Mahasiswa ITS Rancang Alat Sangrai Kacang Otomatis

Foto: Istimewa

Kacang kerapkali diolah dengan alat konvensional yang memiliki banyak kekurangan. Kondisi ini menginspirasi lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk merancang sebuah alat sangrai kacang otomatis yang diberi nama Go War Machine.

Go War Machine bikinan Arif Rachman Hakim, Andhika Bagus Alfian, M Nafis Ismail, Aprilia Dini Rosani, dan Putri Norma Aprilia R ini diklaim mampu menghasilkan produk kacang dengan kematangan merata dan waktu yang lebih efisien.

Menariknya, alat sangrai ini menggunakan teknologi smart grid, dengan ‘bahan bakar’ berupa tenaga yang dihasilkan dari panel surya (solar panel) yang dipasang di atap rumah atau tempat usaha.

Panel ini telah terkoneksi dengan automatic transfer switch yang sudah terhubung dengan jaringan listrik PLN.

“Output-an dari automatic transfer switch akan menyalurkan energi listrik ke motor induksi yang selanjutnya memutar mesin,” papar Arif, selaku ketua tim seperti yang dilansir dari detikcom, Minggu (19/8/2018).

Arif juga menjelaskan jika alat sangrai konvensional memiliki beberapa kekurangan, seperti pekerja harus berada dekat dengan alat atau terpapar asap dari pembakaran bahan bakar arang dan kayu sehingga berisiko tinggi terserang penyakit paru kronis yakni Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD), dibandingkan pekerja dengan bahan bakar listrik dan gas.

Lagipula perputaran alat sangrai manual membuat kematangan kacang yang tak merata. Selain itu, jumlah produksinya terbatas.

Sedangkan Go War Machine menggabungkan dua sumber tenaga, yaitu panel surya dan jala-jala listrk sehingga ketersediaan energinya tidak terbatas.

“Apabila semisal mendung atau hujan sehingga energi dari panel surya tidak mencukupi, alat ini otomatis langsung switch ke energi cadangan yang terhubung dengan jaringan listrik dari PLN,” papar mahasiswa Teknik Elektro ITS ini.

Go War Machine juga menghasilkan kematangan yang merata dengan waktu yang optimal. Tingkat kematangannya tercatat mencapai 99,8 persen, sedangkan pada alat sangrai konvensional, hanya bisa mencapai kematangan 80 persen saja.

Bahkan Arif mengklaim modal membuat Go War Machine bisa kembali hanya dalam kurun waktu 15 bulan 26 hari saja. Pengusaha atau pelaku UMKM juga dapat menghemat biaya operasional karena biaya perawatannya yang murah. Ditambah lagi alat ini diklaim dapat tahan beroperasi hingga lima tahun.

Ke depannya, alat yang terdaftar dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ini diharapkan bisa berkelanjutan dan merata secara pemakaiannya.

“Semoga ke depannya alat ini bisa berkelanjutan dipakai oleh mitra dan juga bisa disosialisasikan ke UMKM kacang yang masih menggunakan alat konvesional,” pungkas pria 21 tahun ini. (net/hp)

1,272 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Alat Sangrai Kacang

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan