NGUPI PAI – Tentang Memaafkan di Era Komunikasi Digital

Suryani One Amin

Lebaran identik dengan permintaan maaf. Entah muasalnya dari mana dan mulai kapan. Mungkin karena penganut Islam berharap janji Fitri sebagai imbalan setelah melalui masa ujian Ramadhan. Semua berharap kembali suci. Ibarat bayi yang lahir tidak bernoda atau mulai dari nol – seperti saat mengisi tanki bahan bakar di SPBU . Nah, salah jalan menuju suci dalam konteks hubungan antar manusia adalah membebaskan diri dari kesalahan terhadap orang lain. Caranya dengan meminta maaf. Sebaliknya, memberi maaf mensucikan diri dari residu marah, kesal dan mungkin dendam yang pernah ada. Dengan itu, fitrah diharapkan menjelang. Maka manusia demikian akan keluar sebagai “pemenang” yang dijanjikan Allah.

Niscaya, berhamburanlahlah secara massif ucapan maaf. Lewat banyak media sosial, lewat banyak pesan teks yang disebarluaskan ke banyak kontak , kelompok pertemanan sekaligu. Melalui rupa-rupa aplikasi penyampai pesan.

Lantas, apakah kita benar-benar memafkan. Atau apakah kita benar tulus berniat untuk minta maaf. Apakah ucapan selamat dan kalimat maaf bernada religius, romantik, puitis dan mendayu-dayu betul mewakili mewakili pesan yang hendak kita sampaikan. Ataukah tidak lebih dari teks-teks yang disalin dan disebarluaskan dengan mudah. Seringkali serupa dengan yang lain. Bahkan tanpa sempat kita baca dan maknai dengan teliti. Kemudian tanpa kita ketahui, dihapus segera oleh si penerima karena memenuhi kotak pesannya. Pertanyaan kontemplatif berikut, kepada siapa kita sebetulnya kita hendak meminta maaf dan apakah kita juga benar memaafkan dan dimaafkan.

Baca Juga:  Ini Sebabnya Saat Lebaran Susah Sinyal

Sesuatu yang berulang dan disebarkan secara massif, cenderung terdegradasi maknanya . Ini memang bukan zaman dimana kartu Lebaran dipilih dengan teliti, dibeli, ditulis dengan tandan tangan, diposkan dan diberi perangko. Lalu kita berjalan dibawah terik matahari dalam kondisi berpuasa menuju kantor pos terdekat. Mengirimkan satu persatu kartu yang kita punya. Jumlah kartu, menandai sejumlah itulah kawan dan kerabat terdekat yang kita punya. Karena untuk mereka, prioritas kita berikan dari sejumlah uang yang kita punya untuk membeli kartu. Ingatan romantisme masa itu selalu berulang tiap kala Lebaran menjelang.

Ini zaman dimana segala kemudahan komunikasi ada dalam genggaman. Pesan apapun bisa sampai segera dengan mudah. Hanya dengan menekan tombol ketik di papan elektronik telepon genggam. Jelas tidak ada yang salah dengan itu. Teknologi hadir untuk memudahkan urusan manusia. Disebut sebagai kecerdasan buatan yang dibenamkan dalam gawai. Namanya juga kecerdasan buatan, mustahil ia memiliki emosi yang dipunyai manusia.

Baca Juga:  Bupati Lambar Pantau Pelayanan Publik Usai Libur Lebaran

Tidak ada yang salah dengan menyalin pesan, mengirimkannya ke banyak kontak sekaligus. Tidak ada yang salah juga dengan memilih menyalin pesan yang sangat amat puitik , panjang ataupun teks seefisien mungkin. Tidak ada yang salah juga, memasang gambar sekeluarga berucap maaf di media sosial. Meski tanpa kita ketahui kepada siapa dialamatkan. Anggap saja dialamatkan pada semua pembaca pesan.

Hanya saja, rasa-rasanya kita perlu sentuhan yang lebih personal. Agar pesan maaf benar keluar dari hati dan diterima dengan hati. Perlu juga untuk ingat kepada siapa kita berinteraksi, pada mereka peluang kesalahan paling mungkin terjadi. Atau bahkan kita mungkin masih ingat , kepada siapa kita pernah salah berucap dan bertindak. Maka kepada merekalah permintaan maaf utama perlu ditujukan. Pertemuan langsung mungkin lebih bermakna jika realistik untuk diupayakan. Bagi penerima pesan, masih bisa berusaha agar pesan tidak kehilangan makna. Dengan menerimanya sebagai permohonan maaf yang tulus, dan kesalahan dihapus dengan tulus pula . Bahkan bila kita tak ingat siapa pengirim pesan dan kapan terakhir kali bertemu.

Baca Juga:  PWI Metro Antilibur Sampaikan Informasi ke Masyarakat

Di hari-hari setelah lebaran, pesan lebaran dan ucapan maaf penuh. Tanpa beban, kita hapus agar tidak membebani memori gawai yang kita punya. Bersamaan dengan itu, kita tak tahu apakah permintaan maaf kita diterima dan apakah kita benar telah memaafkan. Tahun depan, jika diberi umur, tinggal mengulang berikirim pesan. Sambil menduga-duga perkembangan yang terjadi di teknologi penyampai pesan. Akan sampai sedahsyat apakah ia.

Maafkan saya kalau sudah sok tahu dan sok bijak dengan pesan tak penting dalam tulisan ini . Sekedar pengingat kecil agar memafkan tidak kehilangan maknanya. Selamat merayakan hari Raya Lebaran, selamat berkumpul, semoga Fitrah benar tergapai.

*Sosiolog, penulis lepas, bekerja di Jakarta

Lebaran Suryani One Amin Tentang Memaafkan

Posting Terkait