Menengok Keterangan Rina Febrina Selama Persidangan, Saksi KPK yang Diduga Mendapat Ancaman ‘SMS Mayat’

Tiap Lebaran, Istri Pejabat Tinggi di Lampung Utara Terima Hadiah Berupa Uang

Dr .Eng. Rina Febrina,S.T.,M.T, istri dari Kadis PU-PR Lampung Utara saat menjadi saksi dalam kasus yang turut menjerat suaminya, Syahbudin, Kamis, 9 Januari 2020. Foto: Ricardo Hutabarat/Fajar Sumatera.

Bandar Lampung – Kuasa Hukum dari terdakwa Syahbudin selaku Kadis PU-PR Lampung Utara non aktif menilai apa yang dilakukan kliennya cukup berisiko.

Sebab berkat kliennya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dinilai terbantu di dalam mengungkap dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) yang terjadi di Kabupaten Lampung Utara, spesifiknya berkait dengan Pengadaan Barang dan Jasa pada Dinas PU-PR dan Dinas Perdagangan.

Setidaknya pernyataan kuasa hukum Syahbudin tersebut diurai di dalam surat permohonan untuk mendapatkan status Justice Collaborator (JC) yang diajukan ke KPK, Jumat 29 Mei 2020 lalu. Di dalam dokumen itu dinyatakan bahwa telah ada niat yang sungguh-sungguh dari Syahbudin untuk memaparkan pengetahuannya tentang dugaan Tipikor. Berdasarkan keterangan Syahbudin, KPK dinilai telah menemukan petunjuk besar berikut bukti bahwa nominal dugaan Tipikor yang semula bernilai Rp1 miliar berkembang menjadi Rp100 miliar lebih.

“Tersangka Syahbudin tidak hanya menerangkan perbuatan kejahatan terkait Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK tangga 6 Oktober 2019 dimana penyidik menemukan transaksi uang senilai Rp 1 miliar terkait proyek pada Dinas PU-PR Kabupaten Lampung Utara. Tetapi atas pertanyaan penyidik tersangka telah mengakui perbuatannya termasuk telah mengakui menerima uang suap senilai Rp 2.282.403.500, dan juga tersangka telah menerangkan semua pihak yang terlibat dalam perbuatan korupsi mulai dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2019 sehingga diketahui uang suap yang diterima oleh Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangku Negara dalam kurun waktu tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 sebesar Rp 100.236.464.650, sebagaimana didakwakan oleh JPU KPK,” tulis Kuasa Hukum Syahbudin atas nama Pahrozi.

Apa yang dilakukan kliennya kemudian dinilai berdampak pada keluarga Syahbudin. Khususnya sang isteri, Rina Febrina. Dampak tersebut turut diuraikan oleh Pahrozi. Persoalannya mengenai adanya pesan singkat atau SMS bernada pengancaman kepada Rina Febrina. Keterangan terhadap SMS dinyatakan telah dialami oleh Rina Febrina pada tanggal 27 Mei 2020.

“Bahwa tanggal 27 Mei 2020 berdasarkan informasi yang kami terima dari istri terdakwa Syahbudin bernama Rina Febriani. Rina Febrina sering mendapat sms yang berisi “mayyyyaat” dari orang yang tidak dikenal menggunakan nomor handpone 0823 0658 XXXX. Akibatnya terdakwa dan istrinya ketakutan dan sangat mengkhawatirkan ancaman tersebut, karena itu kami akan segera membuat laporan dan permohonan kepada LPSK,” jelas Pahrozi.

Hingga kini apa yang dialami oleh Rina Febrina tersebut belum diketahui apa motif sebenarnya. Identitas dari pemilik nomor tersebut pun sampai saat ini belum dapat diuraikan. “Sampai sekarang kita belum tahu siapa dan mengapa bisa terjadi seperti itu,” ucap Pahrozi kepada Fajar Sumatera, 30 Mei 2020.

Rina Febrina juga ikut memberikan kesaksian selama persidangan untuk suaminya berjalan di Pengadilan Negeri Tipikor Tanjungkarang. Tercatat, Rina Febria sudah dua kali menjadi saksi yang dihadirkan KPK dan memberikan keterangan: 9 Januari 2020 dan 2 April 2020.

Selama mengikuti persidangan, majelis hakim merasa terheran-heran dengan kesaksian Rina Febrina menyoal tentang adanya dugaan aliran uang ke isteri para pejabat tinggi di Pemerintah Kabupaten Lampung Utara. Dugaan aliran uang itu diberikan Rina Febrina dengan konteks Tunjangan Hari Raya (THR).

Kesaksiannya itu turut membuat isteri dari terdakwa Agung Ilmu Mangkunegara yakni Endah Kartika Prajawati dihadirkan sebagai saksi. Endah Kartika Prajawati tak hanya diberi THR, termasuk uang untuk membeli pampers; baju renang; beli susu anak dan lain-lain.

Mendengar kesaksian Rina Febrina tersebut, Agung Ilmu Mangkunegara tidak menyangkal. Namun nominal uang yang diduga diberikan dalam bentuk THR tersebut dinilai Agung Ilmu Mangkunegara terlalu dilebih-lebihkan. Menurut Agung Ilmu Mangkunegara saat memberikan bantahan, jumlah uang yang diutarakan Rina Febrina tidak sampai pada angka Rp60 juta, tetapi hanya Rp40 juta.

Endah Kartika Prajawati harus menerima panggilan dari KPK sebagai saksi, nasibnya tidak seberuntung isteri pejabat tinggi lainnya yang kebagian THR dari Rina Febrina. Sebab selain Endah Kartika Prajawati, isteri pejabat lainnya juga disebutkan. Tiba akhirnya Endah Kartika Prajawati dimintai keterangannya di persidangan pada 22 April 2020. Saat itu ia mengkonfirmasi bahwa benar uang yang diberikan Rina Febrina berjumlah Rp60 juta dalam tiga kali pemberian.

Agung Ilmu Mangkunegara pada 27 Mei 2020 ketika memberikan keterangan sebagai terdakwa mengakui jumlah Rp60 juta sebagai nilai uang yang diberikan oleh Rina Febrina. (Ricardo Hutabarat)

Agung Ilmu Mangkunegara Kasus Korupsi Agung Ilmu Mangkunegara Kasus Korupsi Lampung Utara KPK Rina Febrina

Posting Terkait