Petani Kopi Perlu Peningkatan Wawasan

Petani Kopi

Ilustrasi. (net)

LIWA—Lampung Barat terkenal dengan produksi kopi robustanya yang tinggi dan menjadi penyumbang terhadap produksi kopi nasional. Selain bertani sayuran, sebagian besar masyarakatnya juga berprofesi sebagai petani kopi.

Namun sayangnya, meski kopi asal Liwa ini sudah terkenal dan diekspor ke mancanegara, nilai tawar produksi biji kopi di Lampung Barat justru masih rendah. Penyebabnya lantaran kualitas biji kopi yang dihasilkan masih asalan.

Kadis Perkebunan dan Peternakan Lampung Barat, Tri Umaryani mengatakan, banyaknya biji kopi asalan yang dihasilkan lantaran petani memiliki keterbatasan pengetahuan dalam penanganan pasca-panen.

Baca Juga:  Nestle Komitmen Sejahterakan Petani Kopi

“Petani umumnya tidak memahami tentang bagaimana cara menghasilkan biji kopi kering yang memenuhi standar jual. Biji kopi yang dihasilkan umumnya masih kualitas asalan sehingga nilai jualnya rendah,” kata dia dalam kegiatan pembinaan melalui temu bisnis yang diikuti perwakilan pelaku usaha kopi, petani dengan menghadirkan tim CSR dari perusahaan PT Torabika untuk pembinaan, Kamis (1/3).

Tri menambahkan, masalah lainnya berupa masih terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki petani. Saat menjemur hasil panen petani kebanyakan menggunakan media tanah.

Baca Juga:  Nestle Komitmen Sejahterakan Petani Kopi

“Masih banyak petani yang menjemur kopinya di atas tanah secara langsung. Akibatnya kualitas biji kopi yang dihasilkan juga berpengaruh,” kata dia.

Disamping itu, dalam proses perawatannya, petani masih menggunakan racun rumput secara terus-menerus untuk mengatasi gulma. Inilah yang menyebabkan kualitas tanah menurun dan berimbas pada tanaman kopi itu sendiri.

Atmo dari tim CSR PT Torabika, menjelaskan, pihaknya siap untuk memberikan pembinaan kepada para petani maupun pihak pelaku usaha kopi dalam menentukan kualitas biji kopi standar.

Baca Juga:  Nestle Komitmen Sejahterakan Petani Kopi

Ia menjelaskan, biji kopi yang ditampung PT Torabika, sifatnya juga masih asalan tapi ada standar minimal dan maksimalnya dengan harga basis Rp27 ribu/kg bergantung dengan kualitasnya.

Adapun standar maksimal biji kopi yang diterima PT Torabika yaitu biji hitam 1,28%, biji busuk 10,97%, biji pecah 3,35%.(*)

 

biji kopi masih asalan kopi liwa Petani Kopi

Posting Terkait