Hiasi Pesta Demokrasi Dengan Kegembiraan Bukan Kebencian

Oleh : Gati Susanto
Wartawan Fajar Sumatera

Menyikapi perkembangan politik menjelang pileg dan pilpres akhir-akhir ini, banyak sekali kita temui berbagai informasi seputar perkembangan politik. Hal ini menunjukan kedewasaan berdemokrasi masyarakat kita sudah hampir mapan. Mengapa dikatakan hamper mapan? Karena masih banyak kita temui disekitar kita yang gagal fokus dalam menyikapi perkembangan politik. Mereka belum mampu mengarahkan konsentrasinya terhadap apa yang sedang terjadi. Hal ini menyebabkan terjadinya gagal paham saat berbicara masalah politik.

Padahal kita semua berharap kedewasaan dan kemapanan berdemokrasi bagi masyarakat segera terwujud karena Negara ini adalah Negara yang menganut sistem demokrasi.

Baca Juga:  NasDem Lampung Optimis Capai Target Di Pileg 2019

Fakta belum dewasanya kita berdemokrasi adalah masih sering kita temui di masyarakat terjadinya perdebatan yang tidak mendidik, seperti saling menghina satu sama lainnya. Sikap mudah marah, saling menjatuhkan kerap kita temui perbincangan di jejaring sosial. Suguhan seperti ini akan menyebabkan perpecahan diantara kita. Hanya karena berbeda pendapat dan pilihan perkawanan yang sudah dibangun bertahun-tahun pecah seiring berjalannya tahapan pesta demokrasi.

Padahal pemilu merupakan pesta demokrasi yang seharusnya disikapi dengan suka cita, bahagia.gembira serta nyaman, layaknya sebuah hajatan.

Penyebab terjadinya keributan dalam pesta demokrasi adalah Pertama, kedangkalan pola pikir baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Budaya mudah marah dan saling menghujat akibat beda pilihan sangat kuat memancing potensi konflik pada tatanan sosial.

Baca Juga:  Masyarakat Lampung Tolak Ujaran Kebencian pada Pileg dan Pilpres 2019

Kedua, carut marutnya penyelenggara, minimnya pengawasan , intimidasi, tekanan bagi penyelenggara dan pemilih juga menjadi faktor terjadinya konflik pemilu.

Ketiga, hadirnya tipikal orang yang gampang marah alias “kaum sumbu pendek”dalam suatu komunikasi terkait tahapan pemilu menambah sempurna terbukanya pintu konflik sosial. Betapa tidak? Karena tipikal seperti ini tidak bisa diajak bercanda dan bergurau. Mereka mudah panas, emosi dan tersinggung. Ini sangat membahayakan dan bisa meruntuhkan demokrasi itu sendiri, karena mereka akan merespon  secara berlebihan, jika menemui kritikan dari siapapun, tanpa disaring terlebih dahulu.

Baca Juga:  P3A Lamtim Dukung Basur Di Pileg

Orang yang memiliki tipikal seperti ini  ada di segala lapisan masyarakat, baik di kalangan rakyat jelata maupun pejabat Negara. Mereka terkadang  bebas melontarkan ucapan tanpa memikirkan dampaknya, namun sulit menerima kritikan sekalipun itu benar.

Nah untuk menghindari kericuhan dalam pesta demokrasi alangkah indahnya jika pemanjangan sumbu dalam berfikir, bijak dalam menyikapi informasi. Arena pesta itu seharusnya di laksanakan dengan penuh sukacita, gembira dan dihiasi dengan nyanyian dan tarian penuh anda tawa. Bukan saling adu domba yang dapat mencederai demokrasi. Wassalam…

Hati Susanto Pesta Demokrasi Pileg 2019 Pilpres 2019

Posting Terkait