Herman HN Buat Warga Bandar Lampung Kurang Bahagia

Herman HN Buat Warga Bandar Lampung Kurang Bahagia

Salah satu sudut Kota Bandar Lampung. (Net)

BANDAR LAMPUNG – DI bawah kepemimpinan Herman HN, Kota Bandar Lampung menjadi penyumbang angka tertinggi merosotnya indeks kebahagiaan di Provinsi Lampung dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Hal ini berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung yang dirilis beberapa waktu lalu.

“Pada Januari 2018, inflasi di Kota Bandar Lampung mencapai 1,42 persen. Angka tersebut menempatkan Kota Bandar Lampung menduduki peringkat teratas dari 82 kota se-Indonesia,” kata kepala BPS provinsi Lampung, Yoane Irma Ningrum saat menggelar konferensi pers di Kantor BPS Provinsi Lampung, Kamis (1/2/2018) lalu.

Menurut pengamat ekonomi Universitas Bandar Lampung (UBL) Erwin Oktavianto, tingginya inflasi Kota Bandar Lampung berdampak pada kemampuan daya beli masyarakat yang semakin berkurang.

”Inflasi memberikan dampak negative ke masyarakat. Mereka akan extra mengeluarkan anggarannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika inflasi dibiarkan, masyarakat mengalami besar pasak daripada tiang, artinya lebih besar pengeluaran ketimbang pemasukan serta semakin tergerus akibat melambungnya harga kebutuhan pokok,” jelasnya.

Baca Juga:  Sutono Labrak Undang-undang ASN

Adapun faktor  lainnya yang menjadikan Kota Bandar Lampung sebagai penyumbang terbesar kemerosotan indeks kebahagiaan di Provinsi Lampung, di antaranya tingginya angka pengangguran, banyak anak putus sekolah, meningkatnya kemacetan lalu lintas dan pengembangan diri yang tidak tersalurkan.

Selanjutnya, dari segi lingkungan, Menteri Koordinator Kelautan dan Perikanan RI, Luhut Binsar Pandjaitan saat melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Lampung, beberapa waktu lalu, menyampaikan bahwa tingkat pencemaran air laut yang tinggi di Teluk Lampung juga faktor ketidaknyamanan untuk menghuni Kota Bandar Lampung.

Selain itu, berdasarkan berdasarkan hasil survei Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia menyatakan, Bandar Lampung merupakan salah satu kota yang tidak layak huni di Indonesia dengan indeks hanya 56,4 persen.

Baca Juga:  Herman HN Apresisasi Mudik Gratis Telkomsel

Elkana Catur, Ketua Kompartemen Livable City IAP, seperti dikutip dari Idntimes, terdapat lima aspek terbawah yang paling dirasa kurang oleh masyarakat.

Aspek dimaksud yakni ketersediaan transportasi, keselamatan, pengelolaan air kotor dan drainase, fasilitas pejalan kaki, serta informasi pembangunan dan partisipasi masyarakat.

“Saat ini, banyak warga berharap bisa dilibatkan lebih luas dalam pembangunan, ini perlu diperhatikan,” ujarnya, Jumat (2/2/2018) lalu.

IAP meluncurkan indeks kota layak huni di Indonesia. Indeks tersebut disusun berdasarkan hasil survei di 26 kota dan 19 provinsi. Masing-masing kota diwakili 100 hingga 200 warga yang menetap di kota tersebut.

Margin of error survei ini sebesar 95%. Survei dengan menggunakan metode kuisioner skala likert.

Kemudian, berdasarkan data dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Lampung, Kota Bandar Lampung menduduki peringkat pertama  terkait tingginya angka anak putus sekolah dan pengangguran dengan jumlah point mencapai 8,10.

Baca Juga:  Herman HN Salah Besar

Posisi kedua ditempati oleh Kabupaten Pesawaran dengan 5,73 poin. Sementara Kabupaten Mesuji menduduki peringkat terakhir dari 15 kabupaten/kota se-Lampung dengan 0,65 poin.

Dari data tersebut menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan di Kota Tapis Berseri dari 15 kabupaten/kota se-Lampung. Faktor tersebut merupakan salah satu penilaian dari BPS Provinsi Lampung untuk menilai indeks kebahagiaan dalam suatu daerah.

Sementara itu, faktor meningkatnya kemacetan lalu lintas di Kota Bandar Lampung seiring meningkatnya volume kendaraan.

Sementara itu, faktor pengembangan diri tidak tersalurkan karena  minimnya sarana atau wadah dalam mengembangkan dan memaksimalkan kreatifitas masyarakat.

Untuk diketahui, Indeks kebahagiaan merupakan rata-rata dari angka indeks yang dimiliki oleh setiap individu di Indonesia pada skala 0-100. Semakin tinggi nilai indeks, menunjukan tingkat kehidupan yang semakin bahagia dan demikian sebaliknya. (IH)

Herman HN Indeks Kebahagiaan

Posting Terkait