Pura-pura Miskin

Ngupi Pai

Ngupi Pai Oleh: Riko Firmansyah

SALEH dan Wati saling berteriak, pagi itu. Pasangan suami istri itu mempermasalahkan biaya sekolah Roni, anaknya, di SLTP terbaik. Prinsipnya, bila ingin kualitas tentu biayanya lebih mahal.

Nah, itulah masalahnya. Wati menginginkan kualitas baik, tapi murah. Sementara Saleh berkeras agar disesuaikan dengan perekonomian. “Jangan tipu sekolah seperti itu. Kalau mampu bayar lunasi saja. Jangan diakal-akali,” tandas Saleh.

“Kalau bisa murah kenapa harus bayar mahal. Jangan sok. Hanya repot sedikit anak kita dapat pendidikan bagus,” jawab Wati, sambil berkaca-kaca.

Minak Tab menengahi. “Kalau cekcok usahakan tak dilihat dan didengar orang serta anak-anak,” pintanya.

“Saya tak suka dengan ide dia ini, Minak. Masak harus berpose dengan latar belakang gubuk liar di pinggir kali sana. Untuk bukti bahwa kami memang keluarga melarat bantat,” jelas Saleh.

Wati sudah tak bisa berkata jelas lagi. Raungan tangisnya mengalahkan suara yang ada. Bahkan gelegar halilintar sekalipun.

“Hei jangan menjerit-jerit! Bukan kamu aja yang bisa!” pekik Saleh, yang malah terdengar sayup-sayup di tengah raungan istrinya itu.

Minak Tab merangkul pundak Saleh dan mengajaknya menjauh.

“Sudah begini saja. Ikuti maunya. Tapi, beri tahu perlahan bahwa kelak cara itu akan terbongkar. Efeknya akan dirasakan Roni karena diledek teman-teman bahkan mungkin saja gurunya ikut mem-bully,” ujar Minak Tab.

Selain itu, untuk mengenyam pendidikan formal amat mudah. Asal sekolah itu dekat dengan rumah atau mengaku miskin dijamin diterima. Jadi, tak benar bahwa biaya pendidikan semahal itu.

“Anah, pantesan kidah. Orang-orang pada main palsu dengan membuat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) atau surat miskin,”  kata Saleh.

Pura-pura Miskin

Posting Terkait