Risiko Punya Bini Seumur

BANDARLAMPUNG

ilustrasi

-Pemerintah  menyarankan  usia pernikahan perempuan 21 tahun, sedangkan usia lelaki 25 tahun. Artinya usia minimal  selisih pasangan antara lelaki dan perempuan adalah empat tahun, Lalu, bagaimana kalau usia pasangannya sama. Konon, akan sering ribut. Bukti konon itu, ada di keluarga Darto-Darti, warga Tanjungkarang, Bandarlampung.

Padahal dalam sebuah pernikahan ada perekatnya, yakni sama-sama memenuhi kebutuhan biologis.  Tentu, kemesraan akan terjalin dengan, apalagi kalau romantis, kalau di tempat tidur.  Sebab baik suami maupun istri merasa sama-sama saling membutuhkan.

Jika istri sampai bersikap sekedar memenuhi kewajiban, pertanda bahwa rumah tangga itu sudah laksana di dalam kulkas. Paling celaka adalah istri yang dinginnya sampai nol derajat, tentu akan beku. Sementara suami masih menuntut haknya, istri sudah tak mau melayani dengan berbagai alasan. Rumahtangga pun di ambang kehancuran.

Darto (nama disamarkan), usia 47 tahun,  kini sedang dilanda problem multi dimensi. Dalam usia belum kepala lima, dalam urusan ranjang dia masih sangat menggebu-gebu. Sayangnya,  sang bini, sebut saja Darti  usianya sama dengan Darto, sudah tidak lagi mau melayani. Alasannya macam-macam. Yang capeklah, yang sedang “palang merah”-lah.

Ibarat kulkas tadi, lama-kelamaan bini seperti di dalam kuikas, lama-kelamaan juga itunya Darto beku, kaya es. Darto sering pusing manakala kedinginan.

Namun, Darti juga heran. Biasanya lelaki makin bertambah usia akan menurun sendiri gairahnya. Tapi Darto justru malah makin menanjak. Biasanya seminggu sekali, justru kini seminggu bisa minta dua kali sesendok makan.

Darti yang juga seorang pegawai di sebuah perusahaan swasta seperti suaminya, jadi kerepotan. Bagaimana mungkin, di kantor sudah kerja lembur, di rumah masih mau dilemburin  suami lagi.

Makin ke sini, Darti jadi semakin dingin. Jika dipaksakan juga, dia melayani suami  asal-asalan, pendek kata sebatas menjalani kewajiban. Di ranjang Darto seperti main dengan gedebong pisang karena sang bini sama sekali tak ada goyangnya. Tentu saja Darto kesal, ini istri atau gedebong pisang….?

Lain dengan urursan ranjang lain juga dengan urusan di luar ranjang. Tiap bulan Darti selalu menagih uang bulanan alias gaji.

Pernah Darto gajian agak telat. Lalu, Darti menanyakannya ke Darto, kenapa belum setoran gaji. Haknya mau, tapi kewajibannya ogah. Apa mungkin Darto harus mengembargo istri sendiri, yakni baru menyerahkan amplop gaji setelah Darti mau melayani. Ini kan tidak etis sebagai suami istri.

Untuk meningkatkan gairah istri, pernah Darti diberi jamu penambah gairah wanita. Tapi hasilnya sama sekali enggak ngepek, tetap saja Darti ogah melayani suami. Saking jengkelnya, Darto sampai mengancam akan kawin lagi kalau kelakuakn Darti di ranjang seperti gedebong pisang.

Darti tak bisa berbuat apa-apa manakala diancam suaminya berpoligami. Dia malah kabur ke rumah orangtua dengan mengajak anak-anak.

Melihat kelakuan sang bini, habis sudah kesabaran Darto, sehingga beberapa hari lalu terpaksa mengajukan pendaftaran perceraian ke pengadilan agama. Kecuali, sang bini mau berubah, goyang dikit saja, gak usah banyak-banyak, Darto mau membatalkan perceraian.  Risiko pernikahan seumur.

Posting Terkait