Di Balik Sukses Erick Thohir (Bagian 2)

Co-owner Astra Internasional, almarhum H. Mochamad “Teddy” Thohir, ayahanda Erick Thohir. Foto: Istimewa

JAKARTA – Darah Lampung mengalir dalam diri Presiden INASGOC, Erick Thohir. Di bagian kedua Laporan Khusus di balik sukses Erick Thohir ini, Sabtu (1/9/2018), redaksi coba mengulik ceritanya.

Ya, darah Lampung mengalir dari mendiang Mochamad Tohir, sang ayah. Jejak digitalnya didapati lewat ulasan kolom Resonansi wartawan Republika, Nasihin Masha (Republika.com, Jum’at, 4 November 2016), tiga hari setelah Teddy wafat.

Dikisahkan, Erick anak ketiga Haji Mochamad Thohir alias Teddy Thohir bin Abdul Chalik, yang lahir 5 Maret 1935 dan tumbuh di Gunung Sugih, Lampung Tengah, dan wafat 1 November 2016 dini hari di RS Medistra, Jakarta.

Dari rahim sang ibu, Edna Thohir, WNI berdarah Tionghoa asal Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat, yang memutuskan muallaf sebelum dinikahi Teddy, Erick bungsu tiga bersaudara. Kakak sulung Erick, Rika. Kakak kedua, Garibaldi “Boy” Thohir juga mewarisi bakat bisnis orangtua mereka. Boy lebih dulu dikenal salah satu orang terkaya di Indonesia, salah satu pemilik perusahaan batubara Adaro.

Dalam konteks kekinian, figur Erick memang lebih dikenal publik, karena terjun di bisnis yang jadi pusat perhatian media. Masih ingat, saat ia mengejutkan publik bola bundar dunia 2013?

Erick menggebrak Eropa, membeli 70 persen kepemilikan saham F.C. Internazionale Milano (Inter Milan), klub sepak bola papan atas asal kota mode, Milan, Italia. Dibeli dari pemilik sebelumnya Massimo Moratti senilai 350 juta Euro (setara Rp5,3 triliun).

Aksi Erick itu sekaligus rekor diri jadi pemilik klub sepak bola besar Eropa terbaru asal negara berkembang. Kepemilikannya atas Inter menambah daftar pebisnis negara berkembang yang sukses mengakuisisi klub bola populer.

Memang, tak berlangsung lama. Tak jauh berselang dari 15 November 2013, saat Erick resmi menjabat presiden Inter ke-21 dalam 106 tahun sejarah klub, pengganti Moratti yang telah 18 tahun menjabat, sebuah korporasi Cina, Suning Group lantas membeli saham mayoritas Inter dari Erick. Kendati demikian, Erick masih punya 30 persen saham, Erick masih tetap presiden. Inter Milan.

Baca Juga:  Erick Thohir jadi Ketua Timses Jokowi

Sebelumnya, pada 2012 Erick bersama Levien, jadi pemilik saham mayoritas klub DC. United, sebuah klub sepak bola profesional yang berkompetisi di Major League Soccer, berbasis di Washington, DC., Amerika Serikat.

Didahului kepemilikannya atas klub basket di top liga NBA, yaitu Philadephia 76ers. Transaksi ini membuatnya dikenal “orang Asia pertama pemilik tim basket NBA” setelah sebelumnya membeli saham dari Philadelphia.

Ssst, Erick juga salah satu pemilik klub pesohor Persib Bandung. Kini Erick juga masih aktif mengetuai Komite Olimpiade Indonesia. Medio 2012, Erick pernah juga ditugasi jadi Komandan Kontingen Indonesia untuk Olympiade London.

Basket, “pacar” Erick, tak urung jadi bagian hidupnya. Saking cintanya, Erick rela merogoh kocek, mendirikan klub basket Mahaka Satria Muda dan Mahaputri Jakarta. Kala itu, cita-citanya menjadikan olah raga tak cuma hobi tapi juga aset bisnis atlet dan pemilik klub.

Karir basketnya berpuncak saat ia dipercaya memimpin Persatuan Basket Indonesia (Perbasi) 2006-2010. Plus dua periode, 2006-2010 lanjut 2010-2014, menjabat Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA). Mmm, spesialis presiden agaknya ya?

Ihwal ayah Erick, Nasihin Masha kembali mengisahkan, saat Teddy wafat bahkan Presiden Jokowi dan Presiden ke-6 SBY pun datang melayat. Ketua MPR Zulkifli Hasan bahkan ikut mengantar di penguburannya.

Teddy kecil ditinggal mati Abdul Halik, kakek Erick. Bersama ibu dan sang adik, Teddy kecil hidup miskin, tinggal beralas tanah, di rumah bilik. Namun, tempaan getir itu jua yang turut membentuk karakternya. Sejak kecil ia anak yang teguh hati dengan tekad kuat.

Diam-diam, subuh hari, ia pergi meninggalkan ibu dan menemui pamannya, seorang pedagang di (kini Kota) Metro. Sekecil itu. Ia ingin sekolah. Teddy masuk SMP.

Berhenti di situ? Tidak. Dilepas pamannya, usai tamat SMP ia merantau sendirian ke Jawa. Kota Solo tujuannya, naik kereta. Atas saran seorang guru SMP-nya yang memiliki rekan sesama guru di tempat ia melanjutkan sekolah, Teddy remaja berhasil lulus SMEA 1 Solo, 1956.

Baca Juga:  Saham Perusahaan Erick Tohir Dibekukan

Dari mana ia bisa ke Solo selulus SMP? Berkat bantuan pedagang kaya di Metro, tempatnya bekerja lepas sekolah. Hal senada dilakoninya selama bersekolah di Solo. Simpati orang-orang lahir ulah kecerdasan dan kegigihannya.

Setelah itu ia bekerja di Jakarta. Sebatang kara, kemudian jatuh cinta pada Edna, seorang perawat, gadis Tionghoa, rekan kerjanya di sebuah rumah sakit di Jakarta.

Jalinan cinta itu tak direstui kedua orangtua Edna. Teddy pun balik kampung, menata hati. Jodoh tak kemana. Diam-diam, Edna menyusul. Mereka menikah secara Islam. Setelah itu mereka kembali ke Jakarta –meniti hidup dari bawah, hingga lahir anak pertama, Rika. Saat itulah datang orangtua Edna. Mengharu-biru suasananya, tangis bahagia. Everybody happy.

Secara fisik, Teddy memiliki rahang menonjol. Suaranya agak berat, berintonasi tegas. Murah senyum, namun dengan wajah agak persegi membuatnya kaya kharisma. Karirnya di perusahaan asing yang bergerak di bidang industri kimia, Union Carbide, amat baik hingga ia menjadi kepala administrasi.

Jabatan baik itu ia tinggalkan saat dirinya mendapati tantangan menarik. Adalah istri TP Rachmat, yang punya hubungan dekat dengan Edna, mengajak Teddy bergabung dengan Astra. Orangtua Edna juga akrab dengan William Soeryadjaya, pemilik Astra, yang belakangan jadi gigantic corporate dan dikenal sebagai raksasa otomotif serta perkebunan.

Karir Teddy di Astra sejak perusahaan ini benar-benar mulai dari nol, hingga Teddy jadi salah satu direkturnya. Namanya cukup dikenang. Suharto (almarhum) dan pernah bekerja di Astra namun kemudian bergabung dengan Tommy Soeharto mendirikan perusahaan mobil Timor, bercerita soal keluwesan Teddy.

“Suatu saat saya diajak beliau ke suatu kampung. Sesepuh kampung itu mencium tangannya. Eh, ternyata beliau menjadi khatib di masjid di kampung itu,” katanya. Kenang Suharto, Teddy sangat persuasif. Saat itu Astra akan membeli lahan di kampung itu.

Kesan singkat atas Teddy juga diungkap karibnya Peter F. Gontha, kini duta besar di Polandia. “Luwes dan tidak punya musuh.” Gontha mengaku dia, Teddy beserta sekitar sembilan orang taipan sering berjalan bersama. Kelenturan, tekad, keberanian, dan keteguhan membuat Teddy telah berevolusi dari anak miskin menjadi profesional hingga jadi seorang pengusaha. Ia merintis bisnis di bawah naungan TNT. Tak cuma itu, ia juga mampu mendidik anak-anaknya agar “bisa terbang namun tetap berpijak di bumi”.

Baca Juga:  Erick Ketua Timses, Relawan Yakin Jokowi Dua Periode

Boy dan Erick disekolahkan di Amerika. Tentang anak-anaknya, satu saat Teddy bercerita, ia sengaja menyekolahkan anak-anaknya hingga SMA tetap di Indonesia. “Agar mereka memiliki jaringan yang baik,” katanya. Bahkan Teddy sengaja menyekolahkan di sekolah negeri dengan risiko terkena bully, agar mereka bisa survive, mampu mengatasi masalah karena nantinya mereka akan berada di tengah-tengah bangsanya sendiri. Anak-anak Teddy juga diajari agar berpijak pada agama Islam secara baik, bahkan memiliki prinsip-prinsip keluarga yang harus kuat terpatri.

Meminjam istilah Nasihin, Teddy adalah fenomena berkah kemerdekaan Indonesia. Nasihin mengutip Robert van Niel, dalam buku Munculnya Elit Modern Indonesia. Bahwa elit tradisional Indonesia berorientasi kosmologis. Sedang elit modern berorientasi kemakmuran, karena pengaruh pendidikan. Elit modern pertama lahir berkat Politik Etis era kolonial Belanda –yang bisa sekolah kaum ningrat saja.

Kemerdekaan Indonesia mengubah segalanya. Semua rakyat Indonesia berkesempatan sekolah yang sama. Sehingga elit modern yang muncul pasca-kemerdekaan lebih beragam latar belakangnya. Teddy tergolong istimewa. Saat banyak orang berorientasi jadi pegawai negeri, ia justru bekerja di perusahaan swasta yang belum pilihan menarik saat itu.

Pilihan yang membawa Teddy jadi pengusaha besar –mewaris ke anaknya sampai jadi konglomerat Indonesia. Pesan Teddy yang selalu diingat Erick: “Jaga nama baik, karena itu yang utama.”

Nasihin menarik simpul, Teddy Thohir mengajarkan kita, kesempatan bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja. Sepanjang bergiat dan berani menjemput masa depan dengan modal di badan kita sendiri. Teddy, pewarisnya, jadi bukti empirik gelombang baru anak negeri yang masih harus memperbesar lapis entrepreneurshipnya, terutama genre muslim.

Bagaimana Erick menggulati jatuh bangun kerajaan bisnisnya? (bersambung)

Erick Tohir

Posting Terkait