Mengatasi Banjir di Lampung

Hampir  tiap tahun Provinsi Lampung mengalami musim banjir yang bermacam-macam jenisnya. Ada banjir biasa, ada banjir bandang, ada banjir yang tidak terduga serta banjir yang sifatnya permanent. Tahun ini, sejumlah kabupaten dan kota di ProvinsiLampung sudah dua kali mengalami kebajiran, yakni dua bulan lalu, dan kemarin.

Banjir tahun ini sudah diprediksi oleh BMKG. Potensi banjir tahun ini sangat besar. Bahkan untuk sejummlah kabupaten mengalami banjir bandang besar.

Demikian juga daerah-daerah lainnya. Prediksi BMKG ternyata benar. Banyak sungai yang meluap. Beberapa daerah seperti Semaka, Pesawaram Lampung Timur, Mesuji, Tulangbawang, dan lainya terkena dampak banjir.

Minggu-minggu sekarang air sungai maupun banyak meluap. Beberapa daerah di terserang bencana banjir. Tinggi air hingga mencapai 1 meter. Bahkan bulan lalu, tercatat 7 orang tewas.

Yang lebih memprihatinkan adalah jalan utama atau jalan protocol diterjang banjir. Dampak yang terlihat adalah truk-truk yang mengangkut bahan makanan, macet total.

Pasokan bahan-bahan sembako juga terhambat. Penyeberangan terganjal oleh gelombang laut yang tingginya hingga mencapai 4-5 meter, sehingga walaupun ada kapal, namun tidak bisa jalan ke laut, diterjang ombak. Produksi ikan juga turun.

Bahan-bahan dari Lampung untuk Jawa dan sebaliknya dari Jawa ke Sumatra, semuanya terhambat, hingga ada bahan makanan yang membusuk.

Apa yang terjadi adalah banjir ternyata membawa dampak pada perekonomian rakyat. Apa yang terjadi di lapangan dewasa ini adalah menunggu-menunggu dan menunggu suatu ”kepastian”.

Situasi banjir di Lampung semakin parah. Meskipun pemerintah di kabupaten dan kota bahkan Pemerintah Provinsi Lampung sudah berupaya mengatasi banjir, tetapi kenyataan di lapangan sangat susah diprediksi dan diperbaiki.

Kesalahan utama adalah rancangan terhadap normalisasi sungai dan kini banyak hutan di Lampung yang gundul.  Seperti dikatakan oleh Sukri (50), warga Pekon Srikuncoro Semaka, banjir ini di akibatkan dampak hutan gundul dan kuranya normalisasi sungai.

Kerugian perekonomian secara makro dan mikro terjadi akibat bajir. Bahkan tidak mustahil keluh-kesah yang dilontarkan Pemerintah Pusat, Pemda, Masyarakat luas serta DPR maupun DPRD, tidak bisa menjawab untuk mengatasinya.

 

Oleh karena itu perlu ada pemikiran ulang terhadap rencana dan rancangan pembangunan di Provinsi Lampung,  khususnya untuk pembangunan dan upaya mengatasi banjir.

Sebuah kawasan atau pun daerah yang tidak memiliki rencana dan rancangan tata-kota yang baik, akan menimbulkan berbagai dampak terhadap perekonomian rakyat serta tumbuhnya kriminalitas serta tumbuhnya rasa ketidakpercayaan kepada pemerintah daerah.

Posting Terkait