Di Balik Sukses Erick Thohir (Bagian 1)

Presiden Jokowi dan Presiden INASGOC Erick Thohir.

JAKARTA – Perhelatan pesta olahraga terbesar se-Asia, Asian Games (AG) XVIII Jakarta-Palembang akan ditutup 2 September 2018, besok. Perhelatan ini turut melambungkan nama, Erick Thohir.

Sosok fenomenal, pengusaha sukses, penggila basket, enerjik, supel, punya klub bola, visioner pula. Pria kelahiran Jakarta, 30 Mei 1970 ini resmi diamanati jadi Ketua Panitia Pelaksana Indonesia Asian Games Organizing Committee (INASGOC) yang dibentuk pemerintah usai ditunjuk tuan rumah AG XVIII sesuai hasil Olympic Council of Asia Meeting, Incheon, Korea Selatan, 19 September 2014.

Sebagai pelaksana INASGOC bertanggung jawab menyusun rencana, menyiapkan dan menyelenggarakan AG 2018, di DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Banten. Panitia Nasional INASGOC bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI.

Sejak 2016, INASGOC fokus merampungkan revitalisasi pelbagai lokasi pertandingan di 4 provinsi. Terakhir merekrut sekitar 15.000 relawan guna membantu pre-event dan main event AG 2018. (asiangames2018.id)

Raut cerah nan percaya diri, ditambah senyum khas Indonesia ala Erick Thohir, saat Opening Ceremony AG XVIII, Gelora Bung Karno, Sabtu, 18 Agustus 2018 lalu direkam sejarah, sebagai senyum tulus si mahir. Bukan sang pandir.

Ya, sebab Erick, notabene, the right man on the right place. Puja-puji dunia atas sukses hasil kerja kerasnya dan seluruh jajaran INASGOC, mewakili semangat catur sukses –sukses persiapan, sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, dan sukses promosi– AG XVIII, hal mana yang mengharumkan nama baik rakyat, bangsa dan negara RI di mata dunia.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak salah pilih. Suami Elizabeth Tjandra dan ayah dari Mahatma Arfala Thohir, Mahendra Agakhan Thohir, Makayla Amadia Thohir, dan Magisha Afryea Thohir ini benar-benar all out, dan seperti diakuinya, sepi ing pamrih.

Baca Juga:  Puan Pimpin Rapat Persiapan Asian Games 2018

Secara manajerialisasi even skala dunia, Erick sarat totalitas. Segudang sukses memimpin organisasi beragam latar, mulai ketua Komite Olimpiade Indonesia, ketua Komite Olahraga Indonesia (KOI), status presiden dan pemilik klub sepakbola Inter Milan, Italia, hingga sukses grup bisnisnya, Mahaka, jadi bekal modalitas.

Erick seperti mampu menyihir publik olahraga dan pariwisata dunia, menjadikan gaung AG XVIII kali ini bak panggung kolosal berdimensi budaya. Sama mampunya dengan visualisasi simbolik Bhinneka Tunggal Ika, pada sosok trio maskot AG 2018: Bhin-bhin, Atung, dan Kaka.

Disarikan dari bolasport.com, maskot berkode unik itu bukan sembarang maskot. Ketiganya diambil dari binatang khas Indonesia. Pertama, burung cendrawasih asal Papua dan Pulau Aru, simbol strategi. Meujud pada maskot Bhin-bhin dengan kostum rompi bermotif Asmat. Cendrawasih acap dijuluki burung dari surga, karena pesona bulunya dan keunikannya, saat tidur posisinya terbalik seperti kelelawar. Ups!

Lalu, rusa Bawean, hewan nokturnal (hanya aktif di malam hari) asal Gresik, simbol kecepatan. Meujud pada maskot Atung dengan kostum sarung bermotif Tumpal khas Jakarta.

Terakhir, badak bercula satu asal Ujungkulon, Banten-mamalia terlangka di dunia, kini tersisa 50-60 ekor, simbol kekuatan. Meujud pada maskot Kaka, berkostum baju adat Palembang.

Sampai disini, mungkin kita bak dibuat tersihir. Seperti apa hebatnya seorang Erick Thohir?

Kabar terbaru, di sela euforia pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote, atas hasil sementara sampai tulisan ini disusun, dengan terlampauinya target nasional peringkat dan raihan medali kontingen Indonesia yang telah overtarget-posisi ajeg empat besar, Erick pun menyeruak ke perbincangan publik politik.

Baca Juga:  Dua Rangkaian Kereta LRT Tiba di Palembang

Bermula saat Sekjen PDIP Hasto Kristianto, merilis nama Erick –bersama jurnalis yang juga Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, sebagai kandidat favorit Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan calon (paslon) bakal Capres-Cawapres 2019-2024 petahana, Jokowi-KH. Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019, perhasil survei.

“Ya itu aspirasi berdasarkan survei, itu hal-hal wajar di demokrasi itulah seninya,” jawab Hasto atas kabar sekaligus kans Erick Thohir jadi ketua tim sukses (timses) Jokowi-Ma’ruf Amin, di Posko Cemara, Menteng, Jakarta, seperti dilaporkan detikNews, Selasa (28/8/2018).

Sebagai bagian tanpa jeda tahun olahraga sekaligus tahun politik, hari ini, Sabtu (1/9/2018), redaksi coba menghadapkan Erick Thohir lebih pada aspek keterpilihan profetik. Memang, begitu gempita AG 2018 usai dan berevaluasi ciamik, saat itu (separuhnya) berakhir jua pertanggungjawaban organisasional Erick.

Catur sukses berikutnya bakal pindah bahu. Adalah Raja Sapta Oktohari, Ketua Indonesia Asian Para Games Organizing Committee (INAPGOC), panitia pelaksana Asian Para Games (APG) 2018, yang akan meneruskan estafet catur sukses AG 2018 dari tangan Erick.

Putra Ketua DPD sekaligus Ketum Partai Hanura Osman Sapta Odang (OSO) itu, bertanggung jawab atas seluruh kinerja penyelenggaraan pesta olahraga penyandang disabilitas terbesar se-Asia, terbesar kedua di dunia yang bakal diikuti 3 ribuan atlit dan 1.800 ofisial asal 43 negara, pada 8-16 Oktober 2018.

Hajat sama penting, terbesar sepanjang sejarah penyelenggaraannya. Seperti kata CEO Asian Paralympic Committee (APC), Tarek Souei, APG 2018 jadi even penting multipihak partisipan pengelolaan olahraga penyandang disabilitas.

Baca Juga:  Ketua TKN Jokowi-Maruf Amin, Orang Lampung?

APC ingin memastikan, APG 2018 akan berjalan dengan standar tertingginya. Apa sebab? APG 2018 diproyeksikan jadi even pertama ajang kualifikasi menuju Tokyo 2020.

“Selain itu sejumlah panitia penyelenggara even lain, seperti Tokyo 2020 dan Hangzhou 2022, akan mengirim delegasi untuk mengamati dan belajar dari INAPGOC,” demikian Tarek dalam jumpa pers bersama usai Coordination Commission Meeting (CorCom) terakhir APC-INAPGOC, Jakarta, 3-4 Agustus 2018 lalu.

Seperti AG 2018, APG 2018 pun bakal banjir rekor. Dengan jumlah atlit terbesar, diprediksi ada banyak selebrasi pecah rekor 9 hari tanding. Dari itu, akan ada 88 international classifier pra-Opening Ceremony, dimana di Jakarta saja ada 1.265 atlit yang wajib ikut klasifikasi pra-kompetisi.

Asal tahu saja, klasifikasi jadi bagian penting olahraga penyandang disabilitas yang wajib dijalani sebelum bertanding. Bagi tuan rumah, ini menguntungkan posisi Indonesia.

Seperti diakui Raja Sapta Oktohari, APG 2018 akan mewariskan lahirnya banyak tenaga ahli pengelolaan olahraga penyandang disabilitas. Komitmen APC agar classifier Indonesia bisa terlibat sebagai pengamat melalui diplomasi ke federasi internasional, plus diadakannya pelatihan National Technical Officer (NTO) dan International Technical Officer (ITO) sebagai ikhtiar melahirkan domestic experts yang kelak bisa mengembangkan tata kelola olahraga penyandang disabilitas di Indonesia, adalah bagian keuntungan lain APG 2018 itu.

Kembali ke Erick. Bersama APG 2018, catur sukses AG 2018 helaan Presiden INASGOC berdarah Lampung-Tionghoa ini, akan berpulang pertanggungjawabannya kepada Presiden Jokowi.

Bagaimana kelanjutan kulik sukses Erick? (bersambung)

(net)

Asian Games 2018 Erick Tohir

Posting Terkait