, diberi nama langsung oleh Presiden Joko Widodo. Dunia konservasi berbahagia karena saat ini Delilah tumbuh dengan sehat, bahkan telah sama besar dan berat dengan induknya, Badak Ratu. Ungkapan bahagia dan syukur yang terbaik adalah dengan menjaga habitat badak tetap lestari, sehingga kehidupan satwanya dapat berlangsung dengan baik.

 

Badak Sumatera

Indonesia sangat beruntung karena memiliki dua species badak dari lima species badak di dunia. Lima species badak adalah Badak Hitam (Dicerosbicornis longipes), Badak Putih (Ceratotherium simum), Badak India (Rhinoceros unicornis), Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), dan Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis). Dua jenis badak berada di Afrika yaitu badak hitam dan badak putih, badak India di India, sedangkan Indonesia memiliki badak Jawa dan badak Sumatera.

Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) kondisi sangat kritis, namun upaya yang dilakukan oleh Suaka Rhino Sumatera yang didukung oleh Yayasan Badak Indonesia dan Taman Nasional Way Kambas telah menunjukkan bahwa Indonesia mampu menyelamatkan bahkan mengembangbiakan dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan kelahiran badak sumatera jantan bernama Andatu pada 23 Juni 2012 dan badak sumatera betina bernama Delilah pada 12 Mei 2016.

Andatu menjadi tonggak sejarah dalam konservasi badak sumatera di Indonesia juga dunia. Kelahirannya sangat dinantikan, dan kini adiknya Delilah juga berhasil lahir dari induk yang sama yaitu Andalas dan Ratu.

Baca Juga:  Tingkatkan Kepedulian Badak Sumatera, Unila Gelar Worshop

 

Konservasi

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistemnya menjelaskan bahwa konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Indonesia memiliki 515 species mamalia (12% mamalia dunia), 511 spesies reptil (7,3% reptil dunia), 1.531 spesies burung (17% burung dunia), 270 spesies amphibi, 2.827 spesies invertetrabta. Flora dan fauna begitu beraneka ragam menjadi kekayaan luar biasa, perlu dijaga dan dilestarikan. Hal ini karena sebagian termasuk dalam kategori langka dan hampir punah, sehingga harus dilindungi.

Upaya perlindungan dan pengawetan menjadi penting, oleh karenanya Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa sebagai pedoman pelaksanaannya. Dalam PP tersebut terdapat 294 species yang dilindungi, terdiri dari 236 satwa dan 58 tumbuhan. Satwa yang dilindungi yaitu 70 jenis mamalia (menyusui), 93 jenis aves (burung), 31 jenis reptilia (melata), 20 jenis insecta (serangga), 7 jenis pisces (ikan), 1 jenis anthozoa, dan 14 jenis bivalvia. Tumbuhan yang dilindungi yaitu 14 jenis palmae, 1 jenis raflessiaceae, 29 jenis orchidaceae, 1 jenis nephentaceae , dan 13 jenis dipterocarpaceae.

Tantangan dan ancaman konservai cukup banyak, terutama bagi satwa liar yang dilindungi, diantaranya adalah kegiatan dan aktivitas manusia, khususnya illegal logging dan perburuan dan perdagangan satwa illegal. Selain itu juga tekanan habitat akibat perambahan kawasan dan permukiman penduduk, pembangunan infrastruktur. Selain habitat alami, juga ketersediaan pakan dan air yang cukup.

Baca Juga:  Konsevasi Badak TNWK Perluas Lahan Penangkaran

Badak sumatera, misalnya pakan alami menjadi kebutuhan harian, terutama tumbuhan bergetah. Ancaman bagi satwa ini juga dari kontaminasi zat berbahaya, diantaranya Fe (zat besi) dan kimia lainnya. Kebutuhan air digunakan untuk minum dan berkubang. Badak sumetera aktivitas hariannya sebagian besar digunakan untuk berkubang, sehingga dibutuhkan air dan tempat berkubang yang cukup guna kehidupannya.

Namun demikian, konservasi tidak saja diartikan sebagai upaya perlindungan dan pengawetan atas keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya saja. Akan tetapi juga diartikan sebagai upaya pemanfaatan, dengan rambu-rambu dilakukan secara lestari dan tidak merusak sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

 

Heritage Park

Lampung memiliki potensi sumberdaya alam dan sumberdaya hutan yang sangat indah dengan keanekaragaman hayatinya. Lampung memiliki dua Taman Nasional yaitu Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Way Kambas. Internasional mengakui keanekaragaman hayati bahkan menetapkan dua Taman Nasionalnya sebagai heritage park. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebagai World Heritage Park oleh UNESCO bersama Taman Nasional Gunung Leuser di Aceh dan Taman Nasional Kerinci Seblat di Jambi dalam Situs Warisan Gugusan Pegunungan Hutan Hujan Tropis Sumatera (Cluster Mountainous Tropical Rainforest Heritage Site of Sumatera) tahun 2004 lalu  (Balai TNBBS,2014)

Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan luas 125.621,3 hektar menyimpan berbagai potensi istimewa terkait keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. Taman Nasional dengan empat tipe ekosistem hutan, yaitu hutan hujan tropik dataran rendah, hutan rawa, hutan mangrove dan hutan pantai. Lima mamalia besar menjadi ciri dari taman nasional ini yaitu Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Beruang Madu (Helacartos malayanus). TNWK juga memiliki Suaka Rhino Sumatera (SRS) tempat penangkaran badak sumatera semi insitu, dan merupakan satu-satunya di Indonesia, selain itu TNWK juga memiliki Pusat Latihan Gajah (PLG) dan terbaru adalah Rumah Sakit Gajah (RSG).

Baca Juga:  Kehidupan di Tengah Hutan Belantara TNWK

Dalam pertemuan The 5th Asean Heritage Parks Commite Meeting 2016 di Bandar Lampung, menetapkan Taman Nasional Way Kambas sebagai anggota ke-36 atau anggota keempat dari lima puluh satu Taman Nasional di Indonesia. TNWK menyusul setelah Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Lorenz yang terlebih dahulu menjadi anggota Asean Heritage Parks.

Heritage Park atau taman warisan merupakan sebuah pengakuan di tingkat Asean maupun dunia terhadap sebuah pengelolaan kawasan konservasi yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati tinggi serta keunikan dengan berbagai indikator dan variabel yang harus dipenuhi. Menjadi sebuah kebanggaan tentunya akan pengakuan ini, namun sebuah tantangan dalam pengelolaan guna menjaga dan memenuhi koridor aturan baik kini dan ke depan.

 

Momentum

Peringatan dua tahun kelahiran Badak Delilah menjadi momentum menggugah tekad dan semangat dalam berbagai upaya dalam melestarikan sumberdaya alam dan sumberdaya hutan khususnya sebagai habitat dalam flora dan fauna, serta terjaganya keanekaragama hayati dan ekosistemnya. Ungkapan dan ucapan Ulang Tahun tidaklah cukup, perlu upaya dan tindakan nyata dalam melestarikan habitat, sehingga tumbuh kembang dan regerenasi satwa, khususnya badak sumatera berjalan dengan baik. []

Badak Sumatera Delilah

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan