PT Waskita Karya Gunakan BBM Bersubsidi

Ilustrasi (Ist)

PANARAGAN-PT Waskita Karya perusahaan nasional yang dipercaya untuk menggarap proyek jalan tol, ternyata dalam menjalankan alat beratnya yang digunakan untuk penggusuran lahan proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) di Tiuh (Desa) Bujungdewa Kecamatan Pagardewa Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) diduga menggunakan BBM jenis solar bersubsidi.

Menurut keterangan warga sekitar proyek JTTS tersebut, semenjak dimulainya proyek Jalan Tol Trans Sumatra hanya baru sekali mobil tengki BBM non Subsidi masuk ke lokasi dan itu juga belum lama ini.

“Sebelum mobil tangki BBM non Subsidi tersebut masuk ke lokasi, sering saya melihat mobil Pick-up Grand Max bermuatan BBM jenis solar yang diangkut menggunakan derigen masuk ke lokasi proyek dan BBM bersubsidi tersebut diturunkan ke rumah salah satu warga yang ada disekitar proyek,” ujar Wildan, warga sekitar, Selasa (2/5).

Baca Juga:  Menkeu Sri Mulyani Akan Hitung Ulang Subsidi Listrik dan BBM

Dari pantauan dilapangan, ditemukan sebuah rumah yang lokasinya terletak di Tiuh Lesung Baktijaya yang diduga sebagai tempat penampungan BBM bersubsidi yang digunakan untuk operasional alat berat PT Waskita Karya.  Dari keterangan dari salah satu sopir alat berat PT Waskita Karya, hampir setiap malam ada 3 unit mobil pick-up mengirim pasokan BBM jenis solar di dalam derigen dan disimpan dirumah mantan Kepala Tiuh Lesung Baktijaya.Alat berat tersebut dalam sehari bisa menghabiskan kurang lebih BBM sebanyak 300 liter.

Baca Juga:  Menkeu Sri Mulyani Akan Hitung Ulang Subsidi Listrik dan BBM

Sementara Kepala Proyek/Subkon Ngesti Widodo menyangkal telah menggunakan BBM bersubsidi,  “Saya ada rapat di Jakarta,  PT Waskita Karya tidak pernah menggunakan BBM bersubsidi dan aturannya jelas dalam penjelasan dengan rekanan-rekanan/Subkon harus pakai Solar Industri, jelas disampaikan saat awal mau menawarkan maupun tertuang dalam kontrak antara PT Waskita dan Subkon,” tegasnya.

Menanggapi BBM bersubsidi yang digunakan oleh perusahaan tersebut, Ketua LSM Jaringan Anti Korupsi Koordinator Tubaba Handri menegaskan, jika terbukti ada perusahaan yang menggunakan BBM bersubsidi maka perusahaan tersebut melanggar UU No 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi pasal 55 yang di ancam dengan hukuman pidana 6 tahun penjara dan dengan denda paling tinggi Rp60 Milyar.

Baca Juga:  Menkeu Sri Mulyani Akan Hitung Ulang Subsidi Listrik dan BBM

“PT Waskita Karya perusahaan yang mengerjakan proyek tol JTTS adalah perusahaan BUMN jadi tidak seharusnya menggunakan BBM bersubsidi dan PT Waskita Karya seharusnya membeli langsung ke Pertamina yang menyediakan BBM Solar nonsubsidi untuk Industri,” ujar Handri. (SP)

BBM Bersubsidi

Posting Terkait