Developer PT PSM Diduga Caplok Lahan Warga

Warga pemilik lahan segera mendatangi lokasi tanah yang mereka beli sejak puluhan tahun lalu, Senin (16/1/2018). Foto: Ist

BANDAR LAMPUNG – DEVELOPER Perum Bukit Mutiara Indah di Jalan Pulau Singkep, Sukabumi, Bandar Lampung, tepatnya di samping Perumahan Rupi, diduga mencaplok lahan milik warga.

Tanpa pemberitahuan aparat pemerintah dan pemilik tanah kavlingan, mereka meratakan lokasi lahan menggunakan alat berat, sejak Senin (16/1/2018).

Perumahan itu tertulis di selebaran Developer PT PSM. Puluhan warga pemilik lahan, yang tinggal berjauhan dari lokasi tanah itu kaget, dan segera mendatangi lokasi tanah yang mereka beli sejak puluhan tahun lalu itu.

“Berani sekali orang yang menggusur tanah milik saya ini. Tanpa kompromi dan pemberitahuan. Kurang ajar,” kata Abdullah, menggunakan bahasa Lampung, saat melihat tanahnya diratakan dengan alat berat.

H Abdullah bersama Hi Zaini, Sudirman, dan beberapa warga lainnya, mendatangi Kantor Kelurahan Sukabumi, menemui Lurah Darwani.

“Tunggu, sabar, jangan main otot, mereka hanya pekerja. Kita tanya kelurahan, dan hubungi Bhabinkamtibmas, biar aparat bersikap,” kata Hi Zaini di lokasi.

Sebelum sampai di kantor kelurahan, para pemilik lahan kavling yang mereka beli dari Alm Safaruddin (mantan pegawai Departemen Agama_red) itu sempat bertemu saksi sejarah kepemilikan tanah, Marzuki.

Marzuki yang juga mantan kepala lingkungan itu mengaku kaget mendengar ada pihak lain yang mertakan lokasi lahan tanah kavlingan itu.

Dia mengatakan, tanah itu lokasi awalnya adalah milik Sainuba (Alm), lalu dijual kepada Mulyorejo, dan terakhir dibeli Safaruddin.

“Asli awalnya punya bapak Sainuba, lalu bapak Mulyorejo, dijual pada bapak Safaruddin (Alm) sekitar tahun 80-an, saya saksi, karena kepala lingkungan. Lalu dikavlingkan, dan ada tanda tangan saya. Cucu pak Sainuba masih hidup, dan tau itu tanah kakeknya,” kata Marzuki di kediamannya.

Terkait ada yang tiba-tiba mengaku jadi pemilik, dan mengklaim memiliki sertifikat, dan hendak menguasai lahan itu, Marzuki menyarankan agar mengecek sertifikatnya.

“Ngaku punya sertifikat coba tunjukkkan dulu, dari mana beli sama siapa. Saya bukan kepala lingkungan lagi, kalo saya Kaling saya stop dulu, coba laporkan Lurah,” katanya.

Sementara, Lurah Darwani menyarankan para pemilik kavlingan untuk mencari tahu ke BPN Kota Bandar Lampung tentang kebenaran sertifikat itu.

“Coba cek ke BPN dulu, jangan main hakim sendiri, kita serakan ke hukum,” katanya.

Para warga pemilik kavlingan itu berencana melaporkan pihak pengembang dan orang-orang yang diduga telah menyerobot tanah mereka, bahkan telah merusak aset tanam tumbuh milik mereka.

“Kita akan laporkan ke Polresta Bandar Lampung,” kata Dirman, warga setempat.

Informasi di lokasi sekitar perumahan menyebutkan lokasi tanah itu selama ini memang sudah dikavlingkan. Yang lebih dulu membeli sudah membangun rumah, dan mengurus sertifikat. Dan sebagian yang lain, ada sekitar 10 kavling tidak dibangun.

Tanah itu, diklaim milik Wijaya, warga Pulau Singkep, Sukarame, Bandar Lampung.

Sementara, sebelum alat berat datang, bulan lalu ada pria bernama Warta yang datangĀ  dan mengklaim tanah itu milik mereka dan tiba-tiba ada orang memasang patok mirip BPN di areal itu, lalu alat berat masuk.

“Bisa aja modus, penipuan perumahan kan lagi rame mas. Liat tanah lama tidak dilihat, main klaim aja. Atau modus agunan di bank, padahal tanah orang,” kata warga. (*)

Caplok Lahan Perum Bukit Mutiara Indah

Posting Terkait