Petani Kopi Butuh Bantuan Modal

 

Ilustrasi. (Ist)

 

BANDARLAMPUNG—Asosiasi Suplayer Kopi Lampung (ASKL) menilai sejumlah masalah masih menerpa para petani kopi di Lampung. Selain harga kopi yang tidak stabil, para petani kopi juga dihadapkan pada masalah permodalan.

“Petani kopi masih kesulitan dari sisi permodalan. Untuk itu kita akan membantu hal tersebut, dengan cara mengajukannya ke bank dan jasa keuangan lainnya. Kami juga mau mengajak para perusahaan yang ada di Lampung, agar bisa membantu para petani kopi, melalui dana CSR nya,” kata Ketua ASKL yang baru, Mulyadi dalam acara pengukuhan ketua dan anggota baru periode 2017-2020, Sabtu (8/4).

Dalam kesempatan itu puluhan anggota juga secara simbolis menerima kartu tanda anggota dan sertifikat untuk para anggota. ASKL dibentuk untuk mengembangkan kopi Lampung, terutama kopi robusta yang merupakan kopi asli Lampung.

Mulyadi bilang, organisasi  yang ia pimpin ini akan berkomitmen untuk meningkatkan penjualan dan kualitas petani kopi bersama eksportir Lampung. Pihaknya akan bekerjasama dengan pemerintah, Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) juga eksportir petani Lampung.

“Kedepan ASKL akan bekerja keras untuk berkontribusi meningkatkan perekonomian dan APBD Provinsi Lampung,” ujarnya.

Nantinya, anggota ASKL juga akan didaftarkan ke Dinas Perdagangan, Dinas Perkebunan dan Peternakan Lampung. Dengan memiliki KTA, berarti mereka telah resmi bergabung di asosiasi ini.

“KTA bukan untuk adu kekuatan dan kepentingan politik sebab ASKL tidak boleh berpolitik,” kata dia.

Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Lampung Juprius mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi untuk melaksanakan kegiatan peningkatan kuantitas produksi dan kualitas petani kopi robusta di Lampung.

“Kalau kopi tidak ada, eksportir dan suplayer tidak ada,  maka melalui ASKL bersama AEKI punya tujuan yang sama, yaitu bagaimana meningkatkan kopi, mulai dari produksi di tingkat petani, hingga mencari inovasi citarasa kopi, ” kata dia.

Provinsi Lampung merupakan penghasil kopi terbesar di dunia, bahkan Vietnam kini lebih unggul dengan memproduksi 2 juta ton per tahun. Padahal Vietnam belajarnya di Indonesia. Oleh sebab itu, organisasi ini dibentuk untuk bisa membina dan melakukan pelatihan petani seperti cara penanaman yang bagus, sehingga menghasilkan kualitas kopi terbaik.

Tahun lalu, Lampung sendiri berhasil melakukan ekspor kopi robusta sebesar 400 ribu ton per tahun dengan transaksi Rp10-15 triliun. Jika penghasilan kopi terus meningkat, maka bisa membantu pemerintah dalam hal pemasukan pendapatan daerah.

“Kopi robusta jelas memberikan kontribusi besar bagi kesejahteraan dan perekonomian masyarakat Lampung,” imbuhnya.

Asosiasi kopi akan bersinergi, untuk mencari formula mengembangkan nikmat kopi, nanti juga akan mengajak barista dalam hal meracik sehingga menghasilkan cita rasa kopi.  Dari satu biji yang sama bisa menghasilkan rasa yang berbeda melalui berbagai teknik.

“Gedung AIKI akan dibangun istana kopi bekerjasama dengan barista Lampung dan pengurus inti dari ASKL untuk menjadikan tempat tersebut sebagai pusat kopi Lampung sebagai upaya inovasi,” tuturnya.

ASKL yang melakukan pemasaran di Indonesia, Lampung merupakan penghasil kopi robusta terbaik, saat ini hasil produksi petani kopi semakin menurun,  maka kita akan bekerjasama dengan dinas terkait untuk berusaha  meningkatkan produksi kopi di Lampung.(IH)

 

Posting Terkait