PLN Evaluasi Petugas Meteran 

PLN

Ilustrasi. (Ist)

BANDARLAMPUNG—PT. PLN Distribusi Lampung sedang menjadi sasaran kekecewaan warga terkait membludaknya nilai tagihan listrik dalam beberapa bulan terakhir. Pihak manajemen pun mengakui membengkaknya angka tagihan bisa disebabkan kesalahan petugas pencatat meteran.

“Pembaca meteran bisa saja salah dalam merekam foto meteran listrik. Listrik tetap dipakai, namun belum ditagihkan,” kata Supervisor Humas Manajer Hukum dan Humas PT PLN (Persero) Distribusi Lampung, Bernadus Hernawan Herta.

Ia mengatakan, pembengkakan biaya tersebut karena adanya stan tumpuk (tak terbaca di sistem) dan penghilangan subsidi. Stan tumpuk itu terjadi, karena kWh meteran tidak terbaca dengan jelas.

Sebelumnya, warga Bandarlampung kembali mengeluhkan besaran iuran listrik yang membengkak drastis dari biasanya. Kenaikannya bahkan lebih dari 500 persen.

Seorang warga Sukajaya, Rajabasa Jaya menuturkan, pada April lalu ia hanya membayar tagihan sebesar Rp494 ribu untuk tagihan yang dibayarkan dengan kWh sekitar 300 dengan daya 900 VA. Namun alangkah kagetnya ia saat mengetahui tagihan pada Mei mencapai Rp3 juta.

“Saat jadwal pembayaran listrik bulan Mei ini, saya dikenai biaya sekitar Rp3 juta. Saya sangat kaget lah, karena tidak seperti biasanya. Itu sangat memberatkan saya,” kata dia, Minggu (4/6).

Menanggapi ini, Tim pelayanan PLN Rayon Wayhalim di Jalan Raden Guanwan, Sari menuturkan, berdasarkan histori-nya ada penumpukan biaya karena meteran listrik yang difoto pihak pencatat tidak jelas.

“Tak terbaca meter listriknya selama lima bulan yang lalu dan akhirnya ditagihkan kebulan terakhir sampai dengan Rp 3 juta yang harus dibayarkan,” kata dia.

Sari pun mengatakan, pelanggan tersebut memang tetap dimintai untuk melunasi angsuran tersebut dengan cara diangsur.

Meski begitu, Ia mengakui bila kesalahan bisa dilakukan oleh petugas pencatat meteran.

“Dua bulan ini petugas baca meter sedang dievaluasi. Karena banyak kasus di lapangan, petugas tersebut “bermain”,” kata dia.

Masih lanjutnya, Bambang hingga saat ini mesih belum dapat membayarkan iuran listrik yang di lontarkan oleh PLN tersebut. “Belum ada uangnya, karena sangat besarnya iurana listrik saya” kata dia.

Menurut warga lainnya, Jeprianto, juga pernah mengalami hal serupa. Kejadian itu ia alami pada November tahun lalu. Saat itu, dirinya ditagih oleh pihak PLN sebesar Rp 25 juta sebulan.

“Karena terkejut sangat, saya langsung datang ke kantor PLN minta penjelasan. Jawaban mereka, ada rekening menumpuk. Kemudian, PLN mengkoreksi tagihan tersebut, sehingga membayar Rp 3 juta sesuai pemakaian beberapa bulan,” ujarnya.

Kendati demikian, warga Rajabasa Raya lainnya, Rian, mengaku sangat kecewa atas kebijakan yang diberikan oleh PLN yang menaikan tarif tidak transparan dan gelap.

Biasanya ia bayar listrik hanya Rp 300 ribu di awal tahun tapi bulan April saat dirinya membayar, dikenai bayaran sampai dengan Rp 1 juta.

“Mau tak mau sayapun harus membayar, sebab PLN mengatakan, ada beban listrik yang tak terbayarkan. Tapi setelah saya angsur semuanya, saya dikenakan biaya yang tak jauh seperti biasanya Rp300 ribu,” katanya.(JI)

Posting Terkait