Inflasi Lampung Turun dan Terkendali

BPS Lampung.ist

BANDARLAMPUNG—Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada Februari 2018 tercatat sebesar 0,08 persen (month to montn). Angka ini turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,28 persen/mtm). Bank Indonesia menilai, pergerakan inflasi Lampung masih dalam tahap wajar dan terkendali.

“Meski harga komoditas masih ada yang naik, tapi inflasi tetap terkendali,” kata Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung, Budiharto Setyawan, Minggu (4/3).

Selain turun, inflasi pada Februari juga tercatat lebih rendah dari inflasi nasional bulan ini sebesar 0,17 persen (mtm). Namun meski sudah cukup rendah, inflasi bulan ini berbeda dari pola historisnya dalam tiga tahun terakhir yang cenderung deflasi dengan rata-rata minus 0,07 persen (mtm).

Budiharto memaparkan, tekanan inflasi yang masih terjadi bulan ini terutama bersumber dari kenaikan harga pada kelompok pangan khususnya komoditas beras, bawang putih, tomat sayur dan bawang merah.

“Secara kumulatif di dua bulan pertama tahun 2018 inflasi Provinsi Lampung telah mencapai 1,35 persen (year to date), atau lebih tinggi dibandingkan inflasi kumulatif nasional sebesar 0,80 persen (ytd),” ujarnya.

Secara tahunan, inflasi Provinsi Lampung per Februari mencapai 3,01 persen (yoy) atau masih terkendali direntang sasaran inflasi tahun 2018 sebesar 3,5 persen plus minus 1 persen.

Inflasi kelompok pangan (volatile food) yang menjadi penyumbang utama inflasi Februari 2018 Provinsi Lampung yang tercatat mencapai 0,22 persen (mtm), terutama masih dipicu oleh inflasi komoditas beras dengan andil inflasi 0,09 persen.

Dibandingkan dengan kota lainnya di Sumatera yang umumnya mengalami deflasi dengan rata-rata minus 0,34 persen (mtm), inflasi IHK Kota Bandarlampung (0,06 persen/mtm) dan Kota Metro (0,19 persen/mtm) kembali menempati peringkat yang tinggi yakni tertinggi ketiga dan pertama dari 23 kota perhitungan inflasi Sumatera.

Survei yang dilakukan Bank Indonesia di kota Bandarlampung dan Metro menunjukkan, harga beberapa jenis beras dalam dua minggu terakhir mulai menunjukkan penurunan, namun belum cukup signifikan untuk menurunkan rata-rata harga sepanjang Februari.

Kondisi tersebut juga dipengaruhi masih terbatasnya wilayah yang mulai memasuki periode panen raya. Kenaikan harga pada komoditas pangan lainnya terjadi pada bawang putih (andil 0,06 persen), bawang merah dan tomat sayur (andil 0,02 persen).

Pergerakan harga bawang putih antara lain dipengaruhi oleh pasokan impor yang tertahan terkait adanya ketentuan wajib tanam bagi importir dengan hasil minimal lima persen dari kuota impor yang didapatkan. Sedangkan harga bawang merah mulai menunjukkan kenaikan seiring turunnya produksi setelah berakhirnya periode panen raya pada bulan lalu.

Faktor tingginya curah hujan yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga bulan April yang telah menyebabkan banjir di salah satu sentra produksi bawang merah di Jawa Tengah juga mempengaruhi ekspektasi pasokan suplai bawang merah meskipun turunnya produksi akibat banjir tersebut baru plus minus 3 persen.

Di sisi lain, tekanan inflasi yang lebih tinggi dapat diredam oleh koreksi harga yang terjadi komoditas pangan utama lainnya seperti cabai merah, telur ayam ras dan daging ayam ras yang masing-masing menyumbang deflasi minus 0,06 persen, minus 0,04 persen dan minus 0,02 persen.

Koreksi harga pada cabai merah didukung oleh ketersediaan pasokan dari hasil panen di sejumlah sentra produksi Lampung seperti Lampung Selatan, Lampung Barat, Lampung Utara dan Tanggamus.(*)

inflasi lampung februari 2018 Inflasi Lampung Turun

Posting Terkait