K.H. Arief Mahya: Jangan Ragukan Ma’ruf Amin Sebagai Bacawapres

BANDAR LAMPUNG – Kematangan usianya berbanding lurus dengan ketajaman pikirnya. Meski berusia senja, masih aktif menulis tangan atau menggunakan mesin tik lawas kesayangan, jadi rutinitasnya menggelorakan dakwah dan syiar Islam.

Sebagai pejuang kemerdekaan, penulis, mubaligh, dan ulama kharismatik, suri taudalan dari sosok panutan warga Nahdliyin di Bumi Ruwa Jurai ini tak ayal, turut membanggakan. Dialah K.H. Muhammad Arief Mahya.

Akrab disapa Buya, putera ketiga dari lima bersaudara, Mursyid Mahya, Zainab, Muslim Mahya, Rotinam, dan Rofi’ah, buah perkawinan Mahya-Fatimah ini asli kelahiran Gedung Asin, Liwa, Lampung Barat, 6 Juni, 92 tahun silam.

Tak banyak yang tahu, mantan Ketua Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung yang turut mendunia saat geger kasus penculikan aktivis prodemokrasi 1998. Salah satunya tak lain putra kandungnya. Kini Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief ini, baru-baru ini menghentak jagat politik dengan seruannya agar warga NU jangan ragu memilih Prof. Dr. (HC) K.H. Ma’ruf Amin, bakal cawapres pasangan Jokowi.

Mengutip Bergelora.com, Selasa (21/8/2018), terungkap penegasan Arief Mahya tersebut.

“Dosa bagi orang NU kalau meragukan atau tidak memilih Ma’ruf Amin,” tegas Buya kepada Bergelora.com saat mengunjunginya di RS Bumi Waras, Bandar Lampung, Selasa (14/8/2018), pekan lalu.

Hal mendasar apa yang melatari pernyataan Buya? Lahirnya kontroversi dukungan atas keterpilihan figur K.H. Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi di kalangan pimpinan NU-lah, yang menurut dia sebetulnya tak perlu terjadi.

“Karena K.H. Ma’ruf Amin adalah seorang Rais Aam dari semua umat NU,” tandasnya.

Kekhawatiran sebagian orang yang menyebut Ma’ruf Amin sebagai sosok anti Pancasila juga ditepisnya.

“Dia tidak anti Pancasila. Saya jaminannya. NU-lah yang menegaskan Pancasila dalam pendirian Republik Indonesia. Dia kawan seperjuangan saya sejak masa kemerdekaan. Dia berjuang di Banten, saya berjuang di Lampung. Jadi jangan coba-coba ragukan dia,” cetus salah satu Mustasyar PWNU Lampung 2018-2023 ini.

Ma’ruf Amin, ujar dia, ialah seorang ahli ekonomi syariah yang diakui dunia Islam.

“Ia juga seorang yang mengerti Al-Quran dan melihat dunia saat ini secara kontekstual, karena itu Ma’ruf jadi Rais Aam NU. Kalau bukan dia yang jadi panutan, terus siapa lagi,” ujar Buya, seperti dilaporkan Bergelora.

Dalam situasi saat ini, pilihan Presiden Jokowi memilih Ma’ruf Amin mendampinginya sebagai cawapres, menurut Buya, sudah sangat tepat. Untuk membendung kelompok-kelompok anti pemerintah dengan mengatasnamakan Islam.

“Seorang Ma’ruf Amin bisa menunjukkan mana Islam yang benar, dan mana yang sekadar mengatasnamakan Islam untuk kepentingan pribadi atau kelompok saja. Dan kita semua harus patuhi,” tegas Buya.

Sehingga, dalam pemerintahan periode keduanya Presiden Jokowi dapat melanjutkan konsentrasi dalam pembangunan bangsa dan mensejahterakan rakyat Indonesia. “Tidak seperti sekarang, selalu diganggu oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam,” imbuh dia.

Buya mengingatkan, jangan menolak Ma’ruf Amin karena usianya.

“Semua orang berkewajiban berjuang buat Republik Indonesia seumur hidupnya. Emangnya yang lebih muda lebih pintar dan lebih berpengalaman. Bisa gak menghadapi orang-orang yang mengganggu pemerintah atas nama Islam. Sebagai sesepuh dan pimpinan NU, Ma’ruf Amin wajib didengar dan dituruti. Jangan malah dihina-hina karena sudah tua. Yang lebih muda seharusnya mempersiapkan diri segera menggantikan setelah kami tiada,” tegasnya penuh harap.

Mengakhiri keterangannya, sekali lagi Buya mengingatkan agar rakyat Indonesia jangan ragu memilih Jokowi untuk memimpin kembali Indonesia 5 tahun ke depan.

“Semua umat muslim sudah selayaknya memilih (kembali) Jokowi-Ma’ruf Amin. Jangan meragukan mereka. Jangan dengar omongan orang-orang yang hanya membawa kepentingan pribadi dan kelompok saja,” pesannya. (*)

685 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

K.H. Arief Mahya Ma’ruf Amin

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan